Minggu, 04 April 2010

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (2)

CELANA DALAM, KIRIMAN PEMBAWA PETAKA

Sebagai bagian dari institusi pusat, resiko yang harus ditanggung pegawai baru di luar Jawa saat itu adalah hidup tanpa gaji. Tidak lama, hanya 3 bulan saja. Waktu hampir seratus hari itu digunakan untuk proses administrasi dari tingkat unit kerja sampai Departemen Dalam Negeri sampai akhirnya kami menikmati gaji pertama.
Kalau saja keruyukan perut bisa diganjal atau malah tidak diisi selama beberapa hari, tentu saja uang tidak yang dibawa dari kampung halaman akan cukup untuk hidup. Tetapi tidak, kalau hal ini dijalankan tentu akan membawa ke jurang berpenyakit yang akan lebih mahal lagi pengobatannya. Oleh karena itu, salah satu cara menghemat adalah tidak menggunakan uang untuk pakaian.
Maka pada bulan ketiga keberadaan di tempat tugas itu saya dapat dua kiriman, uang tambahan Rp. 75.000,- dan juga bungkusan. Tidak ada orang yang peduli ketika saya menerima uang yang besarnya setengah gaji sebulan. Berbeda sekali dengan bungkusan yang terbalut kertas coklat. Semua mata memandang sinis, keakraban yang tercipta selama dua bulan seperti sudah dilupakan.
Saya sama sekali tidak mengerti tentang cara pandang mereka, bahkan merasa sangat tertekan ketika seorang sahabat baru yang selama ini sangat akrab tiba-tiba menjadi sangar dan bersuara paling keras.
“Kiriman apa, mas ?”
“Mungkin hanya sepatu.”
“Ach, tidak mungkin !” Selanya. “Ayo dibuka !”
Sungguh hal ini sama sekali tidak dapat saya percaya, ketika saya menolak untuk membuka, mereka pun memaksa dan berhamburanlah segala isinya. Selimut, beberapa potong baju dan celana serta dalaman. Setelah itu, semua bubar begitu saja. Saya semakin tidak mengerti dengan sikap mereka.
“Kata saya juga apa !” Sahabat itu berkata dengan kerasnya.
Pergaulan akrab penuh persaudaraan yang selama itu tercipta seperti lenyap ditelan bumi. Saya sama sekali tidak mengerti mengapa semua ini harus terjadi. Tidak ada juga orang yang mau menjelaskan tentang apa yang menyebabkan mereka bersikap menjauh dari saya yang makin kebingungan.
Saya menyimpan kejadian yang membuat pergaulan menjadi tidak wajar itu sebagai kenangan sampai pada akhirnya seorang sahabat menjelaskan bahwa dimana pun orang merantau maka pantang dikirim pakaian.
Dan lebih mengejutkan, kalau ada pendapat bahwa kiriman yang saya terima, terutama celana dalam, bermakna ‘tantangan’ dan jangan kaget kalau di suatu saat banyak tantangan dan halangan yang menghadang.
Sungguh, sama sekali tidak ada niat untuk itu semua. Hanya demi menghemat rupiah yang sudah sangat menipis lah bingkisan itu hadir. Mungkin tidak ada yang percaya, tetapi kami merasakan sendiri kehidupan yang melebihi batas keprihatinan.
Tiga bulan pertama memulai tugas di Batusangkar, sekali lagi tanpa gaji sekalipun pada bulan ke-empat dapat rapelan, jangankan untuk membeli pakaian, makan pun super irit. Mulai dari merubah selera dari Indomie ke Supermie, sampai akhirnya ke mie keluaran baru yang harganya seperlima dari produk yang biasa dimakan.
Upaya mengirit yang sampai sekarang tidak pernah dilupakan adalah ketika hampir semua persediaan habis, nasi pun hanya beras yang direbus penggorengan sampai akhirnya menjadi nasi liwet yang kelewat berair. Sebagai lauknya, sangat mengundang selera, bawang merah dan cabe rawit. Kedua bahan mentah dicacah dan ditaburi garam. Rasanya sangat enak dan menyegarkan, sekaligus mengenyangkan.
Dengan kehidupan seperti itu selama lebih dari sebulan, tentu tidak lah mungkin saya mampu membeli keperluan lain. Itulah jalan hidup yang mesti dilalui karena memang sangat berarti.
Kembali kepada celana dalam, ketidakmengertian persepsi yang berlaku umum di sanalah yang menyebabkan kiriman itu terjadi. Tanpa niat lain, karena dari awal saya sudah diberi bekal bahwa tempat tugas yang baru adalah daerah percontohan otonomi daerah terbaik di Indonesia. Masyarakatnya taat agama, patuh pada adat dan merupakan daerah asal beberapa tokoh nasionalis dan agamis.
Di balik ketidakmengertian, saya sangat berterimakasih kepada isteri dan keluarga yang dengan susah payah mengirimkan paket sederhana itu, diiringi sejumlah uang pula. Tentu saja do’a yang tidak pernah ada hentinya.
Oleh karena itu saya segera dapat melupakan berbagai kejadian yang mengiringi pengiriman paket dan terus merajut persaudaraan. Dalam waktu singkat, secara kasat mata, suasana akrab kembali tercipta sebagaimana sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar