Minggu, 04 April 2010

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (5)

JERUK PURUT DITUSUK JARUM

Cerita yang satu ini rupanya ada kaitan erat dengan kebandelan saya yang tidak mau juga berhenti menggunakan komputer di ruang Ketua BAPPEDA tempat kami bertugas. Selalu mencuri kesempatan untuk belajar MS Word sekalipun sudah beberapa kali ditegur, bahkan dipermalukan di depan kawan-kawan.
Aksi pencurian kesempatan ini tiba-tiba harus berhenti. Bukan akibat bau kemenyan dan cerita horor yang menakutkan tetapi karena kepala tidak kuat menahan sakit yang luar biasa begitu menghadapi komputer. Rasa sakitnya tidak bisa terbayangkan karena baru kali itu dialami.
Saya hanya bisa memegang kepala erat-erat. Tusukan-tusukan sangat menyiksa dari ujung depan kepala sampai tengkorak bagian belakang. Tidak ada persediaan obat, tidak ada juga yang membantu saya segera keluar dari ruang khusus komputer itu. Hanya keajaiban yang saya harapkan bisa membantu.
Berbagai bacaan saya baca sebisanya sambil terus menahan sakit yang luar biasa. Sampai akhirnya komputer pun segera dimatikan. Tidak berapa lama, sakit pun lenyap dengan sendirinya.
Setelah istirahat beberapa lama, keinginan belajar pun kembali menguat. Komputer dihidupkan dan kembali mulai memadukan beberapa tips belajar dengan kenyataan. Namun, tidak berapa lama, serangan rasa sakit kembali mendera. Lebih sakit dari yang pertama.
Sungguh tidak dinyana, kalau rasa sakit tersebut pun lenyap begitu saja setelah komputer dimatikan. Saya berpikir, apakah efek radiasi sudah sedemikian membahayakan ? Mungkin karena kondisi badan yang sangat lemah akibat kurangnya asupan bergizi ?
Saya sempat tertidur sebentar di meja, ketika bangun badan terasa sangat segar. Keinginan belajar pun bangkit kembali. Tetapi, lagi-lagi kepala terasa pecah begitu komputer dinyalakan. Sakit, saki, sakit sekali rasanya.
Saya tidak kuat mematikan komputer, langsung meninggalkan ruangan sekalipun tidak pernah terpikirkan siapa yang akan menolong. Seperti biasa, di kantor yang sering jadi bahan cerita angker itu saya sendirian.
Alhamdulillah, tidak berapa lama rasa sakit pun hilang. Saya bisa menuju warung terdekat untuk membeli obat sakit kepala. Rasanya plong, sekalipun saya tahu resikonya pasti harus mengantuk. Berarti tidak bisa belajar lagi.
Hanya semangat belajar yang tinggi sajalah kalau akhirnya saya tidak berpikir untuk mengantuk sedikit pun. Tetapi, lagi-lagi kepala kembali terbelah rasanya begitu cahaya monitor menyorot. Sakit sekali.
Beruntunglah masih ada obat yang tersisa, saya pun menenggaknya sebutir lagi. Mungkin over dosis, tetapi saya pikir, kalau satu obat tidak terasa manfaatnya maka dua tablet akan mampu melawan rasa sakit itu.
Ternyata dua tablet pun tidak bisa mengusir rasa sakit itu sama sekali. Bahkan terasa lebih sakit daripada sebelum menenggak obat yang semula menjadi andalan saya. Badan menggigil menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Tengah malam, penjaga kantor datang. Kaget melihat saya yang hanya bisa tergolek lemah di depan komputer yang terus menyala. Saya dipapah ke ruang lain.
Ajaib, rasa sakit itu lenyap begitu saja. Saya sangat bugar dan lupa dengan beberapa kali penderitaan yang baru saja dialami. Semangat belajar pun kembali bangkit. Kaki terasa mengambang untuk segera kembali belajar !
“Mas, matikan saja komputernya !” Kata penjaga, “Kita istirahat saja.”
Sungguh, sebuah kesia-siaan kalau malam yang terbatas itu saya habiskan untuk melepas penat semata. Tetapi apa boleh buat, mungkin ada yang akan disampaikan oleh sahabat yang satu ini. Sebab tidak biasanya dia mengajak istirahat, sekalipun menjelang subuh saya masih asyik di depan komputer. Paling tidak, dia mengerti kondisi tubuh saya yang sangat lemah setelah beberapa malam kurang tidur.
Aneh juga, dia tidak segera tidur tetapi malah mengajak ngobrol. Saya pun menceritakan rasa sakit tak tertahankan yang beberapa kali terjadi. Juga obat yang tidak mampu lagi mengusir. Tidak lupa rasa aneh, karena sakit kepala itu hanya menyerang ketika saya bekerja di depan komputer.
Penjaga kantor hanya manggut-manggut mendengarkan cerita yang saya sampaikan dalam keadaan segar bugar tanpa sedikitpun keluhan di kepala.
“Mas,” katanya membuka kesepian, “Saya punya pengalaman dari orang lain yang mengalami kejadian serupa.”
Dia menceritakan tentang temannya yang pernah mengalami sakit kepala luar biasa ketika menghadapi suatu pekerjaan. Tetapi begitu pekerjaan itu ditinggalkan, sedikit pun rasa sakit tidak lagi menyerang.
Kejadian ini terus saja dia perhatikan, sampai akhirnya dia menceritakan kepada orangtuanya. Singkat cerita, diapun dibawa ke orang pintar. Sebuah jeruk purut ditusuk jarum berhasil diambil oleh orang pintar itu dari sekitar tempat kerjanya !
Jeruk purut itu menyimbolkan kepala, makanya kepala terasa ditusuk jarum dengan sakit tak tertahankan. Tuah dari simbol itu hanya berlaku bagi orang yang dituju. Oleh karena itu, tidak akan mempan kepada orang lain.
“Jeruk purut itu sudah kering dan membatu, jarum menembus di kedua sisinya.” Kata-katanya sungguh mengerikan namun sungguh tidak masuk akal, tetapi saya ingat tentang jeruk yang dikubur teman sekerja beberapa malam sebelumnya. Dia pun mengiayakan kalau ada hubungan antara keduanya.
Saat itu, tidak ada pemecahan masalah yang diberikan. Temannya merantau ke Jawa dan orangtuanya pun telah tiada. Tidak ada petunjuk dimana rumah orang pintar yang dapat dikunjungi. Satu-satunya jalan adalah, menghindari komputer itu untuk sementara.
Saya setuju dengan pendapatnya. Bukan berarti saya berhenti belajar, kesempatan itu saya manfaatkan untuk merancang cara menguasai materi dengan lebih praktis dan mudah.

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (4)

KOPI PAHIT YANG MENANTANG

Saya termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan gula. Cukup menguntungkan bagi kesehatan tubuh gemuk yang menurut orang rentan dengan penyakit diabetes. Setidaknya, tubuh gembul tidak semakin membengkak dan mengalami obesitas.
Memang sering ada kendala, terutama kalau sedang berada di Jawa Tengah dan Yogyakarta misalnya. Jangankan yang mananya teh manis, berbagai makanan pun terasa kelewat bergula. Kalau bertamu, sudah pasti air gula menjadi konsumsi yang selalu tersedia disamping kue-kue yang sudah pasti manis.
Banyaknya warung-warung makan milik orang Jawa Tengah di seluruh wilayah nusantara, terutama komunitas perdagangan nasi yang dikenal sebagai Warteg (Warung Tegal), satu sisi memudahkan masyarakat mendapatkan makanan murah tetapi di sisi lain pemasyarakatan makanan manis khas mereka. Warteg adalah tempat termudah dan termurah bagi saya untuk mendapatkan makanan sesuai dengan kemampuan kantong yang terbatas.
Salah satu yang selalu saya minta jika makan di warung itu adalah pembatasan gula di minuman. Teh tawar alias tanpa gula, dengan es ataupun panas saja. Sekali-sekali secangkir kopi, dengan sedikit mungkin gula, alias kopi pahit.
Kpoi pahit kegemaran ini memang bagi sebagian teman yang pernah merasakan sangat pahit. Satu cangkir 250 ml, diberi 3 sendok kopi dan langsung diseduh air mendidih. Cukup satu sendok gula ditambahkan sambil diaduk merata. Bagian atas gelas segera dipenuhi ampas yang mengambang dan busa kopi yang khas. Sangat sedap diseruput panas-panas. Segelas kopi pahit tidak akan bertahan lama, sudah habis sebelum hangat.
“Saya, kopi pahit, Mba!” Inilah kali pertama saya nongkrong di warung Pujakesuma (Putera Jawa kelahiran Sumatera) di depan kantor Bupati Tanah Datar, Sumatera Barat.
Sebagai bagian dari keluarga Jawa, Si Mba tentu langsung menghidangkan kopi yang dipesan, kopi dengan sedikit gula saja. Tetapi yang mengherankan adalah bahwa semua mata orang yang di warung terus memandang saya menyeruput kopi panas yang masih terlalu manis itu.
Ach, mungkin mereka merasa aneh saja. Bukan karena tidak ada yang minum kopi di pagi hari, ada beberapa, tetapi sebagian besar menikmati susu panas atau teh telur.
Perlu digambarkan disini bahwa yang disebut susu panas, memang benar-benar susu, satu gelas kecil setengahnya diisi dengan susu kental dan diseduh air panas. Tentu sangat manis dan tidak akan pernah terlalu panas, cuma hangat.
Sementara teh telur adalah, telur yang dikocok, diberi susu dan Nutrisari, baru diseduh dengan air teh kental. Minuman ini sangat khas rasanya, sedikit anyir yang tersisa. Lebih khas lagi karena minuman ini jarang dijual di luar Minangkabau, sekalipun rumah makan minang.
Setiap saya memesan kopi pahit, semua mata memandang. Termasuk teman semeja. Ada juga yang geleng-geleng kepala. Sementara saya hanya terssenyum menikmati hingga di gelas hanya tersisi ampas saja. Kadang-kadang saya protes, terlalu manis, dan mententeng gelas ke ruang dapur. Menambahkan satu-dua sendok kopi sampai rasanya sesuai selera.
Mungkin juga mereka merasa aneh melihat saya yang menyantap kue bawang dengan cabe rawit, langsung gigit. Tidak kurang dari sepuluh cabe rawit dihabiskan untuk menemani sebuah kue bawang. Mereka menyebut saya seperti merak. Ada juga yang terheran-heran, ada yang lebih doyan pedas dibandinga mereka.
Dari beberapa kali pertemuan di warung itulah muncul keanehan yang mungkin harus saya pahami, mengapa semua mata memandang ketika saya menghabiskan kue bawang plus cabe dan seduhan kopi pahit. Teman yang ditanya tidak mau menjawab, entah mengapa.
Tetapi pada suatu waktu, teman serumah kos, Endang Sumirat bercerita bahwa tidak boleh sembarangan kalau pesan minuman. Terutama kopi.
“Jangan sekali-sekali pesan kopi pahit !”
Tentu hal ini mengherankan, karena saya biasa memesan kopi kegemaran yang satu ini jika sarapan pagi.
“Bagi masyarakat beberapa daerah di sini, kopi pahit bisa dianggap menantang,”
“Kenapa ?”
Ternyata teman yang satu ini mendapatkan informasi dari rekan yang lain, kalau kita memesan kopi pahit nanti yang dihidangkan adalah kopi beracun. Pesanan kopi pahit hanya dilakukan oleh para jawara yang kebal terhadap racun. Biasanya dilakukan untuk menunjukan kekuatan dan kesaktian. Dengan kata lain, tantangan buat orang yang ada di sekitarnya.
Saya benar-benar berigidig mendengar ceritanya. Sungguh di luar dugaan, pantas saja semua mata memandang kalau saya menyeruput kopi pahit. Ternyata mereka bukan tertarik dengan tambulan cabe rawit, sama sekali tidak. Mereka terheran-heran dengan kopi yang dipesan.
Sama sekali tidak ada niatan untuk menunjukan kesaktian dan kekuatan, karena memang tidak punya. Apalagi menantang, sama sekali tidak terbesit sedikitpun dalam pikiran. Pesanan kopi pahit, murni hanya karena ketidaktahuan makna yang berbeda bagi masyarakat tempat tugas kami yang baru ini.
Sejak itulah saya tidak lagi menggunakan istilah kopi pahit, menggantikannya dengan kopi kental atau kopi dengan gula sedikit.
Atau, cukup mengatakan, “Kopi, biasa !”

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (3)

MALAM YANG MENEGANGKAN

Pertengahan tahun 1997 adalah awal saya bertugas di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar. Sekali lagi, kenangan terindah adalah karena saya sama sekali tidak tahu daerah tempat tugas itu. Bahkan di peta nasional pun, kabupaten berprestasi itu tidak disebutkan keberadaannya.
Suatu keberuntungan atau kebetulan kalau pada saat itu terjadi perubahan teknologi yang digunakan di kantor. Kalau dari mesin tik ke komputer sudah lama berlangsung. Keberhasilan yang utama tentu saja menganggap bahwa komputer itu sebagai mesin tik, alias tidak terlalu banyak membantu kecuali hanya sekedar tampak lebih rapih saja.
Perubahan teknologi yang terjadi saat itu adalah mulai digunakannya produk Microsoft Corporation. Untuk surat-surat dan produk lain yang ditandatangan Bupati, tidak lagi digunakan print-out dari WS. Ada operator khusus untuk mengoperasikannya, hanya satu orang. Komputer terbaru itu pun diletakkan di ruangan Ketua.
Sebuah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Berbekal buku-buku tentang Word saya mulai mencuri kesempatan untuk belajar sendiri. Menjelang isya saya pergi ke kantor, setahap demi setahap belajar secara mandiri.
Tidak jarang kantor jadi geger esok harinya, ada yang kehilangan file, ada yang merasa bahwa komputer akan cepat rusak karena dimatikan tidak sesuai dengan prosedur dan berbagai bentuk lainnya. Sampai pada suatu hari saya harus menerima semprot dari penanggungjawab.
“Kamu merusak komputer ya ?” Saya hanya bisa terdiam, “Tidak boleh menggunakan komputer di ruang Ketua selain operator khusus !” Lanjutnya dengan nada kesal.
Saya sangat menghargai beliau yang sangat patuh pada aturan, sesuai dengan Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berlaku. Tetapi saya sangat tidak setuju kalau ada larangan untuk belajar.
Itulah sebabnya, nasehat itu segera saya langgar malam harinya. Tentu bekal berbagai pengetahuan tambahan mengoperasikan Microsoft Word sudah disiapkan lebih terinci dan lengkap. Satu buku tebal teori sudah diringkas menjadi diagram alur yang sangat mudah dijalankan.
Namun ternyata tidak semudah ketika membaca dan meringkas isi buku, beberapa bagian menjadi sedikit berbeda dan membingungkan. Tetapi bukan itu yang menjadi masalah utama. Listrik tiba-tiba mati. Aktifitas pun harus segera berhenti. Waktu itu sekitar pukul 10 malam, tanpa penerangan sedikit pun. Ataupun teman, karena penjaga kantor sedang pulang dulu ke rumahnya. Seperti biasa, menjelang tengah malam beliau baru ke kantor lagi.
Bau kemenyam sangat menyengat. Kemenyan pertama yang saya cium di Ranah Minang. Kebetulan malam jum’at saja, pikir dalam hati untuk menenangkan diri. Tetapi rambut sekujur tubuh berdiri, merinding. Saya hanya bisa membaca surat-surat pendek dari Al-Qur’an yang terhafal. Merinding, merinding dan makin merinding. Kaki mulai bergetar.
Tidak terdengar suara apapun. Suasana sangat sepi dan mencekam. Memang kantor kami yang berada di samping Istana Pagaruyung itu, jangankan malam hari, siang pun hanya ramai pada saat jam kerja saja. Letaknya yang berada di tempat terendah di belakang Kantor Bupati yang megah membuat suasana semakin angker.
Berbagai cerita kejadian aneh di kantor yang diceritakan teman-teman membuat bulu kuduk makin merinding. Ada cerita tentang wanita cantik yang sering muncul menggoda penjaga kantor , berbagai penampakan lain yang sama sekali sebelumnya tidak pernah saya bayangkan dan sebagainya. Memang letak kantor sangat strategis untuk tinggalnya para dedemit, diapit oleh Istano Pagaruyung dan tanah kosong yang sangat luas. Tertindih kemewahan Kantor Bupati dan dibelakang berdiri tegar tebing curam tempat bersemayamnya para arwah leluhur.
Lebih dari satu jam listrik belum juga menyala. Di luar pun suasan begitu gelap gulita. Stres berat, menggigil, keringat dingin keluar tak tertahankan melawan kedinginan Kota Batusangkar yang menusuk tubuh.
Tiba-tiba listrik pun menyala, alhamdulillah. Semangat belajar segera melupakan kepul asap kemenyan serta berbagai rasa takut dan keringat dingin yang keluar. Belajar dan belajar, sampai akhirnya tengah malam pun datang menjemput.
Menjelang tengah malam, penjaga kantor datang. Tidak sedikit pun saya ceritakan tentang kejadian sangat menakutkan yang baru saja terjadi. Seakan semua tidak ada masalah.
Malam-malam senajutnya saya terus belajar untuk bisa menguasai Microsoft Word sampai akhirnya mereka yang semula mencaci akhirnya banyak minta tolong untuk dibantu pengetikan dengan komputer baru itu. Setiap permintaan bantuan yang mungkin bagi sebagian orang bisa dianggap merendahkan derajat itu, saya anggap sebagai bentuk praktek yang menantang untuk meningkatkan imu lagi.
Sikap pasrah inilah yang kemudian membuat penjaga kantor berterus terang, mengenang malam jum’at yang menakutkan itu tanpa ditanya sebelumnya.
“Malam itu, sekitar jam 11 saya ke sini melihat Mr. K sedang menggali di kegelapan,” katanya perlahan. “Saya hanya mengamati dari jauh sampai akhirnya dia pulang.”
Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cerita itu. Bahkan tidak terdengar suara apapun malam itu, kecuali suara burung malam yang membuat kegelapan menjadi lebih menakutkan.
“Begitu dia pulang,” lanjutnya, “Saya segera gali bekas galian Mr. K dan mendpatkan jeruk.”
Saya semakin tidak mengerti arti semua itu, “Langsung saya kencingi dan buang jauh-jauh !”
Lagi-lagi saya menjadi makin bodoh dan tidak mengerti, “Kalau saja tidak ketahuan, bisa-bisa Mas langsung KO!”
Sekali lagi saya semakin bodoh, tidak mengerti dan tidak bisa berpikir cerdas seperti penjaga kantor.
“Mas, siangnya ada masalah kan dengan dia ?” Sebuah pertanyaan yang sama sekali mestinya tidak tida ketahui.
“Ach, nggak.”
“Nggak mungkin !”
Sungguh, akhirnya saya mengakui kalau pada kamis paginya beliau menegur dengan kata-kata keras. Intinya saya tidak boleh menggunakan komputer di ruang Ketua. Nanti rusak, kalau sudah rusak maka yang bertanggungjawab kepada pimpinan adalah beliau. Ketua akan marah kepada beliau !
Tetapi saya adalah orang bandel, tidak boleh memakai komputer itu malah menjadikannya untuk terus belajar. Bahkan malam hari setelah ditegur pun langsung melanggar.
“Itulah Mas, kalau tidak berani dari depan, mereka menusuk dari belakang !” Kata-kata ini pun membuat saya semakin tidak berpengetahuan.

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (2)

CELANA DALAM, KIRIMAN PEMBAWA PETAKA

Sebagai bagian dari institusi pusat, resiko yang harus ditanggung pegawai baru di luar Jawa saat itu adalah hidup tanpa gaji. Tidak lama, hanya 3 bulan saja. Waktu hampir seratus hari itu digunakan untuk proses administrasi dari tingkat unit kerja sampai Departemen Dalam Negeri sampai akhirnya kami menikmati gaji pertama.
Kalau saja keruyukan perut bisa diganjal atau malah tidak diisi selama beberapa hari, tentu saja uang tidak yang dibawa dari kampung halaman akan cukup untuk hidup. Tetapi tidak, kalau hal ini dijalankan tentu akan membawa ke jurang berpenyakit yang akan lebih mahal lagi pengobatannya. Oleh karena itu, salah satu cara menghemat adalah tidak menggunakan uang untuk pakaian.
Maka pada bulan ketiga keberadaan di tempat tugas itu saya dapat dua kiriman, uang tambahan Rp. 75.000,- dan juga bungkusan. Tidak ada orang yang peduli ketika saya menerima uang yang besarnya setengah gaji sebulan. Berbeda sekali dengan bungkusan yang terbalut kertas coklat. Semua mata memandang sinis, keakraban yang tercipta selama dua bulan seperti sudah dilupakan.
Saya sama sekali tidak mengerti tentang cara pandang mereka, bahkan merasa sangat tertekan ketika seorang sahabat baru yang selama ini sangat akrab tiba-tiba menjadi sangar dan bersuara paling keras.
“Kiriman apa, mas ?”
“Mungkin hanya sepatu.”
“Ach, tidak mungkin !” Selanya. “Ayo dibuka !”
Sungguh hal ini sama sekali tidak dapat saya percaya, ketika saya menolak untuk membuka, mereka pun memaksa dan berhamburanlah segala isinya. Selimut, beberapa potong baju dan celana serta dalaman. Setelah itu, semua bubar begitu saja. Saya semakin tidak mengerti dengan sikap mereka.
“Kata saya juga apa !” Sahabat itu berkata dengan kerasnya.
Pergaulan akrab penuh persaudaraan yang selama itu tercipta seperti lenyap ditelan bumi. Saya sama sekali tidak mengerti mengapa semua ini harus terjadi. Tidak ada juga orang yang mau menjelaskan tentang apa yang menyebabkan mereka bersikap menjauh dari saya yang makin kebingungan.
Saya menyimpan kejadian yang membuat pergaulan menjadi tidak wajar itu sebagai kenangan sampai pada akhirnya seorang sahabat menjelaskan bahwa dimana pun orang merantau maka pantang dikirim pakaian.
Dan lebih mengejutkan, kalau ada pendapat bahwa kiriman yang saya terima, terutama celana dalam, bermakna ‘tantangan’ dan jangan kaget kalau di suatu saat banyak tantangan dan halangan yang menghadang.
Sungguh, sama sekali tidak ada niat untuk itu semua. Hanya demi menghemat rupiah yang sudah sangat menipis lah bingkisan itu hadir. Mungkin tidak ada yang percaya, tetapi kami merasakan sendiri kehidupan yang melebihi batas keprihatinan.
Tiga bulan pertama memulai tugas di Batusangkar, sekali lagi tanpa gaji sekalipun pada bulan ke-empat dapat rapelan, jangankan untuk membeli pakaian, makan pun super irit. Mulai dari merubah selera dari Indomie ke Supermie, sampai akhirnya ke mie keluaran baru yang harganya seperlima dari produk yang biasa dimakan.
Upaya mengirit yang sampai sekarang tidak pernah dilupakan adalah ketika hampir semua persediaan habis, nasi pun hanya beras yang direbus penggorengan sampai akhirnya menjadi nasi liwet yang kelewat berair. Sebagai lauknya, sangat mengundang selera, bawang merah dan cabe rawit. Kedua bahan mentah dicacah dan ditaburi garam. Rasanya sangat enak dan menyegarkan, sekaligus mengenyangkan.
Dengan kehidupan seperti itu selama lebih dari sebulan, tentu tidak lah mungkin saya mampu membeli keperluan lain. Itulah jalan hidup yang mesti dilalui karena memang sangat berarti.
Kembali kepada celana dalam, ketidakmengertian persepsi yang berlaku umum di sanalah yang menyebabkan kiriman itu terjadi. Tanpa niat lain, karena dari awal saya sudah diberi bekal bahwa tempat tugas yang baru adalah daerah percontohan otonomi daerah terbaik di Indonesia. Masyarakatnya taat agama, patuh pada adat dan merupakan daerah asal beberapa tokoh nasionalis dan agamis.
Di balik ketidakmengertian, saya sangat berterimakasih kepada isteri dan keluarga yang dengan susah payah mengirimkan paket sederhana itu, diiringi sejumlah uang pula. Tentu saja do’a yang tidak pernah ada hentinya.
Oleh karena itu saya segera dapat melupakan berbagai kejadian yang mengiringi pengiriman paket dan terus merajut persaudaraan. Dalam waktu singkat, secara kasat mata, suasana akrab kembali tercipta sebagaimana sebelumnya.

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (1)

PERKENALAN DENGAN UKA-UKA

Sungguh hanya karena Allah memberikan yang terbaik bagi kami-lah kalau pada akhirnya saya harus bertugas jauh dari anak isteri. Berbekal Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri saya berddua dengan Endang Sumirat mengunjungi tempat yang sebelumnya tidak pernah kami ketahui, Kabupaten Tanah Datar. Bahkan di peta Indonesia nama ini tidak kami temukan. Oleh karena itu, ancer-ancer kami adalah Propinsi Sumatera Barat semata.
Singkat kata, kami pun akhirnya bertugas di Tanah Datar. Sebuah kabupaten dengan wilayah datar amat sedikit, hanya 5 prosen saja ! Di sanalah kami bertugas menjadi pengabdi rakyat untuk pertama kalinya. Banyak pelajaran diperoleh yang menjadi bekal bagi kami setelah pindah tugas di tanah kelahiran.
Namun demikian, pelajaran bukan semata hanya soal pekerjaan. Pelajaran yang sama sekali tidak akan dapat diperoleh dengan mudah adalah kehidupan yang ternyata penuh dengan misteri. Kehidupan yang sarat dengan uka-uka.
Mungkin sebagian orang akan mencemooh apa yang saya ceritakan, ada juga yang percaya dan tidak sedikit yang sangat mencaci sekalipun di balik layar menjalani.
Perjalanan menuju puluhan tulisan yang saya rencanakan berawal dari suatu kepercayaan. Sangat berarti bagi saya ketika mendapat seorang pejabat untuk menunggui rumahnya. Beliau dan keluarga ada acara keluarga di Jakarta selama beberapa hari. Kepercayaan inilah yang sangat berarti bagi kehidupan saya selanjutnya di luhak nan tuo.
Dibandingkan dengan rumah sekitarnya, di komplek perumahan dekat dengan terminal Batusangkar, rumah beliau relatif menonjol. Sudah direnovasi dengan meninggalkan bentuk rumah asli yang tinggal sedikit. Halaman rumah di depan cukup untuk parkir mobil dan disamping rumah pun terdapat tanah kosong yang dijadikan taman.
Tetapi ada yang aneh dengan taman di sisi rumah itu. Kalau siang seakan biasa tanpa masalah, tetapi kalau malam menjelang tampak relatif kelam. Padahal lampu yang menyinari cukup terang, 25 watt. Sangat terang untuk memberi sinar pada luasan yang tidak terlalu luas itu.
Tetapi hal itu tidak terlalu saya pikirkan karena memang kegiatan ‘penungguan’ terjadi di dalam rumah saja. Lagi pula tidak ada akses jendela ataupun pintu ke taman itu, kecuali harus berputar dulu ke depan. Hanya bertekad memegang teguh kepercayaan kalau akhirnya saya memberanikan diri untuk tinggal di rumah itu selama beberapa hari.
Satu-dua hari pertama tinggal di rumah cukup bagus itu membuat saya punya pengalaman baru. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati acara di televisi, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar membuka. Tak ada angin, hujan di luar pun tidak, tentu saja merinding bulu di kuduk. Tetapi saya mencoba menguatkan diri, tidur adalah kuncinya. Kejadian ini terjadi berturut-turut di dua hari pertama.
Hari ketiga, seperti biasa saya merasa tenang. Kejadian malam sebelumnya hanyalah ilusi yang segera dapat dilupakan. Semua pun menjadi sangat damai dan aman, sampai akhirnya menjelang teng jam 12 malam di depan mata terkelebat seorang lari masuk ke kamar. Aku yang selalu tidur di kursi tamu kontan mengejar bayangan itu, dan memang hanya sebuah bayangan yang akhirnya berhasil saya lupakan dengan mimpi indah sampai adzan subuh menjelang.
Paduan kedua kejadian silih berganti sampai akhirnya saya pun dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan. Sekali lagi, hanya tekad memegang amanah yang diberikan saya terus tinggal di rumah itu sampai penghuninya datang.
Saya menjadikan pengalaman hampir seminggu tinggal sendiri di rumah itu sebagai arsip kenangan yang tidak dipublikasikan. Cukup disimpan dalam hati. Kalaulah saya sampaikan, saya takut pemiliknya nanti malah terbirit-birit ketakutan atau bahkan sebaliknya menjadi bahan olok-olokan karena sama sekali jauh dari logika yang sehat.
Tetapi, dugaan sayalah yang sama sekali tidak benar. Beberapa hari setelah beliau datang dari Jakarta. Pada suatu malam saya diajak mengantar beliau ke suatu tempat yang sama sekali sangat asing. Menembus gelap pekarangan, jalan tanah yang sempit serta juga jurang dan tebing.
“Kamu percaya enggak dengan hal-hal yang aneh ?”
“Apa tuh, Pak ?”
“Kejadian-kejadian yang aneh di rumah saya.” Katanya, “Ada yang bilang dibuat orang tertentu.”
“Saya percaya, karena saya mengalaminya sendiri.”
Akhirnya saya pun bercerita banyak tentang yang saya alami di rumahnya, termasuk gelapnya taman sempit yang sudah diberi penerangan yang cukup itu. Beliau pun balik menceritakan tentang berbagai gangguan yang sudah menimbulkan berbagai penyakit dan ketenteraman penghuni rumahnya.
Hampir tengah malam, saya sampai di tujuan. Tidak terlalu banyak kata yang dapat saya mengerti dari percakapan yang dilakukan. Tetapi dalam hitungan menit, kami diajak Si Bapak ke suatu ruangan.
Di atas batok kelapa terdapat sebuah paku jureh (ukuran besar) dan selembar kulit lunak. Paku sepanjang dua belas sentimeter itu sudah berkarat. Sedangkan kulitnya mirip cecek (kulit) yang masih mentah, tanpa rambut/bulu, penuh dengan tanah. Lagi-lagi saya tidak mengerti ketika Si Bapak menjelaskan makna dari temuannya itu.
Tetapi di tengah jalan saya hanya mendapat informasi dari beliau bahwa dua barang itu diambil dari samping rumahnya. Keduanya dikirim oleh orang-orang yang tidak senang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki sekarang. Tidak disebutkan siapa mereka, ciri-cirinya sekalipun.
Saya tidak bertanya terlalu banyak sampai pada akhirnya, di atas jembatan beliau membuang benda yang ditemukan tersebut di air yang mengalir.
Perlu digambarkan di sini bahwa beliau bukanlah orang yang sembarangan, di balik kesederhanaannya terdapat keseriusan dalam berpikir dan bertindak karena beliau adalah tamatan PTN bergengsi kelas dunia dengan latar belakang keagamaan yang di atas rata-rata. Isterinya pun tidak kalah intelek, seorang dosen PTN Islam. Kedua keluarga asalnya, selain merupakan tokoh adat juga merupakan tokoh agama pembaharuan yang sangat disegani.
Saya menyimpulkan bahwa gangguan yang datang atas bantuan ghaib bisa diterima siapa saja, termasuk mereka yang tidak pernah lepas dari wudlu sekalipun. Kejadian aneh yang membahayakan orang lain pun ternyata bukan hanya milik orang daerah tertentu di Pulau Jawa. Di tanah kelahiran HAMKA pun ternyata kejadian itu jelas-jelas ada. Tinggal kitanya, mau tidak mengakui bahwa keghoiban itu memang merupakan bagian dari kehidupan yang Allah berikan.

ACH, BULLSHIT ?

Sekali lagi, mungkin sudah ditakdirkan dari sononya kalau separuh kehidupan saya tidak jauh dari keanehan yang jauh dari logika. Sebutlah dalam bahasa yang mudah diingat sebagai santet. Sebuah fenomena yang oleh orang yang merasa dirinya modern dianggap sebagai mistik, sesuatu yang mustahil terjadi.
Sebagian dari pembaca mungkin akan mengatakan, “Tidak percaya !”, “Mustahil bin mustahal !”, “Klenik binti klenuk !” berbagai kata-kata lain yang menunjukkan ketidak-percayaan sampai umpatan, “Ach, Bullshit !”
Tetapi perlu diketahui bahwa perjalanan saya dalam mengalami kehidupan bernuansa uka-uka ini justeru berawal dari kehidupan di negeri yang terkenal fanatisme agama warganya sangat tinggi, demikian juga pola pikirnya dalam alam Islam modern. Sekalipun di sana saya dianggap hanya terpengaruh oleh budaya kejawen, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidaklah demikian.
Saya mengenal dunia hitam dari seorang sahabat, intelek lulusan PTN bergensi di Jawa Barat sebagai kelanjutan dari pendidikan awalnya di sebuah PTN di Kota Padang. Mereka hidup dalam keluarga yangluar biasa agamis, fanatik pada satu aliran islam modern. Sekali lagi, saya mulai mengenal dunia seperti itu dari beliau yang galau dengan berbagai gangguan di rumahnya.
Saya dan dua orang sahabat berdarah Jawa pun pada saatnya mengalami kejadian yang lebih menggetirkan, mulai sakit-sakit yang masih terobati oleh dokter sampai hal-hal di luar kewajaran serta ancaman yang mematikan. Seorang sahabat kami harus pergi ke alam barzah setelah sebelumnya meregang sakit dan derita tanpa tahu obatnya. Cobaan ini terus berlanjut sampai akhirnya saya diizinkan untuk mengurus pindah ke Pulau Jawa.
Kehidupan di tanah air kecil ini pun ternyata tidak lepas dari pengaruh yang secara akal sehat sulit dipikirkan itu. Padahal semula saya beranggapan bahwa di Indramayu orang-orang (terutama para pegawai) hanya menggunakan ilmu-ilmu seperti itu untuk pengasihan dan sebangsanya. Tetapi kenyataannya tidak, berbagai kejadian mengiringi, mulai dari yang efeknya tidak seberapa sampai yang bisa berakibat fatal dan mematikan.
Perkenalan saya dengan mistik dimulai ketika menolak menjadi bendaharan proyek milyaran rupiah. Kejadian aneh dimuali dari berjatuhannya kotoran kutu kayu dari langit-langit tanpa tanda-tanda lebih lanjut. Tetapi pada akhirnya, munculah kejadian luar biasa. Seorang raksasa masuk ke dalam tubuh, menguasai mulut dan berbagai organ lainnya.
Langkah-langkah kehidupan selanjutnya tidak juga berhenti beriring dengan berbagi keanehan. Penderitaan dan penyakit yang sering tanpa sebab serta tanpa obat yang jelas. Kapan dan bagaimana bisa disembuhkannya, lebih tidak jelas lagi.
Berbagai penyakit, mulai dari sekedar gata-gatal di kulit sampai menutup badan. Pernah juga kondisi badan sangat tidak menentu sampai harus menginap sepuluh hari di rumahsakit tanpa diketahui penyakitnya, berbagai penyakit silih berganti dituduhkan dan diobati. Sebuah eksperimen orang modern yang sangat menyakitkan karena setelah berbagai macam terapi dilaksanakan tanpa hasil, seorang tua memberi saran untuk memakan nanas. Alhamdulillah, badan segera terasa segar dan berbagai tanda yang menempel di kulit pun lenyap begitu saja.
Dokter-dokter dan dokter, acara mingguan yang pernah saya sekeluarga alami. Penyakit silih berganti, macam penyakit sekaligus penderitanya juga. Anak, isteri dan saya sendiri, lebih dari dua tahun mengalami kejadian yang sangat tidak diinginkan itu.
Tentu saja ada bosannya, apalagi menyadari bahwa berbagai obat yang diminum selama ini suatu saat akan terakumulasi menjadi sesuatu yang membahayakan diri. Obat tradisional sering menolong sekalipun pengaruhnya relatif lamban. Namun, biar lambat tetapi aman.
Seperti waktu hidup di Minangkabau, sekarang pun saya menemukan orang yang mempunyai kemampuan yang mirip. Ternyata berbagai bahan yang tidak disangka sebelumnya ada di sekitar rumah ada dimana-mana, di balik tempat tidur, di kamar mandi, di bawah pot bunga, di balik lemari sampai di atas langit-langit.
Perjalanan mengalami sendiri berbagai kejadian tersebut itulah yang saya coba ungkap dalam beberapa tulisan di : www.teluh.blogspot.com ini. Untuk memudahkan alur pikiran saya dalam menulis maka tulisan ini dibagi dalam 2, yaitu pengalaman misterius selama bertugas di Minangkabau Sumatera Barat dan setelah pulang ke Tanah Air Kecil tercinta, Indramayu.

LANJUTKAN ....

Pembaca mungkin ada yang pernah berkunjung ke www.hiduppenuhmisteri.blogspot.com, di sanalah beberapa tulisan ini dulunya saya paparkan. Namun kemudian blog itu saya tutup mengingat sulit dilacak keberadaannya oleh pembaca. Oleh karena itu, supaya lebih gampang diingat, dikunjungi, dan didididididididi lainnya oleh pembaca maka digantilah menjadi blog yang satu ini.
Tentu saja selain memuat tulisan tua, blog ini juga akan sedapat mungkin memuat berbagai pengembaraan kehidupan pribadi saya selanjutnya. Penuh keganjilan dan ketidak-logisan.
Tetapi itulah hidup, mudah-mudahan saya terus bisa menulis di sini dan tetap LANJUTKAN ...!