BATANG ANAK PISANG YANG MUJARAB
Seminggu hanyalah tujuh hari. Bukan waktu yang lama, terlalu singkat. Tetapi bisa juga merupakan waktu yang sangat lama, teramat lama. Apalagi kalau seminggu terus-menerus tidak bisa melepas diri dari selimut !
Seminggu sudah teman kost mengalami apa yang pernah saya derita. Hampir tidak ada makanan yang pernah masuk, kecuali terpaksa sebelum minum obat dari dokter yang lebih sering membuat badan makin lenenger ! Tidak mengherankan kalau badannya yang kurus semakin tampak hanya tulang berbalut kulit.
Ketidakhadiran teman yang satu ini di kantor tentu mengundang tanya beberapa teman. Ada keprihatinan, banyak yang menarik nafas membayangkan kalau hal yang sama terjadi pada mereka -saat jauh dari keluarga, sakit teramat keras. Satu diantara mereka ada yang menyarankan untuk bertanya kepada penjaga kantor.
Terdorong oleh rasa penasaran akibat berbagai obat yang justeru membuat badan sakit luar biasa, maka saran dari salah satu teman diikuti. Selepas ashar saya mengunjungi rumah mungilnya.
“Ada apa, Mas ?”
Saya pun menceritakan tentang teman kost yang tidak sanggup keluar dari selimut sama sekali. Teramat lama, dan makin menderita. Tanpa banyak tanya, beliau mengajak saya ke belakang. Menembus rumah dan pekarangan.
Di tengahpekarangan yang dikelilingi tanaman keras terdapat sebuah gubuk. Seorang lelaki separuh baya menambut kedatangan kami dengan ramah. Keduanya terlibat pembicaraan yang sangat serius.
“Begini, Mas.” Si Bapak memulai pembicaraan, “Kalau golok ini berhenti, berarti Ya!” Katanya sambil menggerakan golok di atas batu asahan.
“Apakah sakitnya akibat dibuat orang ?” Golok tiba-tiba tidak dapat digerakkan. Berarti betul kalau sakit teman kost saya bukan sembarang sakit, tentu menurut versi Si Bapak. Kemudian ditanyakan tentang orang yang berbuat, ciri-ciri –bentuk rambutnya, wajah dan sebagainya.
“Apakah di kantor ada teman yang ciri-cirinya sama dengan yang disebutkan ?”
Saya hanya bisa mengangguk. Kata-katanya sama sekali tidak terbantahkan karena beliau juga menyebut inisial namanya. Sungguh tidak terpikirkan oleh akal sehat, karena lelaki yang tinggal sendiri di gubuk itu sama sekali tidak mengenal teman-teman kami.
“Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Mas,” katanya merendah, “Kirimannya sangat kuat. Nanti segera cari orang yang kuat melawannya.” Lagi-lagi saya hanya bisa menganggukan kepala.
Beliau langsung meninggalkan kami, mengambil sebatang anak pisang yang masih kecil. Mencacah batang pisang dan membacakan beberapa kalimat yang tidak saya mengerti pada air putih di gelasnya dan memberikan keduanya pada saya.
“Sesampai di rumah, segera balurkan air ini ke seluruh tubuh temannya.” Saya hanya mengangguk dan berucap terimakasih. “Jangan lupa, segera cari orang yang kuat !”
Sesampai di rumah, pesan pertamanya segera saya laksanakan. Dalam sekejap, badan teman saya langsung kelihatan segar dan sanggup menghabiskan makanan yang telah saya siapkan. Alhamdulillah, segar sekali.
Pesan beliau untuk mencari orang yang lebih kuat, kami bicarakan dengan serius. Maklum, sama-sama tidak tahu dan mengerti tentang berbagai keanehan yang dialami ini. Terbesit beberapa rencana, walaupun rencana yang masih buta. Tanpa petunjuk sama sekali.
Tetapi yang jelas, sore itu obat dari dokter tidak lagi diminum. Tidak mau lagi makin menderita !
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar