BUYA YANG PANDANG BULU
Jangan berpikir kalau orang yang disebut dengan kata “Buya” itu harus orang yang sangat fasih dalam agama seperti Buya HAMKA misalnya. Sama sekali tidak, orang muda yang cukup bisa menyampaikan walau satu ayat pun pantas dipanggil Buya. Dan ketika ucapan itu terdengar maka penggunanyapun semakin meluas.
Demikia juga Buya Anu yang menolongteman saya dengan perantaraan beras dan kunyitnya itu. Umurnya baru sekitar 30 tahun, penampilannya sama sekali tidak menunjukkan beliau ahli agama. Cuma, memang sekali-sekali beliau mengisi acara di surau dan mesjid.
Seperti cerita sebelumnya, Buya Anu, memberikan obat yang sanat mujarab. Tentu atas izin Allah semata. Teman serumah itu pun tidak perlu lagi menahan sakit, apalagi berdiam diri di balik selimut sepanjang hari. Dia sudah masuk kerja sebagai mana biasa.
Saya pun pernah menceritakan bahwa saya sebenarnya sudah merasakan sakit yang tak terhingga itu lebih dahulu. Itulah saya sangat ingin berobat ke Buya Anu, mudah-mudahan dapat sembuh sebagaimana sediakala.
Itulah sebabnya sepulang kantor saya menyempatkan menuju rumah Buya Anu. Saya pun menceritakan penderitaan saya yang sangat menyiksa beberapa minggu ini.
“Akh, berobat ke dokter saja !’
“tetapi, Buya,” saya memohon, “Saya sudah berobat ke dokter, sama sekali tidak ada perubahan. Malah meakin sakit.”
“Tidak !” Sahutnya, “Pergi ke dokter saja. Saya tidak bisa menolong Anda.”
Sungguh kata-kata terakhirnya sangat menyesakan dada, namun apa daya saya sedang perlu pertolongan. Apa boleh buat, saya gagal mendapat pertolongan. Kata-kata itu sedemikian melekat dan mengundang tanya yang semakin besar, “Mengapa tidak mau menolong ?” “Bukankah orang yang menerjuni dunia seperti itu tidak akan pilih-pilih dalam menolong orang ?”
“Betapa tidak adilnya Buya yang satu ini.” Kataku dalam hati, “menolong saja harus pilih-pilih.”
Tetapi apakah saya harus ke dokter ? Tidak, justeru pengobatan medis membuat saya semakin sakit dan tersiksa.
Rabu, 07 April 2010
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (14)
KOK KAMU BISA HIDUP ?
Sebuah pertanyaan yang selayaknya tidak usah pernah didengar siapapun, apalagi dilontarkan oleh kita kepada siapapun. Sangat tidak manusiawi !
Tetapi itulah kenyataan hidup, pertanyaan itu terucap begitu saja dari seorang sahabat dan ditunjukkan kepada teman serumah saya. Memang badannya sangat kurus, pucat pasi dan berjalan pun gemetar. Tetapi apapun alasannya, pertanyaan itu sama sekali diucapkan. Apalagi oleh seorang teman sekantor !
Ketika itu kami baru bubar apel pagi, jalan menanjak menuju kantor Bupati dan selanjutkan ke tempat kami bertugas. Kemiringan jalan mendekati 100 % atau 45 derajat. Lumayan curam, tetapi sangat lazim di Kabupaten Tanah Datar yang hanya 3 % wilayahnya saja yang datar itu.
Di saat badan terasa sangat kelelahan, menggandeng teman yang lebih parah yang dipaksakan untuk menanjak tiba-tiba seorang sahabat mendahulu dan dengan ringan berucap, “Kok kamu bisa hidup !”
Ama sekali bukan lelucon, karena dia pun meninggalkan begitu saja kami yang sedang tergopoh kelelahan dan kebingungan, mengapa orang yang sudah seminggu tidak bertemu dengan kami itu berkata demikian. Dari wajahnya pun terpancar mimic kesinisan yang sangat serius.
Tetapi itulah kehidupan, penuh dengan warna. Kami pun tidak terlalu mempermasalahkan pertanyaan yang sangat menyakitkan itu. Apalagi mencurigai yang macam-macam. Sama sekali tidak. Buktinya, sesampai di kantor kami bertegur sapa dan bersendagurau sebagaimana biasa. Tanpa masalah yang mengganjal.
Terlepas dari itu semua maka pertanyaan di atas sesungguhnya sama sekali tidak boleh terucap. Semua manusia mempunyai hak dan peluang yang sama untuk menikmati oksigen gratis pemberian Yang Maha Kasih ini.
Sebuah pertanyaan yang selayaknya tidak usah pernah didengar siapapun, apalagi dilontarkan oleh kita kepada siapapun. Sangat tidak manusiawi !
Tetapi itulah kenyataan hidup, pertanyaan itu terucap begitu saja dari seorang sahabat dan ditunjukkan kepada teman serumah saya. Memang badannya sangat kurus, pucat pasi dan berjalan pun gemetar. Tetapi apapun alasannya, pertanyaan itu sama sekali diucapkan. Apalagi oleh seorang teman sekantor !
Ketika itu kami baru bubar apel pagi, jalan menanjak menuju kantor Bupati dan selanjutkan ke tempat kami bertugas. Kemiringan jalan mendekati 100 % atau 45 derajat. Lumayan curam, tetapi sangat lazim di Kabupaten Tanah Datar yang hanya 3 % wilayahnya saja yang datar itu.
Di saat badan terasa sangat kelelahan, menggandeng teman yang lebih parah yang dipaksakan untuk menanjak tiba-tiba seorang sahabat mendahulu dan dengan ringan berucap, “Kok kamu bisa hidup !”
Ama sekali bukan lelucon, karena dia pun meninggalkan begitu saja kami yang sedang tergopoh kelelahan dan kebingungan, mengapa orang yang sudah seminggu tidak bertemu dengan kami itu berkata demikian. Dari wajahnya pun terpancar mimic kesinisan yang sangat serius.
Tetapi itulah kehidupan, penuh dengan warna. Kami pun tidak terlalu mempermasalahkan pertanyaan yang sangat menyakitkan itu. Apalagi mencurigai yang macam-macam. Sama sekali tidak. Buktinya, sesampai di kantor kami bertegur sapa dan bersendagurau sebagaimana biasa. Tanpa masalah yang mengganjal.
Terlepas dari itu semua maka pertanyaan di atas sesungguhnya sama sekali tidak boleh terucap. Semua manusia mempunyai hak dan peluang yang sama untuk menikmati oksigen gratis pemberian Yang Maha Kasih ini.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (13)
KUNYIT PAK KIYAI
Sesuai dengan amanat Pak Tua yang membantu kami dengan peran goloknya itu, saya berusaha mencari orang yang bisa membantu penderitaan kami. Entah memang karena sudah jalannya, saya pun menemukan sebuah informasi awal yang ternyata tidak jauh dari tempat kami bekerja.
“Tanya ke Ibu Anu saja ya.” Kata seorang sahabat, “Suaminya bisa mengobati yang begituan!”
Teman yang ditunjuk adalah teman baik kami, sekalipun saya boleh bersombong bahwa hampir semua pegawai di Pemda Tanah Datar adalah teman baik. Kami sering berinteraksi karena kebetulan fungsi tempat kerjanya sangat dekat dengan tempat kami bekerja. Selain itu, tempatnya juga sangat dekat, tidak lebih dari 20 meter saja !
Tetapi sungguh beliau sangat arif dan rendah hati, “Ke Buya Anu saja ya …. Suami saya pun kalau ada permasalahan sering datang ke sana.”
Berbekal alamat yang diberikan, saya menuruni bukit dan melintasi tanah kosong yang sangat rindang dan sejuk. Alhamdulillah, yang dicari ketemu dan dengan senang hati menerima kami.
Plong ! Hati pun terasa lega, mudah-mudahan teman yang sedang tak berdaya di rumah dapat pertolongan segera. Saya pun menceritakan tentang penderitaan teman yang luar biasa parahnya itu dan beliau menanggapinya dengan tenang. Terbetiklah sebuah harapan, dapat sehat wal afiat seperti sediakala.
“Saya shalat dulu, Pak !” Kata Buya memasuki kamar khusunya.
Setelah lebih dari setengah jam saya menunggu, beliaupun keluar dari ruangan. Di tangannya ada sedikit beras dan sepotong kunyit. Tidak banyak yang dikatakannya kecuali, “Segera dihaluskan dan diberikan kepada temannya !”
Saya pun segera pulang tanpa basa-basi. Di rumah, sahabat terbaikku sedang bergulat dengan penderitaannya. Pesan dari Buya saya laksanakan dan Alhamdulillah teman yang sangat menderita inipun seakan mempunyai tenaga untuk keluar dari selimut.
Hari itu, mie rebus yang tentu saja rasanya pahit dimakannya. Tambahlah sumber tenaganya sedikit. Badannya berangsur segar dan terlihat sedemikian bugar, twentu saja dibandingkan beberapa hari sebelumnya !
Beberapa jam kemudian, sahabat yang satu ini kelihatan begitu sehat dan segar. Besoknya pun memberanikan masuk kantor sekalipun dengan badan yang masih sangat lemah.
Kesembuhan teman itu pula yang akhirnya menjadikan saya berinisiatif untuk meminta pengobatan dari Buya Anu, pada suatu saat nanti.
Sesuai dengan amanat Pak Tua yang membantu kami dengan peran goloknya itu, saya berusaha mencari orang yang bisa membantu penderitaan kami. Entah memang karena sudah jalannya, saya pun menemukan sebuah informasi awal yang ternyata tidak jauh dari tempat kami bekerja.
“Tanya ke Ibu Anu saja ya.” Kata seorang sahabat, “Suaminya bisa mengobati yang begituan!”
Teman yang ditunjuk adalah teman baik kami, sekalipun saya boleh bersombong bahwa hampir semua pegawai di Pemda Tanah Datar adalah teman baik. Kami sering berinteraksi karena kebetulan fungsi tempat kerjanya sangat dekat dengan tempat kami bekerja. Selain itu, tempatnya juga sangat dekat, tidak lebih dari 20 meter saja !
Tetapi sungguh beliau sangat arif dan rendah hati, “Ke Buya Anu saja ya …. Suami saya pun kalau ada permasalahan sering datang ke sana.”
Berbekal alamat yang diberikan, saya menuruni bukit dan melintasi tanah kosong yang sangat rindang dan sejuk. Alhamdulillah, yang dicari ketemu dan dengan senang hati menerima kami.
Plong ! Hati pun terasa lega, mudah-mudahan teman yang sedang tak berdaya di rumah dapat pertolongan segera. Saya pun menceritakan tentang penderitaan teman yang luar biasa parahnya itu dan beliau menanggapinya dengan tenang. Terbetiklah sebuah harapan, dapat sehat wal afiat seperti sediakala.
“Saya shalat dulu, Pak !” Kata Buya memasuki kamar khusunya.
Setelah lebih dari setengah jam saya menunggu, beliaupun keluar dari ruangan. Di tangannya ada sedikit beras dan sepotong kunyit. Tidak banyak yang dikatakannya kecuali, “Segera dihaluskan dan diberikan kepada temannya !”
Saya pun segera pulang tanpa basa-basi. Di rumah, sahabat terbaikku sedang bergulat dengan penderitaannya. Pesan dari Buya saya laksanakan dan Alhamdulillah teman yang sangat menderita inipun seakan mempunyai tenaga untuk keluar dari selimut.
Hari itu, mie rebus yang tentu saja rasanya pahit dimakannya. Tambahlah sumber tenaganya sedikit. Badannya berangsur segar dan terlihat sedemikian bugar, twentu saja dibandingkan beberapa hari sebelumnya !
Beberapa jam kemudian, sahabat yang satu ini kelihatan begitu sehat dan segar. Besoknya pun memberanikan masuk kantor sekalipun dengan badan yang masih sangat lemah.
Kesembuhan teman itu pula yang akhirnya menjadikan saya berinisiatif untuk meminta pengobatan dari Buya Anu, pada suatu saat nanti.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (12)
MIE PAHIT KESUKAANKU ….
Demam berbilang minggu, hanya mau dan tidak mau hidup dalam kemul tebal selimut. Saya dan teman saya alami, sama persis berbagai gejala yang ditimbulkan. Demikian juga dugaan dokter yang menjadi tempat kami berharap sembuh. Typhus, lagi-lagi penyakit itulah yang menjadi kambing hitam.
Memang patut diakui, bahwa saat itu kami benar-benar mendapatkan apa yang kami harapkan dulu. Dulu melamar pekerjaan dan didapatlah pekerjaan itu. Tidak tanggung-tanggung, sering bermalam di kantor, subuh pulang dan beberapa jam kemudian harus sudah apel pagi jam 7 teng.
Makan tidak teratur, mungkin saja dugaan yang satu ini benar. Juga berbagai kelelahan yang bertumpuk membuat kondisi tubuh memang harus istirahat total. Tetapi, upaya ke dokter ternyata bukanlah solusi yang tepat. Seperti diceritakan sebelumnya, setiap obat dikonsumsi maka saat itulah penderitaan baru dimulai. Mulai perut yang makin tak karuan sampat demam yang semakin menggigil dan mengeluarkan isi perut yang memang kosong dari mulut.
Kembali kepada penderitaan yang kami berdua rasakan, waktu terjadinya hampir bersamaan. Selang satu minggu saja, sayalah yang mengalami kejadian itu duluan. Penderitaan yang membuat saya hampir tidak bisa beranjak dari tempat tidur.
Tetapi, bagaimanapun juga saya merasa harus bisa menghidupi diri sendiri. Di rumah kontrakan itu, kami berdua adalah laki-laki yang meninggalkan anak istreri untuk pekerjaan. Sesuai dengan keinginan semula, melamar pekerjaan ! Oleh karena itu segala aktivitas, mulai dari ke pasar sampai menyediakan masakan untuk makan sehari-hari dilakukan sendiri.
Saat sakit yang penuh penderitaan pun kegiatan rutin harus tetap dijalankan kecuali mau makin mengkombinasikan penderitaan dengan kelaparan. Herannya, apa pun yang dimasak, selalu saja perut ini menolak. Bahkan sebenarnya, mulut put tidak mau kompromi. Rasanya pahit ! menjadi jauh lebih pahit ketika makanan itu dikunyah.
Itulah sebabnya di kepala segera terbayang nikmatnya makanan favori, mie rebus. Makanan instant inilah yang memang saya gemari semenjak puluhan tahun sebelumnya. Bukan hanya karena praktis tetapi juga murah meriah.
Tetapi apa daya, mie rebus pun ternyata sama pahitnya dengan makanan yang lain. Makin ditelan, rasa pahit semakin dalam. Perut pun berontak menerimanya. Beerapa kali harus dikeluarkan dan pada saat yang sama saya menahannya dengan penuh penderitaan.
Praktis selama seminggu, hanya mie rebus itulah yang menjadi menu harian yang masih mengisi hari-hari sakit. Tentu saja air putih tak ketinggalan, sekalipun kota tempat kami tinggal sangat sejuk namun saya berusaha minum sebanyak-banyaknya. Itulah cara yang harus ditempuh kalau mau bertahan hidup !
Konsumsi mie pahit itulah ternyata yang membedakan saya dengan teman kontrakan. Mie pahit itu pulalah yang menyebabkan saya cukup bisa bertahan hidup atau bahkan membantu mencari pengobatan ketika teman satu-satunya ini harus diobati secara serius.
Mie pahit itu pula yang menyebabkan saya mempunayi semangat hidup lebih. Sehat dan sangat sehat, dibandingkan dengan teman serumah yang sangat perlu pertolongan karena badannya yang kurus semakin kering, tanpa isi.
Mie pahit, terimakasih karena peranmulah perut tidak terlalu keroncongan dan penderitaan kami berdua semakin pahit.
Demam berbilang minggu, hanya mau dan tidak mau hidup dalam kemul tebal selimut. Saya dan teman saya alami, sama persis berbagai gejala yang ditimbulkan. Demikian juga dugaan dokter yang menjadi tempat kami berharap sembuh. Typhus, lagi-lagi penyakit itulah yang menjadi kambing hitam.
Memang patut diakui, bahwa saat itu kami benar-benar mendapatkan apa yang kami harapkan dulu. Dulu melamar pekerjaan dan didapatlah pekerjaan itu. Tidak tanggung-tanggung, sering bermalam di kantor, subuh pulang dan beberapa jam kemudian harus sudah apel pagi jam 7 teng.
Makan tidak teratur, mungkin saja dugaan yang satu ini benar. Juga berbagai kelelahan yang bertumpuk membuat kondisi tubuh memang harus istirahat total. Tetapi, upaya ke dokter ternyata bukanlah solusi yang tepat. Seperti diceritakan sebelumnya, setiap obat dikonsumsi maka saat itulah penderitaan baru dimulai. Mulai perut yang makin tak karuan sampat demam yang semakin menggigil dan mengeluarkan isi perut yang memang kosong dari mulut.
Kembali kepada penderitaan yang kami berdua rasakan, waktu terjadinya hampir bersamaan. Selang satu minggu saja, sayalah yang mengalami kejadian itu duluan. Penderitaan yang membuat saya hampir tidak bisa beranjak dari tempat tidur.
Tetapi, bagaimanapun juga saya merasa harus bisa menghidupi diri sendiri. Di rumah kontrakan itu, kami berdua adalah laki-laki yang meninggalkan anak istreri untuk pekerjaan. Sesuai dengan keinginan semula, melamar pekerjaan ! Oleh karena itu segala aktivitas, mulai dari ke pasar sampai menyediakan masakan untuk makan sehari-hari dilakukan sendiri.
Saat sakit yang penuh penderitaan pun kegiatan rutin harus tetap dijalankan kecuali mau makin mengkombinasikan penderitaan dengan kelaparan. Herannya, apa pun yang dimasak, selalu saja perut ini menolak. Bahkan sebenarnya, mulut put tidak mau kompromi. Rasanya pahit ! menjadi jauh lebih pahit ketika makanan itu dikunyah.
Itulah sebabnya di kepala segera terbayang nikmatnya makanan favori, mie rebus. Makanan instant inilah yang memang saya gemari semenjak puluhan tahun sebelumnya. Bukan hanya karena praktis tetapi juga murah meriah.
Tetapi apa daya, mie rebus pun ternyata sama pahitnya dengan makanan yang lain. Makin ditelan, rasa pahit semakin dalam. Perut pun berontak menerimanya. Beerapa kali harus dikeluarkan dan pada saat yang sama saya menahannya dengan penuh penderitaan.
Praktis selama seminggu, hanya mie rebus itulah yang menjadi menu harian yang masih mengisi hari-hari sakit. Tentu saja air putih tak ketinggalan, sekalipun kota tempat kami tinggal sangat sejuk namun saya berusaha minum sebanyak-banyaknya. Itulah cara yang harus ditempuh kalau mau bertahan hidup !
Konsumsi mie pahit itulah ternyata yang membedakan saya dengan teman kontrakan. Mie pahit itu pulalah yang menyebabkan saya cukup bisa bertahan hidup atau bahkan membantu mencari pengobatan ketika teman satu-satunya ini harus diobati secara serius.
Mie pahit itu pula yang menyebabkan saya mempunayi semangat hidup lebih. Sehat dan sangat sehat, dibandingkan dengan teman serumah yang sangat perlu pertolongan karena badannya yang kurus semakin kering, tanpa isi.
Mie pahit, terimakasih karena peranmulah perut tidak terlalu keroncongan dan penderitaan kami berdua semakin pahit.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (11)
BATANG ANAK PISANG YANG MUJARAB
Seminggu hanyalah tujuh hari. Bukan waktu yang lama, terlalu singkat. Tetapi bisa juga merupakan waktu yang sangat lama, teramat lama. Apalagi kalau seminggu terus-menerus tidak bisa melepas diri dari selimut !
Seminggu sudah teman kost mengalami apa yang pernah saya derita. Hampir tidak ada makanan yang pernah masuk, kecuali terpaksa sebelum minum obat dari dokter yang lebih sering membuat badan makin lenenger ! Tidak mengherankan kalau badannya yang kurus semakin tampak hanya tulang berbalut kulit.
Ketidakhadiran teman yang satu ini di kantor tentu mengundang tanya beberapa teman. Ada keprihatinan, banyak yang menarik nafas membayangkan kalau hal yang sama terjadi pada mereka -saat jauh dari keluarga, sakit teramat keras. Satu diantara mereka ada yang menyarankan untuk bertanya kepada penjaga kantor.
Terdorong oleh rasa penasaran akibat berbagai obat yang justeru membuat badan sakit luar biasa, maka saran dari salah satu teman diikuti. Selepas ashar saya mengunjungi rumah mungilnya.
“Ada apa, Mas ?”
Saya pun menceritakan tentang teman kost yang tidak sanggup keluar dari selimut sama sekali. Teramat lama, dan makin menderita. Tanpa banyak tanya, beliau mengajak saya ke belakang. Menembus rumah dan pekarangan.
Di tengahpekarangan yang dikelilingi tanaman keras terdapat sebuah gubuk. Seorang lelaki separuh baya menambut kedatangan kami dengan ramah. Keduanya terlibat pembicaraan yang sangat serius.
“Begini, Mas.” Si Bapak memulai pembicaraan, “Kalau golok ini berhenti, berarti Ya!” Katanya sambil menggerakan golok di atas batu asahan.
“Apakah sakitnya akibat dibuat orang ?” Golok tiba-tiba tidak dapat digerakkan. Berarti betul kalau sakit teman kost saya bukan sembarang sakit, tentu menurut versi Si Bapak. Kemudian ditanyakan tentang orang yang berbuat, ciri-ciri –bentuk rambutnya, wajah dan sebagainya.
“Apakah di kantor ada teman yang ciri-cirinya sama dengan yang disebutkan ?”
Saya hanya bisa mengangguk. Kata-katanya sama sekali tidak terbantahkan karena beliau juga menyebut inisial namanya. Sungguh tidak terpikirkan oleh akal sehat, karena lelaki yang tinggal sendiri di gubuk itu sama sekali tidak mengenal teman-teman kami.
“Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Mas,” katanya merendah, “Kirimannya sangat kuat. Nanti segera cari orang yang kuat melawannya.” Lagi-lagi saya hanya bisa menganggukan kepala.
Beliau langsung meninggalkan kami, mengambil sebatang anak pisang yang masih kecil. Mencacah batang pisang dan membacakan beberapa kalimat yang tidak saya mengerti pada air putih di gelasnya dan memberikan keduanya pada saya.
“Sesampai di rumah, segera balurkan air ini ke seluruh tubuh temannya.” Saya hanya mengangguk dan berucap terimakasih. “Jangan lupa, segera cari orang yang kuat !”
Sesampai di rumah, pesan pertamanya segera saya laksanakan. Dalam sekejap, badan teman saya langsung kelihatan segar dan sanggup menghabiskan makanan yang telah saya siapkan. Alhamdulillah, segar sekali.
Pesan beliau untuk mencari orang yang lebih kuat, kami bicarakan dengan serius. Maklum, sama-sama tidak tahu dan mengerti tentang berbagai keanehan yang dialami ini. Terbesit beberapa rencana, walaupun rencana yang masih buta. Tanpa petunjuk sama sekali.
Tetapi yang jelas, sore itu obat dari dokter tidak lagi diminum. Tidak mau lagi makin menderita !
Seminggu hanyalah tujuh hari. Bukan waktu yang lama, terlalu singkat. Tetapi bisa juga merupakan waktu yang sangat lama, teramat lama. Apalagi kalau seminggu terus-menerus tidak bisa melepas diri dari selimut !
Seminggu sudah teman kost mengalami apa yang pernah saya derita. Hampir tidak ada makanan yang pernah masuk, kecuali terpaksa sebelum minum obat dari dokter yang lebih sering membuat badan makin lenenger ! Tidak mengherankan kalau badannya yang kurus semakin tampak hanya tulang berbalut kulit.
Ketidakhadiran teman yang satu ini di kantor tentu mengundang tanya beberapa teman. Ada keprihatinan, banyak yang menarik nafas membayangkan kalau hal yang sama terjadi pada mereka -saat jauh dari keluarga, sakit teramat keras. Satu diantara mereka ada yang menyarankan untuk bertanya kepada penjaga kantor.
Terdorong oleh rasa penasaran akibat berbagai obat yang justeru membuat badan sakit luar biasa, maka saran dari salah satu teman diikuti. Selepas ashar saya mengunjungi rumah mungilnya.
“Ada apa, Mas ?”
Saya pun menceritakan tentang teman kost yang tidak sanggup keluar dari selimut sama sekali. Teramat lama, dan makin menderita. Tanpa banyak tanya, beliau mengajak saya ke belakang. Menembus rumah dan pekarangan.
Di tengahpekarangan yang dikelilingi tanaman keras terdapat sebuah gubuk. Seorang lelaki separuh baya menambut kedatangan kami dengan ramah. Keduanya terlibat pembicaraan yang sangat serius.
“Begini, Mas.” Si Bapak memulai pembicaraan, “Kalau golok ini berhenti, berarti Ya!” Katanya sambil menggerakan golok di atas batu asahan.
“Apakah sakitnya akibat dibuat orang ?” Golok tiba-tiba tidak dapat digerakkan. Berarti betul kalau sakit teman kost saya bukan sembarang sakit, tentu menurut versi Si Bapak. Kemudian ditanyakan tentang orang yang berbuat, ciri-ciri –bentuk rambutnya, wajah dan sebagainya.
“Apakah di kantor ada teman yang ciri-cirinya sama dengan yang disebutkan ?”
Saya hanya bisa mengangguk. Kata-katanya sama sekali tidak terbantahkan karena beliau juga menyebut inisial namanya. Sungguh tidak terpikirkan oleh akal sehat, karena lelaki yang tinggal sendiri di gubuk itu sama sekali tidak mengenal teman-teman kami.
“Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Mas,” katanya merendah, “Kirimannya sangat kuat. Nanti segera cari orang yang kuat melawannya.” Lagi-lagi saya hanya bisa menganggukan kepala.
Beliau langsung meninggalkan kami, mengambil sebatang anak pisang yang masih kecil. Mencacah batang pisang dan membacakan beberapa kalimat yang tidak saya mengerti pada air putih di gelasnya dan memberikan keduanya pada saya.
“Sesampai di rumah, segera balurkan air ini ke seluruh tubuh temannya.” Saya hanya mengangguk dan berucap terimakasih. “Jangan lupa, segera cari orang yang kuat !”
Sesampai di rumah, pesan pertamanya segera saya laksanakan. Dalam sekejap, badan teman saya langsung kelihatan segar dan sanggup menghabiskan makanan yang telah saya siapkan. Alhamdulillah, segar sekali.
Pesan beliau untuk mencari orang yang lebih kuat, kami bicarakan dengan serius. Maklum, sama-sama tidak tahu dan mengerti tentang berbagai keanehan yang dialami ini. Terbesit beberapa rencana, walaupun rencana yang masih buta. Tanpa petunjuk sama sekali.
Tetapi yang jelas, sore itu obat dari dokter tidak lagi diminum. Tidak mau lagi makin menderita !
Senin, 05 April 2010
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (10)
OBAT TYPHUS YANG BIKIN MAMPUS
Seminggu sudah teman serumah, Endang Sumirat, hidup dalam selimut. Badannya kurus kering, apalagi memang dari semula sudah kurus. Mukanya pucat pasi, wujud kepasrahan terhadap penyakit yang sangat menyiksa.
Seperti sudah diceritakan sebelumnya, berobat ke dokter juga ditempuh sekalipun hasilnya tidak makasimal. Namun tidak patah arang. Mungkin belum cocok saja, berobat ke dokter juga cocok-cocok-an kok.
Berdasarkan informasi dari rekan di kantor, ada dokter yang biasanya selalu memberikan obat yang ampuh. Mantan dokter yang bertugas di kepolisian. Dari latar belakang dan pengalamannya dapat diperkirakan bahwa beliau akan memberi pasiennya obat yang mujarab.
Ba’da ashar kami berjalan kaki, hanya seratusan meter dari rumah kost. Cape juga, jalan menanjak. Kami adalah pasien pertama sehingga langsung ditangani dengan cepat.
“Wah, typhus,” katanya, “Saya kasih obet yang paling bagus.”
Kami hanya mengiyakan.
“Paling juga besok pagi bisa masuk kantor lagi.” Katanya membesarkan hati.
Dengan penuh rasa optimis kami meninggalkan rumah dokter praktek tersebut. Namun baru beberapa meter keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Endang memegang perutnya dan langsung muntah-muntah. Tentu saja tidak ada yang dapat dimuntahkan karena perut tidak berisi selama beberapa hari.
Cukup lama untuk mengembalikan stamina yang sudah sedemikian rendah. Dengan terhuyung-huyung kami menuruni jalan ke rumah kost. Sangat melelahkan. Perlu diketahui bahwa saat itu tidak ada kendaraan umum yang beroperasi, melewati jalan depan rumah kami.
Sesampai di rumah maka obat mujarab dari dokter segera diminum setelah beberapa sendok makan malam masuk ke perut. Tentu saja satu-satunya harapan adalah segera segar-bugar seperti yang dikatakan dokter tadi, bisa segera ke kantor.
Pengalaman dokter menangani banyak pasien dengan gejala seperti teman yang satu ini ternyata tidak selalu benar. Malah langsung muntah dengan perut yang kelihatan sangat sakit. Dingin pun tidak hilang sama sekali. Tetap seperti beberapa hari sebelumnya.
Tengah malam, obat diminum kembali. Kesembuhan sama sekali jauh, justeru rasa sakit yang luas biasa yang menyerang. Endang merintih kesakitan dan dagunya bergetar kedinginan.
Malam itu menjadi malam yang paling merepotkan, penderitaan panjang yang sangat berat untuk dirasakan. Malam itu, menjadi malam yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan.
Esok paginya, dugaan dokter sama sekali tidak berlaku. Bahkan ketika setelah sarapan langsung mengonsumsi obat yang diberikan. Ternyata makin sakit dan sakit. Rasa sakit luar biasa ini jauh melebihi penderitaan sebelumnya.
Melihat kondisi yang makin memprihatinkan tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali bertanya kepada beberapa orang teman. Ada yang memberi alamat doktor ahli penyakit dalam di Bukittinggi, ada yang memberikan alamat dokter yang selama ini sangat bagus menangani pasien yang terserang typhus. Ada juga yang menawarkan pengobatan di luar ilmu kedokteran.
Dari beberapa saran dan pendapat, dengan berbagai pertimbangan, mulai dari masalah keterbatasan biasa maupun tingkat ketidak-percayaan yang makin tinggi tehadap dokter (mohon maaf, sudah berulang-ulang berobat ke dokter, baik saya mauoun teman saya ini tidak menunjukkan adanya perbaikan, malah menderita). Oleh karena itu saya mengambil alternatif terakhir.
Beruntung ada yang mau mengantar ke rumah orang pinter. Ceritanya nanti, bersambung....
Seminggu sudah teman serumah, Endang Sumirat, hidup dalam selimut. Badannya kurus kering, apalagi memang dari semula sudah kurus. Mukanya pucat pasi, wujud kepasrahan terhadap penyakit yang sangat menyiksa.
Seperti sudah diceritakan sebelumnya, berobat ke dokter juga ditempuh sekalipun hasilnya tidak makasimal. Namun tidak patah arang. Mungkin belum cocok saja, berobat ke dokter juga cocok-cocok-an kok.
Berdasarkan informasi dari rekan di kantor, ada dokter yang biasanya selalu memberikan obat yang ampuh. Mantan dokter yang bertugas di kepolisian. Dari latar belakang dan pengalamannya dapat diperkirakan bahwa beliau akan memberi pasiennya obat yang mujarab.
Ba’da ashar kami berjalan kaki, hanya seratusan meter dari rumah kost. Cape juga, jalan menanjak. Kami adalah pasien pertama sehingga langsung ditangani dengan cepat.
“Wah, typhus,” katanya, “Saya kasih obet yang paling bagus.”
Kami hanya mengiyakan.
“Paling juga besok pagi bisa masuk kantor lagi.” Katanya membesarkan hati.
Dengan penuh rasa optimis kami meninggalkan rumah dokter praktek tersebut. Namun baru beberapa meter keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Endang memegang perutnya dan langsung muntah-muntah. Tentu saja tidak ada yang dapat dimuntahkan karena perut tidak berisi selama beberapa hari.
Cukup lama untuk mengembalikan stamina yang sudah sedemikian rendah. Dengan terhuyung-huyung kami menuruni jalan ke rumah kost. Sangat melelahkan. Perlu diketahui bahwa saat itu tidak ada kendaraan umum yang beroperasi, melewati jalan depan rumah kami.
Sesampai di rumah maka obat mujarab dari dokter segera diminum setelah beberapa sendok makan malam masuk ke perut. Tentu saja satu-satunya harapan adalah segera segar-bugar seperti yang dikatakan dokter tadi, bisa segera ke kantor.
Pengalaman dokter menangani banyak pasien dengan gejala seperti teman yang satu ini ternyata tidak selalu benar. Malah langsung muntah dengan perut yang kelihatan sangat sakit. Dingin pun tidak hilang sama sekali. Tetap seperti beberapa hari sebelumnya.
Tengah malam, obat diminum kembali. Kesembuhan sama sekali jauh, justeru rasa sakit yang luas biasa yang menyerang. Endang merintih kesakitan dan dagunya bergetar kedinginan.
Malam itu menjadi malam yang paling merepotkan, penderitaan panjang yang sangat berat untuk dirasakan. Malam itu, menjadi malam yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan.
Esok paginya, dugaan dokter sama sekali tidak berlaku. Bahkan ketika setelah sarapan langsung mengonsumsi obat yang diberikan. Ternyata makin sakit dan sakit. Rasa sakit luar biasa ini jauh melebihi penderitaan sebelumnya.
Melihat kondisi yang makin memprihatinkan tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali bertanya kepada beberapa orang teman. Ada yang memberi alamat doktor ahli penyakit dalam di Bukittinggi, ada yang memberikan alamat dokter yang selama ini sangat bagus menangani pasien yang terserang typhus. Ada juga yang menawarkan pengobatan di luar ilmu kedokteran.
Dari beberapa saran dan pendapat, dengan berbagai pertimbangan, mulai dari masalah keterbatasan biasa maupun tingkat ketidak-percayaan yang makin tinggi tehadap dokter (mohon maaf, sudah berulang-ulang berobat ke dokter, baik saya mauoun teman saya ini tidak menunjukkan adanya perbaikan, malah menderita). Oleh karena itu saya mengambil alternatif terakhir.
Beruntung ada yang mau mengantar ke rumah orang pinter. Ceritanya nanti, bersambung....
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (9)
SEMINGGU DALAM SELIMUT
Tidak berapa lama setelah kejadian yang unik bersama kasur Bengkulu, saya mengalami kesakitan luar biasa. Bukan hanya dingin yang selalu menyerang pada waktu tertentu tetapi juga diiringi dengan tidak mau masuknya bahan makanan apapun ke dalam perut.
Dingin bukan hanya menyerang saat pulang kantor, beberapa kali harus pulang duluan karena tak tahan menderita di kantor. Tetapi, di rumah bukan istirahat, malah menjadi makin kumat. Kasur pun jadi selimut, keringat mengucur di atas kulit yang tersa sangat dingin.
Mungkin makanan yang tersedia tidak menarik, rasa lapar tidak pernah muncul. Tetapi tidak, pernah juga membeli makanan favorit dari warung tetapi tidak juga selera makan bangkit. Ketika dipaksakan, maka rasanya pahit dan tidak menentu, sangat tidak biasa.
Menyadari adanya kejanggalan ini, say tidak mau kalh oleh penyakit. Harus tetap makan ! Indomie makanan ter-favorit, tentu akan bisa membangkitkan. Tetapi tidak, lagi-lagi makanan enak yang satu ini pun tidak berasa sebagaimana biasa. Di mulut sudah ditolak, pahit luar biasa. Tetapi saya yakin bahwa akan lebih pahit lagi kalau saya tidak menelannya.
Itulah sebabnya, dalam keadaan sakit yang terus menerus dan makin menderita, saya terus menikmati makanan sekalipun pahit rasanya. Tidak lama kemudian penderitaan itu berakhir, satu minggu saja. Saya pun harus merasa sehat seperti sedia kala, sekalipun sebenarnya masih sangat sakit.
Keterpaksaan sehat itu bukan tidak beralasan, teman serumah mengalami hal yang sama. Hanya berdiam diri dalam selimut dan tidak mau makan sama sekali. Baru beberapa hari, badannya yang kurus bertambah kecil, tinggal kulit berbalut tulang.
Bukan tidak mau berobat ke dokter, upaya itu juga ditempuh. Namun sekalipun obat diminum sesuai dengan aturan, ternyata tidak banyak membantu. Deman tinggi, keringat menucur terus dan selalu kedinginan sehingga tidak mau beranjak dari tempat tidur untuk lepas dari buntelan selimut !
Dipikir lagi, sulit rasanya untuk sembuh kalau makan saja sudah tidak mau sama sekali. Oleh karena itu, hal yang pertama dilakukan adalah memaksakan untuk mengisi perut sekalipun semuanya terasa sangat menyiksa. Pengalaman mengalami hal yang sama merupakan rumus jitu untuk memberi semangat makan kepada teman yang satu ini. Semua terasa pahit tetapi akan lebih pahit lagi kalau terus-terusan sakit.
Praktis, kehidupan di balik selimut berlangsung lama juga. Satu minggu. Badannya yang kecil semakin kecil lagi sekalipun dalam beberapa hari terakhir sudah bisa diisi dengan makanan seadanya. Belum sembuh benar, tetapi perut yang berisi merupakan langkah awal untuk menuju kesehatan selanjutnya.
Tidak berapa lama setelah kejadian yang unik bersama kasur Bengkulu, saya mengalami kesakitan luar biasa. Bukan hanya dingin yang selalu menyerang pada waktu tertentu tetapi juga diiringi dengan tidak mau masuknya bahan makanan apapun ke dalam perut.
Dingin bukan hanya menyerang saat pulang kantor, beberapa kali harus pulang duluan karena tak tahan menderita di kantor. Tetapi, di rumah bukan istirahat, malah menjadi makin kumat. Kasur pun jadi selimut, keringat mengucur di atas kulit yang tersa sangat dingin.
Mungkin makanan yang tersedia tidak menarik, rasa lapar tidak pernah muncul. Tetapi tidak, pernah juga membeli makanan favorit dari warung tetapi tidak juga selera makan bangkit. Ketika dipaksakan, maka rasanya pahit dan tidak menentu, sangat tidak biasa.
Menyadari adanya kejanggalan ini, say tidak mau kalh oleh penyakit. Harus tetap makan ! Indomie makanan ter-favorit, tentu akan bisa membangkitkan. Tetapi tidak, lagi-lagi makanan enak yang satu ini pun tidak berasa sebagaimana biasa. Di mulut sudah ditolak, pahit luar biasa. Tetapi saya yakin bahwa akan lebih pahit lagi kalau saya tidak menelannya.
Itulah sebabnya, dalam keadaan sakit yang terus menerus dan makin menderita, saya terus menikmati makanan sekalipun pahit rasanya. Tidak lama kemudian penderitaan itu berakhir, satu minggu saja. Saya pun harus merasa sehat seperti sedia kala, sekalipun sebenarnya masih sangat sakit.
Keterpaksaan sehat itu bukan tidak beralasan, teman serumah mengalami hal yang sama. Hanya berdiam diri dalam selimut dan tidak mau makan sama sekali. Baru beberapa hari, badannya yang kurus bertambah kecil, tinggal kulit berbalut tulang.
Bukan tidak mau berobat ke dokter, upaya itu juga ditempuh. Namun sekalipun obat diminum sesuai dengan aturan, ternyata tidak banyak membantu. Deman tinggi, keringat menucur terus dan selalu kedinginan sehingga tidak mau beranjak dari tempat tidur untuk lepas dari buntelan selimut !
Dipikir lagi, sulit rasanya untuk sembuh kalau makan saja sudah tidak mau sama sekali. Oleh karena itu, hal yang pertama dilakukan adalah memaksakan untuk mengisi perut sekalipun semuanya terasa sangat menyiksa. Pengalaman mengalami hal yang sama merupakan rumus jitu untuk memberi semangat makan kepada teman yang satu ini. Semua terasa pahit tetapi akan lebih pahit lagi kalau terus-terusan sakit.
Praktis, kehidupan di balik selimut berlangsung lama juga. Satu minggu. Badannya yang kecil semakin kecil lagi sekalipun dalam beberapa hari terakhir sudah bisa diisi dengan makanan seadanya. Belum sembuh benar, tetapi perut yang berisi merupakan langkah awal untuk menuju kesehatan selanjutnya.
Langganan:
Komentar (Atom)