Minggu, 04 April 2010

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (5)

JERUK PURUT DITUSUK JARUM

Cerita yang satu ini rupanya ada kaitan erat dengan kebandelan saya yang tidak mau juga berhenti menggunakan komputer di ruang Ketua BAPPEDA tempat kami bertugas. Selalu mencuri kesempatan untuk belajar MS Word sekalipun sudah beberapa kali ditegur, bahkan dipermalukan di depan kawan-kawan.
Aksi pencurian kesempatan ini tiba-tiba harus berhenti. Bukan akibat bau kemenyan dan cerita horor yang menakutkan tetapi karena kepala tidak kuat menahan sakit yang luar biasa begitu menghadapi komputer. Rasa sakitnya tidak bisa terbayangkan karena baru kali itu dialami.
Saya hanya bisa memegang kepala erat-erat. Tusukan-tusukan sangat menyiksa dari ujung depan kepala sampai tengkorak bagian belakang. Tidak ada persediaan obat, tidak ada juga yang membantu saya segera keluar dari ruang khusus komputer itu. Hanya keajaiban yang saya harapkan bisa membantu.
Berbagai bacaan saya baca sebisanya sambil terus menahan sakit yang luar biasa. Sampai akhirnya komputer pun segera dimatikan. Tidak berapa lama, sakit pun lenyap dengan sendirinya.
Setelah istirahat beberapa lama, keinginan belajar pun kembali menguat. Komputer dihidupkan dan kembali mulai memadukan beberapa tips belajar dengan kenyataan. Namun, tidak berapa lama, serangan rasa sakit kembali mendera. Lebih sakit dari yang pertama.
Sungguh tidak dinyana, kalau rasa sakit tersebut pun lenyap begitu saja setelah komputer dimatikan. Saya berpikir, apakah efek radiasi sudah sedemikian membahayakan ? Mungkin karena kondisi badan yang sangat lemah akibat kurangnya asupan bergizi ?
Saya sempat tertidur sebentar di meja, ketika bangun badan terasa sangat segar. Keinginan belajar pun bangkit kembali. Tetapi, lagi-lagi kepala terasa pecah begitu komputer dinyalakan. Sakit, saki, sakit sekali rasanya.
Saya tidak kuat mematikan komputer, langsung meninggalkan ruangan sekalipun tidak pernah terpikirkan siapa yang akan menolong. Seperti biasa, di kantor yang sering jadi bahan cerita angker itu saya sendirian.
Alhamdulillah, tidak berapa lama rasa sakit pun hilang. Saya bisa menuju warung terdekat untuk membeli obat sakit kepala. Rasanya plong, sekalipun saya tahu resikonya pasti harus mengantuk. Berarti tidak bisa belajar lagi.
Hanya semangat belajar yang tinggi sajalah kalau akhirnya saya tidak berpikir untuk mengantuk sedikit pun. Tetapi, lagi-lagi kepala kembali terbelah rasanya begitu cahaya monitor menyorot. Sakit sekali.
Beruntunglah masih ada obat yang tersisa, saya pun menenggaknya sebutir lagi. Mungkin over dosis, tetapi saya pikir, kalau satu obat tidak terasa manfaatnya maka dua tablet akan mampu melawan rasa sakit itu.
Ternyata dua tablet pun tidak bisa mengusir rasa sakit itu sama sekali. Bahkan terasa lebih sakit daripada sebelum menenggak obat yang semula menjadi andalan saya. Badan menggigil menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Tengah malam, penjaga kantor datang. Kaget melihat saya yang hanya bisa tergolek lemah di depan komputer yang terus menyala. Saya dipapah ke ruang lain.
Ajaib, rasa sakit itu lenyap begitu saja. Saya sangat bugar dan lupa dengan beberapa kali penderitaan yang baru saja dialami. Semangat belajar pun kembali bangkit. Kaki terasa mengambang untuk segera kembali belajar !
“Mas, matikan saja komputernya !” Kata penjaga, “Kita istirahat saja.”
Sungguh, sebuah kesia-siaan kalau malam yang terbatas itu saya habiskan untuk melepas penat semata. Tetapi apa boleh buat, mungkin ada yang akan disampaikan oleh sahabat yang satu ini. Sebab tidak biasanya dia mengajak istirahat, sekalipun menjelang subuh saya masih asyik di depan komputer. Paling tidak, dia mengerti kondisi tubuh saya yang sangat lemah setelah beberapa malam kurang tidur.
Aneh juga, dia tidak segera tidur tetapi malah mengajak ngobrol. Saya pun menceritakan rasa sakit tak tertahankan yang beberapa kali terjadi. Juga obat yang tidak mampu lagi mengusir. Tidak lupa rasa aneh, karena sakit kepala itu hanya menyerang ketika saya bekerja di depan komputer.
Penjaga kantor hanya manggut-manggut mendengarkan cerita yang saya sampaikan dalam keadaan segar bugar tanpa sedikitpun keluhan di kepala.
“Mas,” katanya membuka kesepian, “Saya punya pengalaman dari orang lain yang mengalami kejadian serupa.”
Dia menceritakan tentang temannya yang pernah mengalami sakit kepala luar biasa ketika menghadapi suatu pekerjaan. Tetapi begitu pekerjaan itu ditinggalkan, sedikit pun rasa sakit tidak lagi menyerang.
Kejadian ini terus saja dia perhatikan, sampai akhirnya dia menceritakan kepada orangtuanya. Singkat cerita, diapun dibawa ke orang pintar. Sebuah jeruk purut ditusuk jarum berhasil diambil oleh orang pintar itu dari sekitar tempat kerjanya !
Jeruk purut itu menyimbolkan kepala, makanya kepala terasa ditusuk jarum dengan sakit tak tertahankan. Tuah dari simbol itu hanya berlaku bagi orang yang dituju. Oleh karena itu, tidak akan mempan kepada orang lain.
“Jeruk purut itu sudah kering dan membatu, jarum menembus di kedua sisinya.” Kata-katanya sungguh mengerikan namun sungguh tidak masuk akal, tetapi saya ingat tentang jeruk yang dikubur teman sekerja beberapa malam sebelumnya. Dia pun mengiayakan kalau ada hubungan antara keduanya.
Saat itu, tidak ada pemecahan masalah yang diberikan. Temannya merantau ke Jawa dan orangtuanya pun telah tiada. Tidak ada petunjuk dimana rumah orang pintar yang dapat dikunjungi. Satu-satunya jalan adalah, menghindari komputer itu untuk sementara.
Saya setuju dengan pendapatnya. Bukan berarti saya berhenti belajar, kesempatan itu saya manfaatkan untuk merancang cara menguasai materi dengan lebih praktis dan mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar