MIE PAHIT KESUKAANKU ….
Demam berbilang minggu, hanya mau dan tidak mau hidup dalam kemul tebal selimut. Saya dan teman saya alami, sama persis berbagai gejala yang ditimbulkan. Demikian juga dugaan dokter yang menjadi tempat kami berharap sembuh. Typhus, lagi-lagi penyakit itulah yang menjadi kambing hitam.
Memang patut diakui, bahwa saat itu kami benar-benar mendapatkan apa yang kami harapkan dulu. Dulu melamar pekerjaan dan didapatlah pekerjaan itu. Tidak tanggung-tanggung, sering bermalam di kantor, subuh pulang dan beberapa jam kemudian harus sudah apel pagi jam 7 teng.
Makan tidak teratur, mungkin saja dugaan yang satu ini benar. Juga berbagai kelelahan yang bertumpuk membuat kondisi tubuh memang harus istirahat total. Tetapi, upaya ke dokter ternyata bukanlah solusi yang tepat. Seperti diceritakan sebelumnya, setiap obat dikonsumsi maka saat itulah penderitaan baru dimulai. Mulai perut yang makin tak karuan sampat demam yang semakin menggigil dan mengeluarkan isi perut yang memang kosong dari mulut.
Kembali kepada penderitaan yang kami berdua rasakan, waktu terjadinya hampir bersamaan. Selang satu minggu saja, sayalah yang mengalami kejadian itu duluan. Penderitaan yang membuat saya hampir tidak bisa beranjak dari tempat tidur.
Tetapi, bagaimanapun juga saya merasa harus bisa menghidupi diri sendiri. Di rumah kontrakan itu, kami berdua adalah laki-laki yang meninggalkan anak istreri untuk pekerjaan. Sesuai dengan keinginan semula, melamar pekerjaan ! Oleh karena itu segala aktivitas, mulai dari ke pasar sampai menyediakan masakan untuk makan sehari-hari dilakukan sendiri.
Saat sakit yang penuh penderitaan pun kegiatan rutin harus tetap dijalankan kecuali mau makin mengkombinasikan penderitaan dengan kelaparan. Herannya, apa pun yang dimasak, selalu saja perut ini menolak. Bahkan sebenarnya, mulut put tidak mau kompromi. Rasanya pahit ! menjadi jauh lebih pahit ketika makanan itu dikunyah.
Itulah sebabnya di kepala segera terbayang nikmatnya makanan favori, mie rebus. Makanan instant inilah yang memang saya gemari semenjak puluhan tahun sebelumnya. Bukan hanya karena praktis tetapi juga murah meriah.
Tetapi apa daya, mie rebus pun ternyata sama pahitnya dengan makanan yang lain. Makin ditelan, rasa pahit semakin dalam. Perut pun berontak menerimanya. Beerapa kali harus dikeluarkan dan pada saat yang sama saya menahannya dengan penuh penderitaan.
Praktis selama seminggu, hanya mie rebus itulah yang menjadi menu harian yang masih mengisi hari-hari sakit. Tentu saja air putih tak ketinggalan, sekalipun kota tempat kami tinggal sangat sejuk namun saya berusaha minum sebanyak-banyaknya. Itulah cara yang harus ditempuh kalau mau bertahan hidup !
Konsumsi mie pahit itulah ternyata yang membedakan saya dengan teman kontrakan. Mie pahit itu pulalah yang menyebabkan saya cukup bisa bertahan hidup atau bahkan membantu mencari pengobatan ketika teman satu-satunya ini harus diobati secara serius.
Mie pahit itu pula yang menyebabkan saya mempunayi semangat hidup lebih. Sehat dan sangat sehat, dibandingkan dengan teman serumah yang sangat perlu pertolongan karena badannya yang kurus semakin kering, tanpa isi.
Mie pahit, terimakasih karena peranmulah perut tidak terlalu keroncongan dan penderitaan kami berdua semakin pahit.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar