Senin, 05 April 2010

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (6)

NASI BUSUK PENYEBAB BATUK

Akhirnya, sudah lebih dari dua tahun saya bekerja di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar. Sekalipun home-sick selalu hadir, saya bisa juga memaksakan diri untuk tetap betah. Salah satu kegiatan di luar kerja pokok adalah menulis.
Mohon maaf, bukan sombong kalau masyarakat Kabupaten Tanah Datar, terutama para pegawai negerinya kenal dengan nama saya karena tulisan di Kaba Luhak Nan Tuo. Saya mengisi kolom artikel, jemari kreatif (keterampilan) dan juga bahasa Inggeris (belajar bahasa Inggeris melalui cerita lucu). Selain di tabloid mingguan milik Pemda Kabupaten Tanah Datar tersebut, artikel saya pun sempat dimuat di harian Semangat.
Terus terang, hampir tidak pernah ada honor yang saya terima dari banyak tulisan yang dimuat itu. Semua semata-mata ingin berbagi atau bahkan mengajak diskusi. Saya sangat senang apabila setelah tulisan terbit, beberapa teman mengajak bicara tentang thema tulisan dan juga gaya bahasa yang dipakai. Kesemuanya menjadi sumber ilmu yang memperkaya tulisan saya selanjutnya, temasuk dalam menggunakan istilah Minang.
Makin lama, kesibukan pekerjaan pun makin berlipat. Aktifitas dan berbagai kesibukan di birokrasi tidak menyurutkan kemauan keras saya untuk tetap aktif dalam tulis-menulis.
Kebetulan salah di sebuah koran harian ada lowongan untuk menjadi jurnalis. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Segeralah saya menuju Kota Padang, menuju alamat yang tercantum.
Bekal untuk menjadi bagian dari koran yang baru hendak diterbitkan relatif banyak, beberapa artikel yang dibundel dan juga calon tulisan yang mudah-mudahan bisa diterbitkan. Tetapi ternyata saya dapat kesempatan lebih dari itu, ikut merencanakan dari awal segala yang berkaitan dengan terbitan tersebut.
Singkat cerita, Padang Pos pun terbit sebagai mingguan. Selama beberapa minggu pertama tulisan saya selalu menghiasi, tidak ada kendala sama sekali. Saya pun tetap konsisten pada pendirian, saya bukan wartawan, hanya penulis lepas. Saya selalu menentang birokrat yang merangkap wartawan. Sebuah sikap yang unik karena sebagian besar wartawan di Sumatera Barat saat itu adalah para Pegawai Negeri Sipil.
Di sisi lain, di tempat kerja saya pun dapat kesempatan istimewa. Setelah cukup lama menanti, pada akhirnya datang juga kepercayaan untuk memegang suatu jabatan struktural. Sekalipun hanya pelaksana tugas, tetapi hal itu sudah luar biasa. Kepercayaan itu tidak pernah disia-siakan untuk bekerja lebih baik lagi.
Kerja keras dan makin keras, itulah sebabnya saya sering bermalam di kantor. Selain mengerjakan beberapa pekerjaan kantor juga tidak sedikit tulisan yang dihasilkan. Suasana sepi di kantor turut memperlancar tuts keyboard berselancar sehingga jadilah beberapa tulisan yang siap diterbitkan.
Dalam perjalanan dua tahun pergaulan dengan teman sekerja, sepertinya tidak ada yang aneh seperti bulan-bulan pertama. Saya menikmati kehidupan di rantau, sambil tetap mencari-cari peluang untuk bisa pulang kampung halaman. Oleh karena itu, saya pun tidak akan menceritakannya dalam beberapa tulisan tentang misteri ini.
Sampai pada suatu malam, saya mencium sesuatu yang sedikit aneh. Bau busuk yang tidak mudah dicari sumber asalnya. Bukan bau bangkai, hanya bau apek yang kemudian lenyap lagi. Beberapa kali saya bongkar laci dan tumpukan buku di bawah meja. Tidak dijumpai hal yang aneh. Tetapi bau itu terus muncul lagi.
Akhirnya ketemu juga, di balik arsip tua ada rantang tempat makanan (misting, plastik) yang sangat saya kenal. Tempat nasi yang biasa dibawa salah satu teman kantor. Tetapi isinya sungguh mengejutkan, makanan yang sudah membusuk. Ada cairan dan lengkap dengan jamur disampingnya.
Saya tidak dapat berbuat banyak, apalagi menyisihkan misting itu. Batuk menjadi-jadi tiada henti. Hidung terus bersin, berulang-ulang dengan suara sangat keras. Tidak berhenti sampai di situ saja, rasa sangat gatal melanda tenggorokan. Batuk-batuk, tidak juga berhenti. Bersin dan batuk seakan terus berlomba.
Semalaman saya merasakan penderitaan yang luar biasa, batuk dan bersin tiada henti sekalipun beberapa obat batuk dan flu telah ditelan sampai melebihi dosis yang dianjurkan. Tidak ada pilihan lain, saya harus pulang sekalipun jam dinding mengingatkan, waktu telah lebih dari tengah malam.
Baru kali itu, saya mengingat akan berbagai kejadian di awal tugas dulu. Sakit hanya di tempat tertentu, setelah menjauh kesembuhan pun didapat. Seperti tulisan waktu saya belajar komputer dulu.
Hal ini terbukti ketika keesokan harinya saya masuk kantor. Penderitaan seperti semalam segera terasa begitu duduk di kursi. Itulah sebabnya, saya pun segera menghindar dan keluar menjauh. Dan semuanya langsung menjadi sangat baik. Hari itu, saya benar-benar tidak sanggup lagi masuk ruangan setelah beberapa kali mencoba masuk tetapi terus diganggu dengan batuk dan bersin secara terus-menerus.
Hari itu saya habiskan untuk mendiskusikan permasalahan yang mengganjal dengan beberapa teman. Ada beberapa masukan yang berharga, mulai dari adanya beberapa obrolan tak sedap dengan aktifitas saya di Padang Pos dan media massa lain yang menggunakan fasilitas kantor sampai anggapan adanya rezeki yang berlimpah dari pekerjaan yang selama ini ditangani.
Kesimpulannya, beberapa keistimewaan itu membuat beberapa orang tidak suka dan saran mereka pada dasarnya adalah sama, tidak perlu masuk ruangan lagi sampai nanti barang aneh itu dienyahkan. Salah satu dari mereka bahkan bersedia membantu untuk memindahkan suguhan khas itu dari tempatnya semula.
Ba’da isya seperti biasa saya menuju kantor. Alhamdulillah, batuk dan bersin tidak lagi menyerang. Saya sangat fresh dan menikmati malam itu untuk menghasilkan beberapa tulisan sebagaimana biasa, tanpa hambatan.
Tidak berapa lama, seorang teman datang dan menanyakan tentang sakit yang dikeluhkan tadi siang. Heran juga, penderitaan tadi siang tidak lagi nampak sama sekali. Yang lebih mengherankan adalah ketika teman yang satu itu mencoba membuka lemari arsip, ternyata misting plastik berisi nasi busuk tidak ada lagi.
Percaya atau tidak, akhirnya saya membenarkan dugaan adanya kaitan yang erat antara nasi busuk itu dengan batuk yang sangat menyiksa !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar