Senin, 05 April 2010

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (10)

OBAT TYPHUS YANG BIKIN MAMPUS

Seminggu sudah teman serumah, Endang Sumirat, hidup dalam selimut. Badannya kurus kering, apalagi memang dari semula sudah kurus. Mukanya pucat pasi, wujud kepasrahan terhadap penyakit yang sangat menyiksa.
Seperti sudah diceritakan sebelumnya, berobat ke dokter juga ditempuh sekalipun hasilnya tidak makasimal. Namun tidak patah arang. Mungkin belum cocok saja, berobat ke dokter juga cocok-cocok-an kok.
Berdasarkan informasi dari rekan di kantor, ada dokter yang biasanya selalu memberikan obat yang ampuh. Mantan dokter yang bertugas di kepolisian. Dari latar belakang dan pengalamannya dapat diperkirakan bahwa beliau akan memberi pasiennya obat yang mujarab.
Ba’da ashar kami berjalan kaki, hanya seratusan meter dari rumah kost. Cape juga, jalan menanjak. Kami adalah pasien pertama sehingga langsung ditangani dengan cepat.
“Wah, typhus,” katanya, “Saya kasih obet yang paling bagus.”
Kami hanya mengiyakan.
“Paling juga besok pagi bisa masuk kantor lagi.” Katanya membesarkan hati.
Dengan penuh rasa optimis kami meninggalkan rumah dokter praktek tersebut. Namun baru beberapa meter keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Endang memegang perutnya dan langsung muntah-muntah. Tentu saja tidak ada yang dapat dimuntahkan karena perut tidak berisi selama beberapa hari.
Cukup lama untuk mengembalikan stamina yang sudah sedemikian rendah. Dengan terhuyung-huyung kami menuruni jalan ke rumah kost. Sangat melelahkan. Perlu diketahui bahwa saat itu tidak ada kendaraan umum yang beroperasi, melewati jalan depan rumah kami.
Sesampai di rumah maka obat mujarab dari dokter segera diminum setelah beberapa sendok makan malam masuk ke perut. Tentu saja satu-satunya harapan adalah segera segar-bugar seperti yang dikatakan dokter tadi, bisa segera ke kantor.
Pengalaman dokter menangani banyak pasien dengan gejala seperti teman yang satu ini ternyata tidak selalu benar. Malah langsung muntah dengan perut yang kelihatan sangat sakit. Dingin pun tidak hilang sama sekali. Tetap seperti beberapa hari sebelumnya.
Tengah malam, obat diminum kembali. Kesembuhan sama sekali jauh, justeru rasa sakit yang luas biasa yang menyerang. Endang merintih kesakitan dan dagunya bergetar kedinginan.
Malam itu menjadi malam yang paling merepotkan, penderitaan panjang yang sangat berat untuk dirasakan. Malam itu, menjadi malam yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan.
Esok paginya, dugaan dokter sama sekali tidak berlaku. Bahkan ketika setelah sarapan langsung mengonsumsi obat yang diberikan. Ternyata makin sakit dan sakit. Rasa sakit luar biasa ini jauh melebihi penderitaan sebelumnya.
Melihat kondisi yang makin memprihatinkan tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali bertanya kepada beberapa orang teman. Ada yang memberi alamat doktor ahli penyakit dalam di Bukittinggi, ada yang memberikan alamat dokter yang selama ini sangat bagus menangani pasien yang terserang typhus. Ada juga yang menawarkan pengobatan di luar ilmu kedokteran.
Dari beberapa saran dan pendapat, dengan berbagai pertimbangan, mulai dari masalah keterbatasan biasa maupun tingkat ketidak-percayaan yang makin tinggi tehadap dokter (mohon maaf, sudah berulang-ulang berobat ke dokter, baik saya mauoun teman saya ini tidak menunjukkan adanya perbaikan, malah menderita). Oleh karena itu saya mengambil alternatif terakhir.
Beruntung ada yang mau mengantar ke rumah orang pinter. Ceritanya nanti, bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar