Senin, 05 April 2010

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (8)

KASUR BENGKULU BERPAKU

Sungguh mengundang rasa untuk memiliki jika melihat kasur dengan warna unik menantang mata. Hijau, merah, biru mencolok berpadu dengan kilauan warna cemerlang. Kasur tipis (hanya sekitar 5 cm) yang dilengkapi masing-masing 2 bantal guling dan bantal biasa, keduanya dalam ukuran yang kecil, menambah daya tarik tersendiri.
Tentu saja saya lebih menjadi jauh lebih tertarik karena belum memiliki tempat tidur yang bisa digunakan melepas lelah dengan lebih nyaman. Selama ini, tidur cukup beralas tikar, dengan harapan tidak terlalu lama bertugas dapat pindah tugas ke Jawa lagi. Ternyata proses pindah tugas tidak semudah yang diharapkan.
Itulah sebabnya kasur Bengkulu menjadi sangat penting untuk segera dimiliki. Bermodalkan kepercayaan, bendahara gaji menjadi perantara agar kasur indah itu menjadi aset di tempat kos kami.
Ternyata, enak sekali tidur di kasur ...!
Kenyamanan ternyata tidak berlangsung lama, baru sekitar satu bulan menikmati tidur enak, tiba-tiba badan menjadi sangat tidak menentu. Dingin tidak tertahankan, padahal waktu baru menunjukkan jan 4 sore lebih sedikit. Kami pun baru saja pulang dari kantor.
Memang, Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar tempat kami bertugas merupakan kota yang sejuk. Terlalu sejuk untuk saya yang berasal dari daerah pantai utara Pulau Jawa. Tetapi, sore itu benar-benar dingin !
Apa boleh buat, minum obat flu dan selimut pun segera ditarik. Kalau sudah demikian maka biasanya langsung bisa tertidur lelap dan terbangun dalam keadaan segar-bugar. Tetapi sore itu berbeda keadaannya, selimut tidak terlalu banyak membantu. Akhirnya kasur Bengkulu pun menjadi pelengkap, menyelimuti seluruh tubuh.
Dingin.... Dingin.... Dingin...!
Sangat dingin dan semakin dingin. Ironisnya, keringat mengucur deras. Membasahi selimut dan kasur yang membungkus tubuh. Kucuran air ternyata tidak menjadikan suasana menjadi hanyat tetapi sebaliknya, dingin sekali.
Menjelang maghrib, saya memaksakan diri untuk bangkit dan menjalankan kewajiban. Terus berdo’a dan berdo’a memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa sembuh sebagaimana sedia kala. Alhamdulillah, bisa terlelap sangat nyenyak sampai adzan isya memanggil.
Berdo’a dan terus berdo’a. Hanya itu yang dapat saya lakukan. Pergi ke dokter malam hari sungguh tidak sanggup. Di kamar saja dinginnya luar biasa, apalagi di luar, pasti jauh lebih dingin. Jarak ke rumah dokter pun tidak dekat, sekitar satu kilometer.
Malam itu, malam yang penuh do’a dengan satu harapan, sembuh dari peyakit yang aneh itu. Sampai lebih dari tengah malam, dalam keadaan badan menggigil tak tertahankan saya terus memohon kepada Yang Maha Penyembuh.
Esok harinya, saya memegang sesuatu yang aneh. Di balik kehalusan kapuk kasur Bengkulu terdapat benjolan benda keras. Saya mengamatinya dan mencoba mengeluarkannya, sedikit demi sedikit. Akhirnya bisa dikeluarkan juga.
Benda keras itu ternyata, batang yang biasa menutup buah kapuk. Waktu kecil, saya mempermainkan benda itu untuk membuat lampu-lampuan. Dengan sedikit kapuk dan minyak tanah, batang itu menjadi tandon lampu mini yang bisa menyala beberapa saat.
Alhamdulillah, pagi hari itu saya kembali bisa ngantor. Seperti tidak ada masalah kesehatan sebelumnya. Siang harinya pun tidak ada kendala ataupun gejala yang aneh, semua berjalan lancar-lancar saja.
Tetapi sepulang kantor semua berubah. Baru memasuki rumah, badan sudah menggigil. Sangat dingin. Lebih dingin daripada kemarin. Langsung saja saya selimuti badan dengan selimut dan juga kasur tipis itu.
Lagi-lagi, menutup rapat badan tidak menolong saya dari dingin yang melanda. Hanya mengeluarkan keringat yang membuat badan semakin dingin. Sore itu saya memaksakan diri ke dokter, dapat pertolongan yang tidak sedikit. Badan kembali normal dan terasa enak.
Obat yang diberikan pun saya minum sesuai aturan, tetapi rasa dingin yang kembali menyerang setelah kembali ke rumah tidak juga berkurang. Rasanya pertolongan dokter tidak berlaku lagi ketika sudah tida di rumah. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah kembali dan selalu meminta kepada Yang Maha Penyembuh.
Mungkin pengaruh obat juga yang meyebabkan saya akhirnya dapat terlelap tidur sampai pagi. Lagi-lagi, ada benda keras menyentuh. Lancip, tajam dan pangkalnya berbentuk setengah lingkaran.
Ternyata benda itu adalah peniti yang alhamdulillah tidak menyentuh bagian tubuh. Saya tidak dapat membayangkan kalau bagian lancipnya menyentuh kepala, tentu sangat menyakitkan. Belum lagi efek infeksi yang ditimbulkannya. Saya menggigil, merinding tidak menentu.
Lagi-lagi, suatu karunia yang luar biasa. Bukan hanya selamat dari tajamnya peniti, pagi itu saya pun terasa sangat segar. Pergi ke kantor seperti biasa.
Namun di sore hari, lagi-lagi ras dingin menyerang. Sangat dingin dibanding dua hari sebelumnya. Tentu sangat mengherankan karena saya sudah meminum obat dari dokter sesuai dengan aturan.
Bukan karena tidak percaya obat dokter kalau malam itu saya memutuskan hanya tinggal di rumah. Hanya berdo’a dan terus berdo”a. Keajaiban malam pun saya rasakan dengan nikmat. Tidur nyenyak sekalipun bersimbah keringat.
Untuk ketiga kalinya benda keras terasa di balik kasur Bengkulu itu. Ternyata sebuah paku besar, panjangnya tidak lebih dari 10 cm. Sunggguh beruntung, paku berkarat itu tidak menyentuh badan sama sekali.
Sama sekali tidak terpikir sedikitpun kalau benda-benda itu ada hubungannya dengan rasa sakit yang saya derita selama tiga hari berturut-turut. Tetapi semenjak ketiga benda itu ditemukan, rasa dingin yang biasanya melanda tidak dirasakan lagi sepulang kantor berikutnya. Alhamdulillahhirobbil alamin.
Namun saya sempat heran, dan terus membolak-balik kasur Bengkulu itu. Bagian-demi bagian. Mencari bekas mengeluarkan ketiga benda yang ditemukan sebelumnya. Ternyata sama sekali tidak ada bekasnya. Ketiga benda itu pun tidak ada lagi di tempat saya sempat menyimpannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar