BUYA YANG PANDANG BULU
Jangan berpikir kalau orang yang disebut dengan kata “Buya” itu harus orang yang sangat fasih dalam agama seperti Buya HAMKA misalnya. Sama sekali tidak, orang muda yang cukup bisa menyampaikan walau satu ayat pun pantas dipanggil Buya. Dan ketika ucapan itu terdengar maka penggunanyapun semakin meluas.
Demikia juga Buya Anu yang menolongteman saya dengan perantaraan beras dan kunyitnya itu. Umurnya baru sekitar 30 tahun, penampilannya sama sekali tidak menunjukkan beliau ahli agama. Cuma, memang sekali-sekali beliau mengisi acara di surau dan mesjid.
Seperti cerita sebelumnya, Buya Anu, memberikan obat yang sanat mujarab. Tentu atas izin Allah semata. Teman serumah itu pun tidak perlu lagi menahan sakit, apalagi berdiam diri di balik selimut sepanjang hari. Dia sudah masuk kerja sebagai mana biasa.
Saya pun pernah menceritakan bahwa saya sebenarnya sudah merasakan sakit yang tak terhingga itu lebih dahulu. Itulah saya sangat ingin berobat ke Buya Anu, mudah-mudahan dapat sembuh sebagaimana sediakala.
Itulah sebabnya sepulang kantor saya menyempatkan menuju rumah Buya Anu. Saya pun menceritakan penderitaan saya yang sangat menyiksa beberapa minggu ini.
“Akh, berobat ke dokter saja !’
“tetapi, Buya,” saya memohon, “Saya sudah berobat ke dokter, sama sekali tidak ada perubahan. Malah meakin sakit.”
“Tidak !” Sahutnya, “Pergi ke dokter saja. Saya tidak bisa menolong Anda.”
Sungguh kata-kata terakhirnya sangat menyesakan dada, namun apa daya saya sedang perlu pertolongan. Apa boleh buat, saya gagal mendapat pertolongan. Kata-kata itu sedemikian melekat dan mengundang tanya yang semakin besar, “Mengapa tidak mau menolong ?” “Bukankah orang yang menerjuni dunia seperti itu tidak akan pilih-pilih dalam menolong orang ?”
“Betapa tidak adilnya Buya yang satu ini.” Kataku dalam hati, “menolong saja harus pilih-pilih.”
Tetapi apakah saya harus ke dokter ? Tidak, justeru pengobatan medis membuat saya semakin sakit dan tersiksa.
Rabu, 07 April 2010
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (14)
KOK KAMU BISA HIDUP ?
Sebuah pertanyaan yang selayaknya tidak usah pernah didengar siapapun, apalagi dilontarkan oleh kita kepada siapapun. Sangat tidak manusiawi !
Tetapi itulah kenyataan hidup, pertanyaan itu terucap begitu saja dari seorang sahabat dan ditunjukkan kepada teman serumah saya. Memang badannya sangat kurus, pucat pasi dan berjalan pun gemetar. Tetapi apapun alasannya, pertanyaan itu sama sekali diucapkan. Apalagi oleh seorang teman sekantor !
Ketika itu kami baru bubar apel pagi, jalan menanjak menuju kantor Bupati dan selanjutkan ke tempat kami bertugas. Kemiringan jalan mendekati 100 % atau 45 derajat. Lumayan curam, tetapi sangat lazim di Kabupaten Tanah Datar yang hanya 3 % wilayahnya saja yang datar itu.
Di saat badan terasa sangat kelelahan, menggandeng teman yang lebih parah yang dipaksakan untuk menanjak tiba-tiba seorang sahabat mendahulu dan dengan ringan berucap, “Kok kamu bisa hidup !”
Ama sekali bukan lelucon, karena dia pun meninggalkan begitu saja kami yang sedang tergopoh kelelahan dan kebingungan, mengapa orang yang sudah seminggu tidak bertemu dengan kami itu berkata demikian. Dari wajahnya pun terpancar mimic kesinisan yang sangat serius.
Tetapi itulah kehidupan, penuh dengan warna. Kami pun tidak terlalu mempermasalahkan pertanyaan yang sangat menyakitkan itu. Apalagi mencurigai yang macam-macam. Sama sekali tidak. Buktinya, sesampai di kantor kami bertegur sapa dan bersendagurau sebagaimana biasa. Tanpa masalah yang mengganjal.
Terlepas dari itu semua maka pertanyaan di atas sesungguhnya sama sekali tidak boleh terucap. Semua manusia mempunyai hak dan peluang yang sama untuk menikmati oksigen gratis pemberian Yang Maha Kasih ini.
Sebuah pertanyaan yang selayaknya tidak usah pernah didengar siapapun, apalagi dilontarkan oleh kita kepada siapapun. Sangat tidak manusiawi !
Tetapi itulah kenyataan hidup, pertanyaan itu terucap begitu saja dari seorang sahabat dan ditunjukkan kepada teman serumah saya. Memang badannya sangat kurus, pucat pasi dan berjalan pun gemetar. Tetapi apapun alasannya, pertanyaan itu sama sekali diucapkan. Apalagi oleh seorang teman sekantor !
Ketika itu kami baru bubar apel pagi, jalan menanjak menuju kantor Bupati dan selanjutkan ke tempat kami bertugas. Kemiringan jalan mendekati 100 % atau 45 derajat. Lumayan curam, tetapi sangat lazim di Kabupaten Tanah Datar yang hanya 3 % wilayahnya saja yang datar itu.
Di saat badan terasa sangat kelelahan, menggandeng teman yang lebih parah yang dipaksakan untuk menanjak tiba-tiba seorang sahabat mendahulu dan dengan ringan berucap, “Kok kamu bisa hidup !”
Ama sekali bukan lelucon, karena dia pun meninggalkan begitu saja kami yang sedang tergopoh kelelahan dan kebingungan, mengapa orang yang sudah seminggu tidak bertemu dengan kami itu berkata demikian. Dari wajahnya pun terpancar mimic kesinisan yang sangat serius.
Tetapi itulah kehidupan, penuh dengan warna. Kami pun tidak terlalu mempermasalahkan pertanyaan yang sangat menyakitkan itu. Apalagi mencurigai yang macam-macam. Sama sekali tidak. Buktinya, sesampai di kantor kami bertegur sapa dan bersendagurau sebagaimana biasa. Tanpa masalah yang mengganjal.
Terlepas dari itu semua maka pertanyaan di atas sesungguhnya sama sekali tidak boleh terucap. Semua manusia mempunyai hak dan peluang yang sama untuk menikmati oksigen gratis pemberian Yang Maha Kasih ini.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (13)
KUNYIT PAK KIYAI
Sesuai dengan amanat Pak Tua yang membantu kami dengan peran goloknya itu, saya berusaha mencari orang yang bisa membantu penderitaan kami. Entah memang karena sudah jalannya, saya pun menemukan sebuah informasi awal yang ternyata tidak jauh dari tempat kami bekerja.
“Tanya ke Ibu Anu saja ya.” Kata seorang sahabat, “Suaminya bisa mengobati yang begituan!”
Teman yang ditunjuk adalah teman baik kami, sekalipun saya boleh bersombong bahwa hampir semua pegawai di Pemda Tanah Datar adalah teman baik. Kami sering berinteraksi karena kebetulan fungsi tempat kerjanya sangat dekat dengan tempat kami bekerja. Selain itu, tempatnya juga sangat dekat, tidak lebih dari 20 meter saja !
Tetapi sungguh beliau sangat arif dan rendah hati, “Ke Buya Anu saja ya …. Suami saya pun kalau ada permasalahan sering datang ke sana.”
Berbekal alamat yang diberikan, saya menuruni bukit dan melintasi tanah kosong yang sangat rindang dan sejuk. Alhamdulillah, yang dicari ketemu dan dengan senang hati menerima kami.
Plong ! Hati pun terasa lega, mudah-mudahan teman yang sedang tak berdaya di rumah dapat pertolongan segera. Saya pun menceritakan tentang penderitaan teman yang luar biasa parahnya itu dan beliau menanggapinya dengan tenang. Terbetiklah sebuah harapan, dapat sehat wal afiat seperti sediakala.
“Saya shalat dulu, Pak !” Kata Buya memasuki kamar khusunya.
Setelah lebih dari setengah jam saya menunggu, beliaupun keluar dari ruangan. Di tangannya ada sedikit beras dan sepotong kunyit. Tidak banyak yang dikatakannya kecuali, “Segera dihaluskan dan diberikan kepada temannya !”
Saya pun segera pulang tanpa basa-basi. Di rumah, sahabat terbaikku sedang bergulat dengan penderitaannya. Pesan dari Buya saya laksanakan dan Alhamdulillah teman yang sangat menderita inipun seakan mempunyai tenaga untuk keluar dari selimut.
Hari itu, mie rebus yang tentu saja rasanya pahit dimakannya. Tambahlah sumber tenaganya sedikit. Badannya berangsur segar dan terlihat sedemikian bugar, twentu saja dibandingkan beberapa hari sebelumnya !
Beberapa jam kemudian, sahabat yang satu ini kelihatan begitu sehat dan segar. Besoknya pun memberanikan masuk kantor sekalipun dengan badan yang masih sangat lemah.
Kesembuhan teman itu pula yang akhirnya menjadikan saya berinisiatif untuk meminta pengobatan dari Buya Anu, pada suatu saat nanti.
Sesuai dengan amanat Pak Tua yang membantu kami dengan peran goloknya itu, saya berusaha mencari orang yang bisa membantu penderitaan kami. Entah memang karena sudah jalannya, saya pun menemukan sebuah informasi awal yang ternyata tidak jauh dari tempat kami bekerja.
“Tanya ke Ibu Anu saja ya.” Kata seorang sahabat, “Suaminya bisa mengobati yang begituan!”
Teman yang ditunjuk adalah teman baik kami, sekalipun saya boleh bersombong bahwa hampir semua pegawai di Pemda Tanah Datar adalah teman baik. Kami sering berinteraksi karena kebetulan fungsi tempat kerjanya sangat dekat dengan tempat kami bekerja. Selain itu, tempatnya juga sangat dekat, tidak lebih dari 20 meter saja !
Tetapi sungguh beliau sangat arif dan rendah hati, “Ke Buya Anu saja ya …. Suami saya pun kalau ada permasalahan sering datang ke sana.”
Berbekal alamat yang diberikan, saya menuruni bukit dan melintasi tanah kosong yang sangat rindang dan sejuk. Alhamdulillah, yang dicari ketemu dan dengan senang hati menerima kami.
Plong ! Hati pun terasa lega, mudah-mudahan teman yang sedang tak berdaya di rumah dapat pertolongan segera. Saya pun menceritakan tentang penderitaan teman yang luar biasa parahnya itu dan beliau menanggapinya dengan tenang. Terbetiklah sebuah harapan, dapat sehat wal afiat seperti sediakala.
“Saya shalat dulu, Pak !” Kata Buya memasuki kamar khusunya.
Setelah lebih dari setengah jam saya menunggu, beliaupun keluar dari ruangan. Di tangannya ada sedikit beras dan sepotong kunyit. Tidak banyak yang dikatakannya kecuali, “Segera dihaluskan dan diberikan kepada temannya !”
Saya pun segera pulang tanpa basa-basi. Di rumah, sahabat terbaikku sedang bergulat dengan penderitaannya. Pesan dari Buya saya laksanakan dan Alhamdulillah teman yang sangat menderita inipun seakan mempunyai tenaga untuk keluar dari selimut.
Hari itu, mie rebus yang tentu saja rasanya pahit dimakannya. Tambahlah sumber tenaganya sedikit. Badannya berangsur segar dan terlihat sedemikian bugar, twentu saja dibandingkan beberapa hari sebelumnya !
Beberapa jam kemudian, sahabat yang satu ini kelihatan begitu sehat dan segar. Besoknya pun memberanikan masuk kantor sekalipun dengan badan yang masih sangat lemah.
Kesembuhan teman itu pula yang akhirnya menjadikan saya berinisiatif untuk meminta pengobatan dari Buya Anu, pada suatu saat nanti.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (12)
MIE PAHIT KESUKAANKU ….
Demam berbilang minggu, hanya mau dan tidak mau hidup dalam kemul tebal selimut. Saya dan teman saya alami, sama persis berbagai gejala yang ditimbulkan. Demikian juga dugaan dokter yang menjadi tempat kami berharap sembuh. Typhus, lagi-lagi penyakit itulah yang menjadi kambing hitam.
Memang patut diakui, bahwa saat itu kami benar-benar mendapatkan apa yang kami harapkan dulu. Dulu melamar pekerjaan dan didapatlah pekerjaan itu. Tidak tanggung-tanggung, sering bermalam di kantor, subuh pulang dan beberapa jam kemudian harus sudah apel pagi jam 7 teng.
Makan tidak teratur, mungkin saja dugaan yang satu ini benar. Juga berbagai kelelahan yang bertumpuk membuat kondisi tubuh memang harus istirahat total. Tetapi, upaya ke dokter ternyata bukanlah solusi yang tepat. Seperti diceritakan sebelumnya, setiap obat dikonsumsi maka saat itulah penderitaan baru dimulai. Mulai perut yang makin tak karuan sampat demam yang semakin menggigil dan mengeluarkan isi perut yang memang kosong dari mulut.
Kembali kepada penderitaan yang kami berdua rasakan, waktu terjadinya hampir bersamaan. Selang satu minggu saja, sayalah yang mengalami kejadian itu duluan. Penderitaan yang membuat saya hampir tidak bisa beranjak dari tempat tidur.
Tetapi, bagaimanapun juga saya merasa harus bisa menghidupi diri sendiri. Di rumah kontrakan itu, kami berdua adalah laki-laki yang meninggalkan anak istreri untuk pekerjaan. Sesuai dengan keinginan semula, melamar pekerjaan ! Oleh karena itu segala aktivitas, mulai dari ke pasar sampai menyediakan masakan untuk makan sehari-hari dilakukan sendiri.
Saat sakit yang penuh penderitaan pun kegiatan rutin harus tetap dijalankan kecuali mau makin mengkombinasikan penderitaan dengan kelaparan. Herannya, apa pun yang dimasak, selalu saja perut ini menolak. Bahkan sebenarnya, mulut put tidak mau kompromi. Rasanya pahit ! menjadi jauh lebih pahit ketika makanan itu dikunyah.
Itulah sebabnya di kepala segera terbayang nikmatnya makanan favori, mie rebus. Makanan instant inilah yang memang saya gemari semenjak puluhan tahun sebelumnya. Bukan hanya karena praktis tetapi juga murah meriah.
Tetapi apa daya, mie rebus pun ternyata sama pahitnya dengan makanan yang lain. Makin ditelan, rasa pahit semakin dalam. Perut pun berontak menerimanya. Beerapa kali harus dikeluarkan dan pada saat yang sama saya menahannya dengan penuh penderitaan.
Praktis selama seminggu, hanya mie rebus itulah yang menjadi menu harian yang masih mengisi hari-hari sakit. Tentu saja air putih tak ketinggalan, sekalipun kota tempat kami tinggal sangat sejuk namun saya berusaha minum sebanyak-banyaknya. Itulah cara yang harus ditempuh kalau mau bertahan hidup !
Konsumsi mie pahit itulah ternyata yang membedakan saya dengan teman kontrakan. Mie pahit itu pulalah yang menyebabkan saya cukup bisa bertahan hidup atau bahkan membantu mencari pengobatan ketika teman satu-satunya ini harus diobati secara serius.
Mie pahit itu pula yang menyebabkan saya mempunayi semangat hidup lebih. Sehat dan sangat sehat, dibandingkan dengan teman serumah yang sangat perlu pertolongan karena badannya yang kurus semakin kering, tanpa isi.
Mie pahit, terimakasih karena peranmulah perut tidak terlalu keroncongan dan penderitaan kami berdua semakin pahit.
Demam berbilang minggu, hanya mau dan tidak mau hidup dalam kemul tebal selimut. Saya dan teman saya alami, sama persis berbagai gejala yang ditimbulkan. Demikian juga dugaan dokter yang menjadi tempat kami berharap sembuh. Typhus, lagi-lagi penyakit itulah yang menjadi kambing hitam.
Memang patut diakui, bahwa saat itu kami benar-benar mendapatkan apa yang kami harapkan dulu. Dulu melamar pekerjaan dan didapatlah pekerjaan itu. Tidak tanggung-tanggung, sering bermalam di kantor, subuh pulang dan beberapa jam kemudian harus sudah apel pagi jam 7 teng.
Makan tidak teratur, mungkin saja dugaan yang satu ini benar. Juga berbagai kelelahan yang bertumpuk membuat kondisi tubuh memang harus istirahat total. Tetapi, upaya ke dokter ternyata bukanlah solusi yang tepat. Seperti diceritakan sebelumnya, setiap obat dikonsumsi maka saat itulah penderitaan baru dimulai. Mulai perut yang makin tak karuan sampat demam yang semakin menggigil dan mengeluarkan isi perut yang memang kosong dari mulut.
Kembali kepada penderitaan yang kami berdua rasakan, waktu terjadinya hampir bersamaan. Selang satu minggu saja, sayalah yang mengalami kejadian itu duluan. Penderitaan yang membuat saya hampir tidak bisa beranjak dari tempat tidur.
Tetapi, bagaimanapun juga saya merasa harus bisa menghidupi diri sendiri. Di rumah kontrakan itu, kami berdua adalah laki-laki yang meninggalkan anak istreri untuk pekerjaan. Sesuai dengan keinginan semula, melamar pekerjaan ! Oleh karena itu segala aktivitas, mulai dari ke pasar sampai menyediakan masakan untuk makan sehari-hari dilakukan sendiri.
Saat sakit yang penuh penderitaan pun kegiatan rutin harus tetap dijalankan kecuali mau makin mengkombinasikan penderitaan dengan kelaparan. Herannya, apa pun yang dimasak, selalu saja perut ini menolak. Bahkan sebenarnya, mulut put tidak mau kompromi. Rasanya pahit ! menjadi jauh lebih pahit ketika makanan itu dikunyah.
Itulah sebabnya di kepala segera terbayang nikmatnya makanan favori, mie rebus. Makanan instant inilah yang memang saya gemari semenjak puluhan tahun sebelumnya. Bukan hanya karena praktis tetapi juga murah meriah.
Tetapi apa daya, mie rebus pun ternyata sama pahitnya dengan makanan yang lain. Makin ditelan, rasa pahit semakin dalam. Perut pun berontak menerimanya. Beerapa kali harus dikeluarkan dan pada saat yang sama saya menahannya dengan penuh penderitaan.
Praktis selama seminggu, hanya mie rebus itulah yang menjadi menu harian yang masih mengisi hari-hari sakit. Tentu saja air putih tak ketinggalan, sekalipun kota tempat kami tinggal sangat sejuk namun saya berusaha minum sebanyak-banyaknya. Itulah cara yang harus ditempuh kalau mau bertahan hidup !
Konsumsi mie pahit itulah ternyata yang membedakan saya dengan teman kontrakan. Mie pahit itu pulalah yang menyebabkan saya cukup bisa bertahan hidup atau bahkan membantu mencari pengobatan ketika teman satu-satunya ini harus diobati secara serius.
Mie pahit itu pula yang menyebabkan saya mempunayi semangat hidup lebih. Sehat dan sangat sehat, dibandingkan dengan teman serumah yang sangat perlu pertolongan karena badannya yang kurus semakin kering, tanpa isi.
Mie pahit, terimakasih karena peranmulah perut tidak terlalu keroncongan dan penderitaan kami berdua semakin pahit.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (11)
BATANG ANAK PISANG YANG MUJARAB
Seminggu hanyalah tujuh hari. Bukan waktu yang lama, terlalu singkat. Tetapi bisa juga merupakan waktu yang sangat lama, teramat lama. Apalagi kalau seminggu terus-menerus tidak bisa melepas diri dari selimut !
Seminggu sudah teman kost mengalami apa yang pernah saya derita. Hampir tidak ada makanan yang pernah masuk, kecuali terpaksa sebelum minum obat dari dokter yang lebih sering membuat badan makin lenenger ! Tidak mengherankan kalau badannya yang kurus semakin tampak hanya tulang berbalut kulit.
Ketidakhadiran teman yang satu ini di kantor tentu mengundang tanya beberapa teman. Ada keprihatinan, banyak yang menarik nafas membayangkan kalau hal yang sama terjadi pada mereka -saat jauh dari keluarga, sakit teramat keras. Satu diantara mereka ada yang menyarankan untuk bertanya kepada penjaga kantor.
Terdorong oleh rasa penasaran akibat berbagai obat yang justeru membuat badan sakit luar biasa, maka saran dari salah satu teman diikuti. Selepas ashar saya mengunjungi rumah mungilnya.
“Ada apa, Mas ?”
Saya pun menceritakan tentang teman kost yang tidak sanggup keluar dari selimut sama sekali. Teramat lama, dan makin menderita. Tanpa banyak tanya, beliau mengajak saya ke belakang. Menembus rumah dan pekarangan.
Di tengahpekarangan yang dikelilingi tanaman keras terdapat sebuah gubuk. Seorang lelaki separuh baya menambut kedatangan kami dengan ramah. Keduanya terlibat pembicaraan yang sangat serius.
“Begini, Mas.” Si Bapak memulai pembicaraan, “Kalau golok ini berhenti, berarti Ya!” Katanya sambil menggerakan golok di atas batu asahan.
“Apakah sakitnya akibat dibuat orang ?” Golok tiba-tiba tidak dapat digerakkan. Berarti betul kalau sakit teman kost saya bukan sembarang sakit, tentu menurut versi Si Bapak. Kemudian ditanyakan tentang orang yang berbuat, ciri-ciri –bentuk rambutnya, wajah dan sebagainya.
“Apakah di kantor ada teman yang ciri-cirinya sama dengan yang disebutkan ?”
Saya hanya bisa mengangguk. Kata-katanya sama sekali tidak terbantahkan karena beliau juga menyebut inisial namanya. Sungguh tidak terpikirkan oleh akal sehat, karena lelaki yang tinggal sendiri di gubuk itu sama sekali tidak mengenal teman-teman kami.
“Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Mas,” katanya merendah, “Kirimannya sangat kuat. Nanti segera cari orang yang kuat melawannya.” Lagi-lagi saya hanya bisa menganggukan kepala.
Beliau langsung meninggalkan kami, mengambil sebatang anak pisang yang masih kecil. Mencacah batang pisang dan membacakan beberapa kalimat yang tidak saya mengerti pada air putih di gelasnya dan memberikan keduanya pada saya.
“Sesampai di rumah, segera balurkan air ini ke seluruh tubuh temannya.” Saya hanya mengangguk dan berucap terimakasih. “Jangan lupa, segera cari orang yang kuat !”
Sesampai di rumah, pesan pertamanya segera saya laksanakan. Dalam sekejap, badan teman saya langsung kelihatan segar dan sanggup menghabiskan makanan yang telah saya siapkan. Alhamdulillah, segar sekali.
Pesan beliau untuk mencari orang yang lebih kuat, kami bicarakan dengan serius. Maklum, sama-sama tidak tahu dan mengerti tentang berbagai keanehan yang dialami ini. Terbesit beberapa rencana, walaupun rencana yang masih buta. Tanpa petunjuk sama sekali.
Tetapi yang jelas, sore itu obat dari dokter tidak lagi diminum. Tidak mau lagi makin menderita !
Seminggu hanyalah tujuh hari. Bukan waktu yang lama, terlalu singkat. Tetapi bisa juga merupakan waktu yang sangat lama, teramat lama. Apalagi kalau seminggu terus-menerus tidak bisa melepas diri dari selimut !
Seminggu sudah teman kost mengalami apa yang pernah saya derita. Hampir tidak ada makanan yang pernah masuk, kecuali terpaksa sebelum minum obat dari dokter yang lebih sering membuat badan makin lenenger ! Tidak mengherankan kalau badannya yang kurus semakin tampak hanya tulang berbalut kulit.
Ketidakhadiran teman yang satu ini di kantor tentu mengundang tanya beberapa teman. Ada keprihatinan, banyak yang menarik nafas membayangkan kalau hal yang sama terjadi pada mereka -saat jauh dari keluarga, sakit teramat keras. Satu diantara mereka ada yang menyarankan untuk bertanya kepada penjaga kantor.
Terdorong oleh rasa penasaran akibat berbagai obat yang justeru membuat badan sakit luar biasa, maka saran dari salah satu teman diikuti. Selepas ashar saya mengunjungi rumah mungilnya.
“Ada apa, Mas ?”
Saya pun menceritakan tentang teman kost yang tidak sanggup keluar dari selimut sama sekali. Teramat lama, dan makin menderita. Tanpa banyak tanya, beliau mengajak saya ke belakang. Menembus rumah dan pekarangan.
Di tengahpekarangan yang dikelilingi tanaman keras terdapat sebuah gubuk. Seorang lelaki separuh baya menambut kedatangan kami dengan ramah. Keduanya terlibat pembicaraan yang sangat serius.
“Begini, Mas.” Si Bapak memulai pembicaraan, “Kalau golok ini berhenti, berarti Ya!” Katanya sambil menggerakan golok di atas batu asahan.
“Apakah sakitnya akibat dibuat orang ?” Golok tiba-tiba tidak dapat digerakkan. Berarti betul kalau sakit teman kost saya bukan sembarang sakit, tentu menurut versi Si Bapak. Kemudian ditanyakan tentang orang yang berbuat, ciri-ciri –bentuk rambutnya, wajah dan sebagainya.
“Apakah di kantor ada teman yang ciri-cirinya sama dengan yang disebutkan ?”
Saya hanya bisa mengangguk. Kata-katanya sama sekali tidak terbantahkan karena beliau juga menyebut inisial namanya. Sungguh tidak terpikirkan oleh akal sehat, karena lelaki yang tinggal sendiri di gubuk itu sama sekali tidak mengenal teman-teman kami.
“Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Mas,” katanya merendah, “Kirimannya sangat kuat. Nanti segera cari orang yang kuat melawannya.” Lagi-lagi saya hanya bisa menganggukan kepala.
Beliau langsung meninggalkan kami, mengambil sebatang anak pisang yang masih kecil. Mencacah batang pisang dan membacakan beberapa kalimat yang tidak saya mengerti pada air putih di gelasnya dan memberikan keduanya pada saya.
“Sesampai di rumah, segera balurkan air ini ke seluruh tubuh temannya.” Saya hanya mengangguk dan berucap terimakasih. “Jangan lupa, segera cari orang yang kuat !”
Sesampai di rumah, pesan pertamanya segera saya laksanakan. Dalam sekejap, badan teman saya langsung kelihatan segar dan sanggup menghabiskan makanan yang telah saya siapkan. Alhamdulillah, segar sekali.
Pesan beliau untuk mencari orang yang lebih kuat, kami bicarakan dengan serius. Maklum, sama-sama tidak tahu dan mengerti tentang berbagai keanehan yang dialami ini. Terbesit beberapa rencana, walaupun rencana yang masih buta. Tanpa petunjuk sama sekali.
Tetapi yang jelas, sore itu obat dari dokter tidak lagi diminum. Tidak mau lagi makin menderita !
Senin, 05 April 2010
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (10)
OBAT TYPHUS YANG BIKIN MAMPUS
Seminggu sudah teman serumah, Endang Sumirat, hidup dalam selimut. Badannya kurus kering, apalagi memang dari semula sudah kurus. Mukanya pucat pasi, wujud kepasrahan terhadap penyakit yang sangat menyiksa.
Seperti sudah diceritakan sebelumnya, berobat ke dokter juga ditempuh sekalipun hasilnya tidak makasimal. Namun tidak patah arang. Mungkin belum cocok saja, berobat ke dokter juga cocok-cocok-an kok.
Berdasarkan informasi dari rekan di kantor, ada dokter yang biasanya selalu memberikan obat yang ampuh. Mantan dokter yang bertugas di kepolisian. Dari latar belakang dan pengalamannya dapat diperkirakan bahwa beliau akan memberi pasiennya obat yang mujarab.
Ba’da ashar kami berjalan kaki, hanya seratusan meter dari rumah kost. Cape juga, jalan menanjak. Kami adalah pasien pertama sehingga langsung ditangani dengan cepat.
“Wah, typhus,” katanya, “Saya kasih obet yang paling bagus.”
Kami hanya mengiyakan.
“Paling juga besok pagi bisa masuk kantor lagi.” Katanya membesarkan hati.
Dengan penuh rasa optimis kami meninggalkan rumah dokter praktek tersebut. Namun baru beberapa meter keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Endang memegang perutnya dan langsung muntah-muntah. Tentu saja tidak ada yang dapat dimuntahkan karena perut tidak berisi selama beberapa hari.
Cukup lama untuk mengembalikan stamina yang sudah sedemikian rendah. Dengan terhuyung-huyung kami menuruni jalan ke rumah kost. Sangat melelahkan. Perlu diketahui bahwa saat itu tidak ada kendaraan umum yang beroperasi, melewati jalan depan rumah kami.
Sesampai di rumah maka obat mujarab dari dokter segera diminum setelah beberapa sendok makan malam masuk ke perut. Tentu saja satu-satunya harapan adalah segera segar-bugar seperti yang dikatakan dokter tadi, bisa segera ke kantor.
Pengalaman dokter menangani banyak pasien dengan gejala seperti teman yang satu ini ternyata tidak selalu benar. Malah langsung muntah dengan perut yang kelihatan sangat sakit. Dingin pun tidak hilang sama sekali. Tetap seperti beberapa hari sebelumnya.
Tengah malam, obat diminum kembali. Kesembuhan sama sekali jauh, justeru rasa sakit yang luas biasa yang menyerang. Endang merintih kesakitan dan dagunya bergetar kedinginan.
Malam itu menjadi malam yang paling merepotkan, penderitaan panjang yang sangat berat untuk dirasakan. Malam itu, menjadi malam yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan.
Esok paginya, dugaan dokter sama sekali tidak berlaku. Bahkan ketika setelah sarapan langsung mengonsumsi obat yang diberikan. Ternyata makin sakit dan sakit. Rasa sakit luar biasa ini jauh melebihi penderitaan sebelumnya.
Melihat kondisi yang makin memprihatinkan tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali bertanya kepada beberapa orang teman. Ada yang memberi alamat doktor ahli penyakit dalam di Bukittinggi, ada yang memberikan alamat dokter yang selama ini sangat bagus menangani pasien yang terserang typhus. Ada juga yang menawarkan pengobatan di luar ilmu kedokteran.
Dari beberapa saran dan pendapat, dengan berbagai pertimbangan, mulai dari masalah keterbatasan biasa maupun tingkat ketidak-percayaan yang makin tinggi tehadap dokter (mohon maaf, sudah berulang-ulang berobat ke dokter, baik saya mauoun teman saya ini tidak menunjukkan adanya perbaikan, malah menderita). Oleh karena itu saya mengambil alternatif terakhir.
Beruntung ada yang mau mengantar ke rumah orang pinter. Ceritanya nanti, bersambung....
Seminggu sudah teman serumah, Endang Sumirat, hidup dalam selimut. Badannya kurus kering, apalagi memang dari semula sudah kurus. Mukanya pucat pasi, wujud kepasrahan terhadap penyakit yang sangat menyiksa.
Seperti sudah diceritakan sebelumnya, berobat ke dokter juga ditempuh sekalipun hasilnya tidak makasimal. Namun tidak patah arang. Mungkin belum cocok saja, berobat ke dokter juga cocok-cocok-an kok.
Berdasarkan informasi dari rekan di kantor, ada dokter yang biasanya selalu memberikan obat yang ampuh. Mantan dokter yang bertugas di kepolisian. Dari latar belakang dan pengalamannya dapat diperkirakan bahwa beliau akan memberi pasiennya obat yang mujarab.
Ba’da ashar kami berjalan kaki, hanya seratusan meter dari rumah kost. Cape juga, jalan menanjak. Kami adalah pasien pertama sehingga langsung ditangani dengan cepat.
“Wah, typhus,” katanya, “Saya kasih obet yang paling bagus.”
Kami hanya mengiyakan.
“Paling juga besok pagi bisa masuk kantor lagi.” Katanya membesarkan hati.
Dengan penuh rasa optimis kami meninggalkan rumah dokter praktek tersebut. Namun baru beberapa meter keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Endang memegang perutnya dan langsung muntah-muntah. Tentu saja tidak ada yang dapat dimuntahkan karena perut tidak berisi selama beberapa hari.
Cukup lama untuk mengembalikan stamina yang sudah sedemikian rendah. Dengan terhuyung-huyung kami menuruni jalan ke rumah kost. Sangat melelahkan. Perlu diketahui bahwa saat itu tidak ada kendaraan umum yang beroperasi, melewati jalan depan rumah kami.
Sesampai di rumah maka obat mujarab dari dokter segera diminum setelah beberapa sendok makan malam masuk ke perut. Tentu saja satu-satunya harapan adalah segera segar-bugar seperti yang dikatakan dokter tadi, bisa segera ke kantor.
Pengalaman dokter menangani banyak pasien dengan gejala seperti teman yang satu ini ternyata tidak selalu benar. Malah langsung muntah dengan perut yang kelihatan sangat sakit. Dingin pun tidak hilang sama sekali. Tetap seperti beberapa hari sebelumnya.
Tengah malam, obat diminum kembali. Kesembuhan sama sekali jauh, justeru rasa sakit yang luas biasa yang menyerang. Endang merintih kesakitan dan dagunya bergetar kedinginan.
Malam itu menjadi malam yang paling merepotkan, penderitaan panjang yang sangat berat untuk dirasakan. Malam itu, menjadi malam yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan.
Esok paginya, dugaan dokter sama sekali tidak berlaku. Bahkan ketika setelah sarapan langsung mengonsumsi obat yang diberikan. Ternyata makin sakit dan sakit. Rasa sakit luar biasa ini jauh melebihi penderitaan sebelumnya.
Melihat kondisi yang makin memprihatinkan tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali bertanya kepada beberapa orang teman. Ada yang memberi alamat doktor ahli penyakit dalam di Bukittinggi, ada yang memberikan alamat dokter yang selama ini sangat bagus menangani pasien yang terserang typhus. Ada juga yang menawarkan pengobatan di luar ilmu kedokteran.
Dari beberapa saran dan pendapat, dengan berbagai pertimbangan, mulai dari masalah keterbatasan biasa maupun tingkat ketidak-percayaan yang makin tinggi tehadap dokter (mohon maaf, sudah berulang-ulang berobat ke dokter, baik saya mauoun teman saya ini tidak menunjukkan adanya perbaikan, malah menderita). Oleh karena itu saya mengambil alternatif terakhir.
Beruntung ada yang mau mengantar ke rumah orang pinter. Ceritanya nanti, bersambung....
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (9)
SEMINGGU DALAM SELIMUT
Tidak berapa lama setelah kejadian yang unik bersama kasur Bengkulu, saya mengalami kesakitan luar biasa. Bukan hanya dingin yang selalu menyerang pada waktu tertentu tetapi juga diiringi dengan tidak mau masuknya bahan makanan apapun ke dalam perut.
Dingin bukan hanya menyerang saat pulang kantor, beberapa kali harus pulang duluan karena tak tahan menderita di kantor. Tetapi, di rumah bukan istirahat, malah menjadi makin kumat. Kasur pun jadi selimut, keringat mengucur di atas kulit yang tersa sangat dingin.
Mungkin makanan yang tersedia tidak menarik, rasa lapar tidak pernah muncul. Tetapi tidak, pernah juga membeli makanan favorit dari warung tetapi tidak juga selera makan bangkit. Ketika dipaksakan, maka rasanya pahit dan tidak menentu, sangat tidak biasa.
Menyadari adanya kejanggalan ini, say tidak mau kalh oleh penyakit. Harus tetap makan ! Indomie makanan ter-favorit, tentu akan bisa membangkitkan. Tetapi tidak, lagi-lagi makanan enak yang satu ini pun tidak berasa sebagaimana biasa. Di mulut sudah ditolak, pahit luar biasa. Tetapi saya yakin bahwa akan lebih pahit lagi kalau saya tidak menelannya.
Itulah sebabnya, dalam keadaan sakit yang terus menerus dan makin menderita, saya terus menikmati makanan sekalipun pahit rasanya. Tidak lama kemudian penderitaan itu berakhir, satu minggu saja. Saya pun harus merasa sehat seperti sedia kala, sekalipun sebenarnya masih sangat sakit.
Keterpaksaan sehat itu bukan tidak beralasan, teman serumah mengalami hal yang sama. Hanya berdiam diri dalam selimut dan tidak mau makan sama sekali. Baru beberapa hari, badannya yang kurus bertambah kecil, tinggal kulit berbalut tulang.
Bukan tidak mau berobat ke dokter, upaya itu juga ditempuh. Namun sekalipun obat diminum sesuai dengan aturan, ternyata tidak banyak membantu. Deman tinggi, keringat menucur terus dan selalu kedinginan sehingga tidak mau beranjak dari tempat tidur untuk lepas dari buntelan selimut !
Dipikir lagi, sulit rasanya untuk sembuh kalau makan saja sudah tidak mau sama sekali. Oleh karena itu, hal yang pertama dilakukan adalah memaksakan untuk mengisi perut sekalipun semuanya terasa sangat menyiksa. Pengalaman mengalami hal yang sama merupakan rumus jitu untuk memberi semangat makan kepada teman yang satu ini. Semua terasa pahit tetapi akan lebih pahit lagi kalau terus-terusan sakit.
Praktis, kehidupan di balik selimut berlangsung lama juga. Satu minggu. Badannya yang kecil semakin kecil lagi sekalipun dalam beberapa hari terakhir sudah bisa diisi dengan makanan seadanya. Belum sembuh benar, tetapi perut yang berisi merupakan langkah awal untuk menuju kesehatan selanjutnya.
Tidak berapa lama setelah kejadian yang unik bersama kasur Bengkulu, saya mengalami kesakitan luar biasa. Bukan hanya dingin yang selalu menyerang pada waktu tertentu tetapi juga diiringi dengan tidak mau masuknya bahan makanan apapun ke dalam perut.
Dingin bukan hanya menyerang saat pulang kantor, beberapa kali harus pulang duluan karena tak tahan menderita di kantor. Tetapi, di rumah bukan istirahat, malah menjadi makin kumat. Kasur pun jadi selimut, keringat mengucur di atas kulit yang tersa sangat dingin.
Mungkin makanan yang tersedia tidak menarik, rasa lapar tidak pernah muncul. Tetapi tidak, pernah juga membeli makanan favorit dari warung tetapi tidak juga selera makan bangkit. Ketika dipaksakan, maka rasanya pahit dan tidak menentu, sangat tidak biasa.
Menyadari adanya kejanggalan ini, say tidak mau kalh oleh penyakit. Harus tetap makan ! Indomie makanan ter-favorit, tentu akan bisa membangkitkan. Tetapi tidak, lagi-lagi makanan enak yang satu ini pun tidak berasa sebagaimana biasa. Di mulut sudah ditolak, pahit luar biasa. Tetapi saya yakin bahwa akan lebih pahit lagi kalau saya tidak menelannya.
Itulah sebabnya, dalam keadaan sakit yang terus menerus dan makin menderita, saya terus menikmati makanan sekalipun pahit rasanya. Tidak lama kemudian penderitaan itu berakhir, satu minggu saja. Saya pun harus merasa sehat seperti sedia kala, sekalipun sebenarnya masih sangat sakit.
Keterpaksaan sehat itu bukan tidak beralasan, teman serumah mengalami hal yang sama. Hanya berdiam diri dalam selimut dan tidak mau makan sama sekali. Baru beberapa hari, badannya yang kurus bertambah kecil, tinggal kulit berbalut tulang.
Bukan tidak mau berobat ke dokter, upaya itu juga ditempuh. Namun sekalipun obat diminum sesuai dengan aturan, ternyata tidak banyak membantu. Deman tinggi, keringat menucur terus dan selalu kedinginan sehingga tidak mau beranjak dari tempat tidur untuk lepas dari buntelan selimut !
Dipikir lagi, sulit rasanya untuk sembuh kalau makan saja sudah tidak mau sama sekali. Oleh karena itu, hal yang pertama dilakukan adalah memaksakan untuk mengisi perut sekalipun semuanya terasa sangat menyiksa. Pengalaman mengalami hal yang sama merupakan rumus jitu untuk memberi semangat makan kepada teman yang satu ini. Semua terasa pahit tetapi akan lebih pahit lagi kalau terus-terusan sakit.
Praktis, kehidupan di balik selimut berlangsung lama juga. Satu minggu. Badannya yang kecil semakin kecil lagi sekalipun dalam beberapa hari terakhir sudah bisa diisi dengan makanan seadanya. Belum sembuh benar, tetapi perut yang berisi merupakan langkah awal untuk menuju kesehatan selanjutnya.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (8)
KASUR BENGKULU BERPAKU
Sungguh mengundang rasa untuk memiliki jika melihat kasur dengan warna unik menantang mata. Hijau, merah, biru mencolok berpadu dengan kilauan warna cemerlang. Kasur tipis (hanya sekitar 5 cm) yang dilengkapi masing-masing 2 bantal guling dan bantal biasa, keduanya dalam ukuran yang kecil, menambah daya tarik tersendiri.
Tentu saja saya lebih menjadi jauh lebih tertarik karena belum memiliki tempat tidur yang bisa digunakan melepas lelah dengan lebih nyaman. Selama ini, tidur cukup beralas tikar, dengan harapan tidak terlalu lama bertugas dapat pindah tugas ke Jawa lagi. Ternyata proses pindah tugas tidak semudah yang diharapkan.
Itulah sebabnya kasur Bengkulu menjadi sangat penting untuk segera dimiliki. Bermodalkan kepercayaan, bendahara gaji menjadi perantara agar kasur indah itu menjadi aset di tempat kos kami.
Ternyata, enak sekali tidur di kasur ...!
Kenyamanan ternyata tidak berlangsung lama, baru sekitar satu bulan menikmati tidur enak, tiba-tiba badan menjadi sangat tidak menentu. Dingin tidak tertahankan, padahal waktu baru menunjukkan jan 4 sore lebih sedikit. Kami pun baru saja pulang dari kantor.
Memang, Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar tempat kami bertugas merupakan kota yang sejuk. Terlalu sejuk untuk saya yang berasal dari daerah pantai utara Pulau Jawa. Tetapi, sore itu benar-benar dingin !
Apa boleh buat, minum obat flu dan selimut pun segera ditarik. Kalau sudah demikian maka biasanya langsung bisa tertidur lelap dan terbangun dalam keadaan segar-bugar. Tetapi sore itu berbeda keadaannya, selimut tidak terlalu banyak membantu. Akhirnya kasur Bengkulu pun menjadi pelengkap, menyelimuti seluruh tubuh.
Dingin.... Dingin.... Dingin...!
Sangat dingin dan semakin dingin. Ironisnya, keringat mengucur deras. Membasahi selimut dan kasur yang membungkus tubuh. Kucuran air ternyata tidak menjadikan suasana menjadi hanyat tetapi sebaliknya, dingin sekali.
Menjelang maghrib, saya memaksakan diri untuk bangkit dan menjalankan kewajiban. Terus berdo’a dan berdo’a memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa sembuh sebagaimana sedia kala. Alhamdulillah, bisa terlelap sangat nyenyak sampai adzan isya memanggil.
Berdo’a dan terus berdo’a. Hanya itu yang dapat saya lakukan. Pergi ke dokter malam hari sungguh tidak sanggup. Di kamar saja dinginnya luar biasa, apalagi di luar, pasti jauh lebih dingin. Jarak ke rumah dokter pun tidak dekat, sekitar satu kilometer.
Malam itu, malam yang penuh do’a dengan satu harapan, sembuh dari peyakit yang aneh itu. Sampai lebih dari tengah malam, dalam keadaan badan menggigil tak tertahankan saya terus memohon kepada Yang Maha Penyembuh.
Esok harinya, saya memegang sesuatu yang aneh. Di balik kehalusan kapuk kasur Bengkulu terdapat benjolan benda keras. Saya mengamatinya dan mencoba mengeluarkannya, sedikit demi sedikit. Akhirnya bisa dikeluarkan juga.
Benda keras itu ternyata, batang yang biasa menutup buah kapuk. Waktu kecil, saya mempermainkan benda itu untuk membuat lampu-lampuan. Dengan sedikit kapuk dan minyak tanah, batang itu menjadi tandon lampu mini yang bisa menyala beberapa saat.
Alhamdulillah, pagi hari itu saya kembali bisa ngantor. Seperti tidak ada masalah kesehatan sebelumnya. Siang harinya pun tidak ada kendala ataupun gejala yang aneh, semua berjalan lancar-lancar saja.
Tetapi sepulang kantor semua berubah. Baru memasuki rumah, badan sudah menggigil. Sangat dingin. Lebih dingin daripada kemarin. Langsung saja saya selimuti badan dengan selimut dan juga kasur tipis itu.
Lagi-lagi, menutup rapat badan tidak menolong saya dari dingin yang melanda. Hanya mengeluarkan keringat yang membuat badan semakin dingin. Sore itu saya memaksakan diri ke dokter, dapat pertolongan yang tidak sedikit. Badan kembali normal dan terasa enak.
Obat yang diberikan pun saya minum sesuai aturan, tetapi rasa dingin yang kembali menyerang setelah kembali ke rumah tidak juga berkurang. Rasanya pertolongan dokter tidak berlaku lagi ketika sudah tida di rumah. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah kembali dan selalu meminta kepada Yang Maha Penyembuh.
Mungkin pengaruh obat juga yang meyebabkan saya akhirnya dapat terlelap tidur sampai pagi. Lagi-lagi, ada benda keras menyentuh. Lancip, tajam dan pangkalnya berbentuk setengah lingkaran.
Ternyata benda itu adalah peniti yang alhamdulillah tidak menyentuh bagian tubuh. Saya tidak dapat membayangkan kalau bagian lancipnya menyentuh kepala, tentu sangat menyakitkan. Belum lagi efek infeksi yang ditimbulkannya. Saya menggigil, merinding tidak menentu.
Lagi-lagi, suatu karunia yang luar biasa. Bukan hanya selamat dari tajamnya peniti, pagi itu saya pun terasa sangat segar. Pergi ke kantor seperti biasa.
Namun di sore hari, lagi-lagi ras dingin menyerang. Sangat dingin dibanding dua hari sebelumnya. Tentu sangat mengherankan karena saya sudah meminum obat dari dokter sesuai dengan aturan.
Bukan karena tidak percaya obat dokter kalau malam itu saya memutuskan hanya tinggal di rumah. Hanya berdo’a dan terus berdo”a. Keajaiban malam pun saya rasakan dengan nikmat. Tidur nyenyak sekalipun bersimbah keringat.
Untuk ketiga kalinya benda keras terasa di balik kasur Bengkulu itu. Ternyata sebuah paku besar, panjangnya tidak lebih dari 10 cm. Sunggguh beruntung, paku berkarat itu tidak menyentuh badan sama sekali.
Sama sekali tidak terpikir sedikitpun kalau benda-benda itu ada hubungannya dengan rasa sakit yang saya derita selama tiga hari berturut-turut. Tetapi semenjak ketiga benda itu ditemukan, rasa dingin yang biasanya melanda tidak dirasakan lagi sepulang kantor berikutnya. Alhamdulillahhirobbil alamin.
Namun saya sempat heran, dan terus membolak-balik kasur Bengkulu itu. Bagian-demi bagian. Mencari bekas mengeluarkan ketiga benda yang ditemukan sebelumnya. Ternyata sama sekali tidak ada bekasnya. Ketiga benda itu pun tidak ada lagi di tempat saya sempat menyimpannya.
Sungguh mengundang rasa untuk memiliki jika melihat kasur dengan warna unik menantang mata. Hijau, merah, biru mencolok berpadu dengan kilauan warna cemerlang. Kasur tipis (hanya sekitar 5 cm) yang dilengkapi masing-masing 2 bantal guling dan bantal biasa, keduanya dalam ukuran yang kecil, menambah daya tarik tersendiri.
Tentu saja saya lebih menjadi jauh lebih tertarik karena belum memiliki tempat tidur yang bisa digunakan melepas lelah dengan lebih nyaman. Selama ini, tidur cukup beralas tikar, dengan harapan tidak terlalu lama bertugas dapat pindah tugas ke Jawa lagi. Ternyata proses pindah tugas tidak semudah yang diharapkan.
Itulah sebabnya kasur Bengkulu menjadi sangat penting untuk segera dimiliki. Bermodalkan kepercayaan, bendahara gaji menjadi perantara agar kasur indah itu menjadi aset di tempat kos kami.
Ternyata, enak sekali tidur di kasur ...!
Kenyamanan ternyata tidak berlangsung lama, baru sekitar satu bulan menikmati tidur enak, tiba-tiba badan menjadi sangat tidak menentu. Dingin tidak tertahankan, padahal waktu baru menunjukkan jan 4 sore lebih sedikit. Kami pun baru saja pulang dari kantor.
Memang, Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar tempat kami bertugas merupakan kota yang sejuk. Terlalu sejuk untuk saya yang berasal dari daerah pantai utara Pulau Jawa. Tetapi, sore itu benar-benar dingin !
Apa boleh buat, minum obat flu dan selimut pun segera ditarik. Kalau sudah demikian maka biasanya langsung bisa tertidur lelap dan terbangun dalam keadaan segar-bugar. Tetapi sore itu berbeda keadaannya, selimut tidak terlalu banyak membantu. Akhirnya kasur Bengkulu pun menjadi pelengkap, menyelimuti seluruh tubuh.
Dingin.... Dingin.... Dingin...!
Sangat dingin dan semakin dingin. Ironisnya, keringat mengucur deras. Membasahi selimut dan kasur yang membungkus tubuh. Kucuran air ternyata tidak menjadikan suasana menjadi hanyat tetapi sebaliknya, dingin sekali.
Menjelang maghrib, saya memaksakan diri untuk bangkit dan menjalankan kewajiban. Terus berdo’a dan berdo’a memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa sembuh sebagaimana sedia kala. Alhamdulillah, bisa terlelap sangat nyenyak sampai adzan isya memanggil.
Berdo’a dan terus berdo’a. Hanya itu yang dapat saya lakukan. Pergi ke dokter malam hari sungguh tidak sanggup. Di kamar saja dinginnya luar biasa, apalagi di luar, pasti jauh lebih dingin. Jarak ke rumah dokter pun tidak dekat, sekitar satu kilometer.
Malam itu, malam yang penuh do’a dengan satu harapan, sembuh dari peyakit yang aneh itu. Sampai lebih dari tengah malam, dalam keadaan badan menggigil tak tertahankan saya terus memohon kepada Yang Maha Penyembuh.
Esok harinya, saya memegang sesuatu yang aneh. Di balik kehalusan kapuk kasur Bengkulu terdapat benjolan benda keras. Saya mengamatinya dan mencoba mengeluarkannya, sedikit demi sedikit. Akhirnya bisa dikeluarkan juga.
Benda keras itu ternyata, batang yang biasa menutup buah kapuk. Waktu kecil, saya mempermainkan benda itu untuk membuat lampu-lampuan. Dengan sedikit kapuk dan minyak tanah, batang itu menjadi tandon lampu mini yang bisa menyala beberapa saat.
Alhamdulillah, pagi hari itu saya kembali bisa ngantor. Seperti tidak ada masalah kesehatan sebelumnya. Siang harinya pun tidak ada kendala ataupun gejala yang aneh, semua berjalan lancar-lancar saja.
Tetapi sepulang kantor semua berubah. Baru memasuki rumah, badan sudah menggigil. Sangat dingin. Lebih dingin daripada kemarin. Langsung saja saya selimuti badan dengan selimut dan juga kasur tipis itu.
Lagi-lagi, menutup rapat badan tidak menolong saya dari dingin yang melanda. Hanya mengeluarkan keringat yang membuat badan semakin dingin. Sore itu saya memaksakan diri ke dokter, dapat pertolongan yang tidak sedikit. Badan kembali normal dan terasa enak.
Obat yang diberikan pun saya minum sesuai aturan, tetapi rasa dingin yang kembali menyerang setelah kembali ke rumah tidak juga berkurang. Rasanya pertolongan dokter tidak berlaku lagi ketika sudah tida di rumah. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah kembali dan selalu meminta kepada Yang Maha Penyembuh.
Mungkin pengaruh obat juga yang meyebabkan saya akhirnya dapat terlelap tidur sampai pagi. Lagi-lagi, ada benda keras menyentuh. Lancip, tajam dan pangkalnya berbentuk setengah lingkaran.
Ternyata benda itu adalah peniti yang alhamdulillah tidak menyentuh bagian tubuh. Saya tidak dapat membayangkan kalau bagian lancipnya menyentuh kepala, tentu sangat menyakitkan. Belum lagi efek infeksi yang ditimbulkannya. Saya menggigil, merinding tidak menentu.
Lagi-lagi, suatu karunia yang luar biasa. Bukan hanya selamat dari tajamnya peniti, pagi itu saya pun terasa sangat segar. Pergi ke kantor seperti biasa.
Namun di sore hari, lagi-lagi ras dingin menyerang. Sangat dingin dibanding dua hari sebelumnya. Tentu sangat mengherankan karena saya sudah meminum obat dari dokter sesuai dengan aturan.
Bukan karena tidak percaya obat dokter kalau malam itu saya memutuskan hanya tinggal di rumah. Hanya berdo’a dan terus berdo”a. Keajaiban malam pun saya rasakan dengan nikmat. Tidur nyenyak sekalipun bersimbah keringat.
Untuk ketiga kalinya benda keras terasa di balik kasur Bengkulu itu. Ternyata sebuah paku besar, panjangnya tidak lebih dari 10 cm. Sunggguh beruntung, paku berkarat itu tidak menyentuh badan sama sekali.
Sama sekali tidak terpikir sedikitpun kalau benda-benda itu ada hubungannya dengan rasa sakit yang saya derita selama tiga hari berturut-turut. Tetapi semenjak ketiga benda itu ditemukan, rasa dingin yang biasanya melanda tidak dirasakan lagi sepulang kantor berikutnya. Alhamdulillahhirobbil alamin.
Namun saya sempat heran, dan terus membolak-balik kasur Bengkulu itu. Bagian-demi bagian. Mencari bekas mengeluarkan ketiga benda yang ditemukan sebelumnya. Ternyata sama sekali tidak ada bekasnya. Ketiga benda itu pun tidak ada lagi di tempat saya sempat menyimpannya.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (7)
KOMPUTER YANG BIKIN KEPALA MUTER-MUTER
Walaupun berulang kali mengalami kejadian penuh misteri, sedikitpun saya tidak bergiming dari tujuan semula. Tetap percaya bahwa kerja keras merupakan kunci sukses yang dominan. Itulah sebabnya bermalam bersama penjaga kantor terus dilakukan.
Memang bila dipikir lebih jauh, bagaimana saya tidak harus menyempatkan diri membuang malam di kantor, komputer hanya satu-satunya di ruangan. Sementara penggunanya 4 seksi, yang semuanya relatif sibuk dan penuh kerjaan yang memerlukan komputasi. Lebih-lebih, kebiasaan menulis artikel tentu akan lebih lancar di keheningan malam.
Salah satu kebiasaan lain saya adalah tidak pernah mengkonsep di kertas, paling sekedar garis besarnya. Konsep langsung di komputer sehingga berbagai perbaikan relatif lebih mudah. Dengan kata lain, saya berusaha tidak menganggap komputer sekedar pengganti mesit ketik semata.
Itulah sebabnya, kalau saya sudah menghadapi komputer maka seksi lain tidak dapat kesempatan. Soalnya, tidak pernah sebentar. Daripada begitu, kecuali terpaksa, saya lebih baik mengerjakannya saat komputer benar-benar tidak digunakan.
Sungguh, tidak ada kendala berarti, selain komputer memang masih baru juga yang mengoperasikan paling beberapa orang sehingga saling kebiasaan menjaga satu dengan yang tinggi. Secara teknis, tidak pernah ada masalah.
Termasuk pagi itu, tidak ada yang ganjil. Komputer dipakai bergantian sesuai dengan kepentingan masing-masing. Ketika kosong, saya pun mulai menggunakannya. Awlanya, tidak ada masalah. Hanya kepala seperti agak pusing, mengkonsep pun diteruskan.
Lambat-laun, kepada semakin pening. Masih bisa ditahan. Tetapi akhirnya tidak tahan juga, kepala serasa dibanting ke batu yang sangat keras. Pecah. Saya menjerit, teman-teman hanya memandangi. Mungkin dikira hanya sekedar melampiaskan kepuasan.
Sampai pada akhirnya saya benar-benar tidak tahan lagi. Segera meninggalkan monitor kembali ke meja kerja. Aneh bin ajaib, penderitaan kepala pecah berangsur rapat dan akhirnya lenyap sama sekali.
Ketika komputer kembali kosong, saya pun mencoba mengetik lagi. Tidak berama lama, kepala kembali seperti dipukul batu. Sangat sakit. Puyeng, saya hanya bisa memegangi kepala yang berputar-putar menahan derita. Sama sekali tidak bisa ditahan lagi, saya bahkan tidak sempat meng-close file yang baru saja dibuka.
Kembali saya hanya geleng-geleng kepala, penderitaan itu berakhir ketika saya segera meinggalkan komputer. Rasa sakitdan derita lenyap begitu saja. Semua berubah menjadi rasa segar bugar baik badan maupun pikiran.
Itulah sebabnya, tidak berapa lama setelah itu saya pun mulai melanjutkan pekerjaan. Ternyata penderitaan pun kembali berlanjut, lebih sakit dan menderita. Itulah sebabnya saya segera keluar ruangan bermaksud menanyakan kejadian aneh itu kepada sesama rekan.
Seperti pernah saya sampaikan pada tulisan terdahulu, kejadian serupa pernah dialami sekitar dua tahun yang lalu. Namun penderitaannya jauh lebih dahsyat sekarang. Berlipat-lipat penderitaan yang saya alami dibandingkan dengan dahulu.
Berdasarkan pengalaman itulah saya bermaksud menanyakan kepada rekan kerja, apakah ada hubungannya dengan cerita tentang jeruk purut ditusuk paku ? Saya sama sekali tidak mau ada yang celaka, sama-sama selamat saja. Istilah kami, bareng selamet !
Kemungkinan memang ada yang tidak normal, apalagi saat itu saya dalam keadaan segar bugar tidak seperti ketika menghadapi komputer. Namun, tidak ada yang memberi solusi lebih, kecuali, “Untuk sementara, jangan ber-komputer-ria dulu saja.”
Nasehat teman saya yakini kebenarannya sekalipun dengan terpaksa harus bisa mengorat-oret konsep di kertas. Malam harinya, saya benar-benar istirahat total. Alhamdulillah, esok harinya semua berjalan lancar sebagaimana biasa.
Sekalipun ada ingatan tentang cerita jeruk purut ditusuk paku, saya masih yakin dan percaya kalau penderitaan di depan komputer itu sangat erat hubungannya dengan akumulasi kelelahan mata, pikiran dan seluruh badan yang terlalu lama di depan komputer.
Walaupun berulang kali mengalami kejadian penuh misteri, sedikitpun saya tidak bergiming dari tujuan semula. Tetap percaya bahwa kerja keras merupakan kunci sukses yang dominan. Itulah sebabnya bermalam bersama penjaga kantor terus dilakukan.
Memang bila dipikir lebih jauh, bagaimana saya tidak harus menyempatkan diri membuang malam di kantor, komputer hanya satu-satunya di ruangan. Sementara penggunanya 4 seksi, yang semuanya relatif sibuk dan penuh kerjaan yang memerlukan komputasi. Lebih-lebih, kebiasaan menulis artikel tentu akan lebih lancar di keheningan malam.
Salah satu kebiasaan lain saya adalah tidak pernah mengkonsep di kertas, paling sekedar garis besarnya. Konsep langsung di komputer sehingga berbagai perbaikan relatif lebih mudah. Dengan kata lain, saya berusaha tidak menganggap komputer sekedar pengganti mesit ketik semata.
Itulah sebabnya, kalau saya sudah menghadapi komputer maka seksi lain tidak dapat kesempatan. Soalnya, tidak pernah sebentar. Daripada begitu, kecuali terpaksa, saya lebih baik mengerjakannya saat komputer benar-benar tidak digunakan.
Sungguh, tidak ada kendala berarti, selain komputer memang masih baru juga yang mengoperasikan paling beberapa orang sehingga saling kebiasaan menjaga satu dengan yang tinggi. Secara teknis, tidak pernah ada masalah.
Termasuk pagi itu, tidak ada yang ganjil. Komputer dipakai bergantian sesuai dengan kepentingan masing-masing. Ketika kosong, saya pun mulai menggunakannya. Awlanya, tidak ada masalah. Hanya kepala seperti agak pusing, mengkonsep pun diteruskan.
Lambat-laun, kepada semakin pening. Masih bisa ditahan. Tetapi akhirnya tidak tahan juga, kepala serasa dibanting ke batu yang sangat keras. Pecah. Saya menjerit, teman-teman hanya memandangi. Mungkin dikira hanya sekedar melampiaskan kepuasan.
Sampai pada akhirnya saya benar-benar tidak tahan lagi. Segera meninggalkan monitor kembali ke meja kerja. Aneh bin ajaib, penderitaan kepala pecah berangsur rapat dan akhirnya lenyap sama sekali.
Ketika komputer kembali kosong, saya pun mencoba mengetik lagi. Tidak berama lama, kepala kembali seperti dipukul batu. Sangat sakit. Puyeng, saya hanya bisa memegangi kepala yang berputar-putar menahan derita. Sama sekali tidak bisa ditahan lagi, saya bahkan tidak sempat meng-close file yang baru saja dibuka.
Kembali saya hanya geleng-geleng kepala, penderitaan itu berakhir ketika saya segera meinggalkan komputer. Rasa sakitdan derita lenyap begitu saja. Semua berubah menjadi rasa segar bugar baik badan maupun pikiran.
Itulah sebabnya, tidak berapa lama setelah itu saya pun mulai melanjutkan pekerjaan. Ternyata penderitaan pun kembali berlanjut, lebih sakit dan menderita. Itulah sebabnya saya segera keluar ruangan bermaksud menanyakan kejadian aneh itu kepada sesama rekan.
Seperti pernah saya sampaikan pada tulisan terdahulu, kejadian serupa pernah dialami sekitar dua tahun yang lalu. Namun penderitaannya jauh lebih dahsyat sekarang. Berlipat-lipat penderitaan yang saya alami dibandingkan dengan dahulu.
Berdasarkan pengalaman itulah saya bermaksud menanyakan kepada rekan kerja, apakah ada hubungannya dengan cerita tentang jeruk purut ditusuk paku ? Saya sama sekali tidak mau ada yang celaka, sama-sama selamat saja. Istilah kami, bareng selamet !
Kemungkinan memang ada yang tidak normal, apalagi saat itu saya dalam keadaan segar bugar tidak seperti ketika menghadapi komputer. Namun, tidak ada yang memberi solusi lebih, kecuali, “Untuk sementara, jangan ber-komputer-ria dulu saja.”
Nasehat teman saya yakini kebenarannya sekalipun dengan terpaksa harus bisa mengorat-oret konsep di kertas. Malam harinya, saya benar-benar istirahat total. Alhamdulillah, esok harinya semua berjalan lancar sebagaimana biasa.
Sekalipun ada ingatan tentang cerita jeruk purut ditusuk paku, saya masih yakin dan percaya kalau penderitaan di depan komputer itu sangat erat hubungannya dengan akumulasi kelelahan mata, pikiran dan seluruh badan yang terlalu lama di depan komputer.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (6)
NASI BUSUK PENYEBAB BATUK
Akhirnya, sudah lebih dari dua tahun saya bekerja di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar. Sekalipun home-sick selalu hadir, saya bisa juga memaksakan diri untuk tetap betah. Salah satu kegiatan di luar kerja pokok adalah menulis.
Mohon maaf, bukan sombong kalau masyarakat Kabupaten Tanah Datar, terutama para pegawai negerinya kenal dengan nama saya karena tulisan di Kaba Luhak Nan Tuo. Saya mengisi kolom artikel, jemari kreatif (keterampilan) dan juga bahasa Inggeris (belajar bahasa Inggeris melalui cerita lucu). Selain di tabloid mingguan milik Pemda Kabupaten Tanah Datar tersebut, artikel saya pun sempat dimuat di harian Semangat.
Terus terang, hampir tidak pernah ada honor yang saya terima dari banyak tulisan yang dimuat itu. Semua semata-mata ingin berbagi atau bahkan mengajak diskusi. Saya sangat senang apabila setelah tulisan terbit, beberapa teman mengajak bicara tentang thema tulisan dan juga gaya bahasa yang dipakai. Kesemuanya menjadi sumber ilmu yang memperkaya tulisan saya selanjutnya, temasuk dalam menggunakan istilah Minang.
Makin lama, kesibukan pekerjaan pun makin berlipat. Aktifitas dan berbagai kesibukan di birokrasi tidak menyurutkan kemauan keras saya untuk tetap aktif dalam tulis-menulis.
Kebetulan salah di sebuah koran harian ada lowongan untuk menjadi jurnalis. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Segeralah saya menuju Kota Padang, menuju alamat yang tercantum.
Bekal untuk menjadi bagian dari koran yang baru hendak diterbitkan relatif banyak, beberapa artikel yang dibundel dan juga calon tulisan yang mudah-mudahan bisa diterbitkan. Tetapi ternyata saya dapat kesempatan lebih dari itu, ikut merencanakan dari awal segala yang berkaitan dengan terbitan tersebut.
Singkat cerita, Padang Pos pun terbit sebagai mingguan. Selama beberapa minggu pertama tulisan saya selalu menghiasi, tidak ada kendala sama sekali. Saya pun tetap konsisten pada pendirian, saya bukan wartawan, hanya penulis lepas. Saya selalu menentang birokrat yang merangkap wartawan. Sebuah sikap yang unik karena sebagian besar wartawan di Sumatera Barat saat itu adalah para Pegawai Negeri Sipil.
Di sisi lain, di tempat kerja saya pun dapat kesempatan istimewa. Setelah cukup lama menanti, pada akhirnya datang juga kepercayaan untuk memegang suatu jabatan struktural. Sekalipun hanya pelaksana tugas, tetapi hal itu sudah luar biasa. Kepercayaan itu tidak pernah disia-siakan untuk bekerja lebih baik lagi.
Kerja keras dan makin keras, itulah sebabnya saya sering bermalam di kantor. Selain mengerjakan beberapa pekerjaan kantor juga tidak sedikit tulisan yang dihasilkan. Suasana sepi di kantor turut memperlancar tuts keyboard berselancar sehingga jadilah beberapa tulisan yang siap diterbitkan.
Dalam perjalanan dua tahun pergaulan dengan teman sekerja, sepertinya tidak ada yang aneh seperti bulan-bulan pertama. Saya menikmati kehidupan di rantau, sambil tetap mencari-cari peluang untuk bisa pulang kampung halaman. Oleh karena itu, saya pun tidak akan menceritakannya dalam beberapa tulisan tentang misteri ini.
Sampai pada suatu malam, saya mencium sesuatu yang sedikit aneh. Bau busuk yang tidak mudah dicari sumber asalnya. Bukan bau bangkai, hanya bau apek yang kemudian lenyap lagi. Beberapa kali saya bongkar laci dan tumpukan buku di bawah meja. Tidak dijumpai hal yang aneh. Tetapi bau itu terus muncul lagi.
Akhirnya ketemu juga, di balik arsip tua ada rantang tempat makanan (misting, plastik) yang sangat saya kenal. Tempat nasi yang biasa dibawa salah satu teman kantor. Tetapi isinya sungguh mengejutkan, makanan yang sudah membusuk. Ada cairan dan lengkap dengan jamur disampingnya.
Saya tidak dapat berbuat banyak, apalagi menyisihkan misting itu. Batuk menjadi-jadi tiada henti. Hidung terus bersin, berulang-ulang dengan suara sangat keras. Tidak berhenti sampai di situ saja, rasa sangat gatal melanda tenggorokan. Batuk-batuk, tidak juga berhenti. Bersin dan batuk seakan terus berlomba.
Semalaman saya merasakan penderitaan yang luar biasa, batuk dan bersin tiada henti sekalipun beberapa obat batuk dan flu telah ditelan sampai melebihi dosis yang dianjurkan. Tidak ada pilihan lain, saya harus pulang sekalipun jam dinding mengingatkan, waktu telah lebih dari tengah malam.
Baru kali itu, saya mengingat akan berbagai kejadian di awal tugas dulu. Sakit hanya di tempat tertentu, setelah menjauh kesembuhan pun didapat. Seperti tulisan waktu saya belajar komputer dulu.
Hal ini terbukti ketika keesokan harinya saya masuk kantor. Penderitaan seperti semalam segera terasa begitu duduk di kursi. Itulah sebabnya, saya pun segera menghindar dan keluar menjauh. Dan semuanya langsung menjadi sangat baik. Hari itu, saya benar-benar tidak sanggup lagi masuk ruangan setelah beberapa kali mencoba masuk tetapi terus diganggu dengan batuk dan bersin secara terus-menerus.
Hari itu saya habiskan untuk mendiskusikan permasalahan yang mengganjal dengan beberapa teman. Ada beberapa masukan yang berharga, mulai dari adanya beberapa obrolan tak sedap dengan aktifitas saya di Padang Pos dan media massa lain yang menggunakan fasilitas kantor sampai anggapan adanya rezeki yang berlimpah dari pekerjaan yang selama ini ditangani.
Kesimpulannya, beberapa keistimewaan itu membuat beberapa orang tidak suka dan saran mereka pada dasarnya adalah sama, tidak perlu masuk ruangan lagi sampai nanti barang aneh itu dienyahkan. Salah satu dari mereka bahkan bersedia membantu untuk memindahkan suguhan khas itu dari tempatnya semula.
Ba’da isya seperti biasa saya menuju kantor. Alhamdulillah, batuk dan bersin tidak lagi menyerang. Saya sangat fresh dan menikmati malam itu untuk menghasilkan beberapa tulisan sebagaimana biasa, tanpa hambatan.
Tidak berapa lama, seorang teman datang dan menanyakan tentang sakit yang dikeluhkan tadi siang. Heran juga, penderitaan tadi siang tidak lagi nampak sama sekali. Yang lebih mengherankan adalah ketika teman yang satu itu mencoba membuka lemari arsip, ternyata misting plastik berisi nasi busuk tidak ada lagi.
Percaya atau tidak, akhirnya saya membenarkan dugaan adanya kaitan yang erat antara nasi busuk itu dengan batuk yang sangat menyiksa !
Akhirnya, sudah lebih dari dua tahun saya bekerja di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar. Sekalipun home-sick selalu hadir, saya bisa juga memaksakan diri untuk tetap betah. Salah satu kegiatan di luar kerja pokok adalah menulis.
Mohon maaf, bukan sombong kalau masyarakat Kabupaten Tanah Datar, terutama para pegawai negerinya kenal dengan nama saya karena tulisan di Kaba Luhak Nan Tuo. Saya mengisi kolom artikel, jemari kreatif (keterampilan) dan juga bahasa Inggeris (belajar bahasa Inggeris melalui cerita lucu). Selain di tabloid mingguan milik Pemda Kabupaten Tanah Datar tersebut, artikel saya pun sempat dimuat di harian Semangat.
Terus terang, hampir tidak pernah ada honor yang saya terima dari banyak tulisan yang dimuat itu. Semua semata-mata ingin berbagi atau bahkan mengajak diskusi. Saya sangat senang apabila setelah tulisan terbit, beberapa teman mengajak bicara tentang thema tulisan dan juga gaya bahasa yang dipakai. Kesemuanya menjadi sumber ilmu yang memperkaya tulisan saya selanjutnya, temasuk dalam menggunakan istilah Minang.
Makin lama, kesibukan pekerjaan pun makin berlipat. Aktifitas dan berbagai kesibukan di birokrasi tidak menyurutkan kemauan keras saya untuk tetap aktif dalam tulis-menulis.
Kebetulan salah di sebuah koran harian ada lowongan untuk menjadi jurnalis. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Segeralah saya menuju Kota Padang, menuju alamat yang tercantum.
Bekal untuk menjadi bagian dari koran yang baru hendak diterbitkan relatif banyak, beberapa artikel yang dibundel dan juga calon tulisan yang mudah-mudahan bisa diterbitkan. Tetapi ternyata saya dapat kesempatan lebih dari itu, ikut merencanakan dari awal segala yang berkaitan dengan terbitan tersebut.
Singkat cerita, Padang Pos pun terbit sebagai mingguan. Selama beberapa minggu pertama tulisan saya selalu menghiasi, tidak ada kendala sama sekali. Saya pun tetap konsisten pada pendirian, saya bukan wartawan, hanya penulis lepas. Saya selalu menentang birokrat yang merangkap wartawan. Sebuah sikap yang unik karena sebagian besar wartawan di Sumatera Barat saat itu adalah para Pegawai Negeri Sipil.
Di sisi lain, di tempat kerja saya pun dapat kesempatan istimewa. Setelah cukup lama menanti, pada akhirnya datang juga kepercayaan untuk memegang suatu jabatan struktural. Sekalipun hanya pelaksana tugas, tetapi hal itu sudah luar biasa. Kepercayaan itu tidak pernah disia-siakan untuk bekerja lebih baik lagi.
Kerja keras dan makin keras, itulah sebabnya saya sering bermalam di kantor. Selain mengerjakan beberapa pekerjaan kantor juga tidak sedikit tulisan yang dihasilkan. Suasana sepi di kantor turut memperlancar tuts keyboard berselancar sehingga jadilah beberapa tulisan yang siap diterbitkan.
Dalam perjalanan dua tahun pergaulan dengan teman sekerja, sepertinya tidak ada yang aneh seperti bulan-bulan pertama. Saya menikmati kehidupan di rantau, sambil tetap mencari-cari peluang untuk bisa pulang kampung halaman. Oleh karena itu, saya pun tidak akan menceritakannya dalam beberapa tulisan tentang misteri ini.
Sampai pada suatu malam, saya mencium sesuatu yang sedikit aneh. Bau busuk yang tidak mudah dicari sumber asalnya. Bukan bau bangkai, hanya bau apek yang kemudian lenyap lagi. Beberapa kali saya bongkar laci dan tumpukan buku di bawah meja. Tidak dijumpai hal yang aneh. Tetapi bau itu terus muncul lagi.
Akhirnya ketemu juga, di balik arsip tua ada rantang tempat makanan (misting, plastik) yang sangat saya kenal. Tempat nasi yang biasa dibawa salah satu teman kantor. Tetapi isinya sungguh mengejutkan, makanan yang sudah membusuk. Ada cairan dan lengkap dengan jamur disampingnya.
Saya tidak dapat berbuat banyak, apalagi menyisihkan misting itu. Batuk menjadi-jadi tiada henti. Hidung terus bersin, berulang-ulang dengan suara sangat keras. Tidak berhenti sampai di situ saja, rasa sangat gatal melanda tenggorokan. Batuk-batuk, tidak juga berhenti. Bersin dan batuk seakan terus berlomba.
Semalaman saya merasakan penderitaan yang luar biasa, batuk dan bersin tiada henti sekalipun beberapa obat batuk dan flu telah ditelan sampai melebihi dosis yang dianjurkan. Tidak ada pilihan lain, saya harus pulang sekalipun jam dinding mengingatkan, waktu telah lebih dari tengah malam.
Baru kali itu, saya mengingat akan berbagai kejadian di awal tugas dulu. Sakit hanya di tempat tertentu, setelah menjauh kesembuhan pun didapat. Seperti tulisan waktu saya belajar komputer dulu.
Hal ini terbukti ketika keesokan harinya saya masuk kantor. Penderitaan seperti semalam segera terasa begitu duduk di kursi. Itulah sebabnya, saya pun segera menghindar dan keluar menjauh. Dan semuanya langsung menjadi sangat baik. Hari itu, saya benar-benar tidak sanggup lagi masuk ruangan setelah beberapa kali mencoba masuk tetapi terus diganggu dengan batuk dan bersin secara terus-menerus.
Hari itu saya habiskan untuk mendiskusikan permasalahan yang mengganjal dengan beberapa teman. Ada beberapa masukan yang berharga, mulai dari adanya beberapa obrolan tak sedap dengan aktifitas saya di Padang Pos dan media massa lain yang menggunakan fasilitas kantor sampai anggapan adanya rezeki yang berlimpah dari pekerjaan yang selama ini ditangani.
Kesimpulannya, beberapa keistimewaan itu membuat beberapa orang tidak suka dan saran mereka pada dasarnya adalah sama, tidak perlu masuk ruangan lagi sampai nanti barang aneh itu dienyahkan. Salah satu dari mereka bahkan bersedia membantu untuk memindahkan suguhan khas itu dari tempatnya semula.
Ba’da isya seperti biasa saya menuju kantor. Alhamdulillah, batuk dan bersin tidak lagi menyerang. Saya sangat fresh dan menikmati malam itu untuk menghasilkan beberapa tulisan sebagaimana biasa, tanpa hambatan.
Tidak berapa lama, seorang teman datang dan menanyakan tentang sakit yang dikeluhkan tadi siang. Heran juga, penderitaan tadi siang tidak lagi nampak sama sekali. Yang lebih mengherankan adalah ketika teman yang satu itu mencoba membuka lemari arsip, ternyata misting plastik berisi nasi busuk tidak ada lagi.
Percaya atau tidak, akhirnya saya membenarkan dugaan adanya kaitan yang erat antara nasi busuk itu dengan batuk yang sangat menyiksa !
Minggu, 04 April 2010
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (5)
JERUK PURUT DITUSUK JARUM
Cerita yang satu ini rupanya ada kaitan erat dengan kebandelan saya yang tidak mau juga berhenti menggunakan komputer di ruang Ketua BAPPEDA tempat kami bertugas. Selalu mencuri kesempatan untuk belajar MS Word sekalipun sudah beberapa kali ditegur, bahkan dipermalukan di depan kawan-kawan.
Aksi pencurian kesempatan ini tiba-tiba harus berhenti. Bukan akibat bau kemenyan dan cerita horor yang menakutkan tetapi karena kepala tidak kuat menahan sakit yang luar biasa begitu menghadapi komputer. Rasa sakitnya tidak bisa terbayangkan karena baru kali itu dialami.
Saya hanya bisa memegang kepala erat-erat. Tusukan-tusukan sangat menyiksa dari ujung depan kepala sampai tengkorak bagian belakang. Tidak ada persediaan obat, tidak ada juga yang membantu saya segera keluar dari ruang khusus komputer itu. Hanya keajaiban yang saya harapkan bisa membantu.
Berbagai bacaan saya baca sebisanya sambil terus menahan sakit yang luar biasa. Sampai akhirnya komputer pun segera dimatikan. Tidak berapa lama, sakit pun lenyap dengan sendirinya.
Setelah istirahat beberapa lama, keinginan belajar pun kembali menguat. Komputer dihidupkan dan kembali mulai memadukan beberapa tips belajar dengan kenyataan. Namun, tidak berapa lama, serangan rasa sakit kembali mendera. Lebih sakit dari yang pertama.
Sungguh tidak dinyana, kalau rasa sakit tersebut pun lenyap begitu saja setelah komputer dimatikan. Saya berpikir, apakah efek radiasi sudah sedemikian membahayakan ? Mungkin karena kondisi badan yang sangat lemah akibat kurangnya asupan bergizi ?
Saya sempat tertidur sebentar di meja, ketika bangun badan terasa sangat segar. Keinginan belajar pun bangkit kembali. Tetapi, lagi-lagi kepala terasa pecah begitu komputer dinyalakan. Sakit, saki, sakit sekali rasanya.
Saya tidak kuat mematikan komputer, langsung meninggalkan ruangan sekalipun tidak pernah terpikirkan siapa yang akan menolong. Seperti biasa, di kantor yang sering jadi bahan cerita angker itu saya sendirian.
Alhamdulillah, tidak berapa lama rasa sakit pun hilang. Saya bisa menuju warung terdekat untuk membeli obat sakit kepala. Rasanya plong, sekalipun saya tahu resikonya pasti harus mengantuk. Berarti tidak bisa belajar lagi.
Hanya semangat belajar yang tinggi sajalah kalau akhirnya saya tidak berpikir untuk mengantuk sedikit pun. Tetapi, lagi-lagi kepala kembali terbelah rasanya begitu cahaya monitor menyorot. Sakit sekali.
Beruntunglah masih ada obat yang tersisa, saya pun menenggaknya sebutir lagi. Mungkin over dosis, tetapi saya pikir, kalau satu obat tidak terasa manfaatnya maka dua tablet akan mampu melawan rasa sakit itu.
Ternyata dua tablet pun tidak bisa mengusir rasa sakit itu sama sekali. Bahkan terasa lebih sakit daripada sebelum menenggak obat yang semula menjadi andalan saya. Badan menggigil menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Tengah malam, penjaga kantor datang. Kaget melihat saya yang hanya bisa tergolek lemah di depan komputer yang terus menyala. Saya dipapah ke ruang lain.
Ajaib, rasa sakit itu lenyap begitu saja. Saya sangat bugar dan lupa dengan beberapa kali penderitaan yang baru saja dialami. Semangat belajar pun kembali bangkit. Kaki terasa mengambang untuk segera kembali belajar !
“Mas, matikan saja komputernya !” Kata penjaga, “Kita istirahat saja.”
Sungguh, sebuah kesia-siaan kalau malam yang terbatas itu saya habiskan untuk melepas penat semata. Tetapi apa boleh buat, mungkin ada yang akan disampaikan oleh sahabat yang satu ini. Sebab tidak biasanya dia mengajak istirahat, sekalipun menjelang subuh saya masih asyik di depan komputer. Paling tidak, dia mengerti kondisi tubuh saya yang sangat lemah setelah beberapa malam kurang tidur.
Aneh juga, dia tidak segera tidur tetapi malah mengajak ngobrol. Saya pun menceritakan rasa sakit tak tertahankan yang beberapa kali terjadi. Juga obat yang tidak mampu lagi mengusir. Tidak lupa rasa aneh, karena sakit kepala itu hanya menyerang ketika saya bekerja di depan komputer.
Penjaga kantor hanya manggut-manggut mendengarkan cerita yang saya sampaikan dalam keadaan segar bugar tanpa sedikitpun keluhan di kepala.
“Mas,” katanya membuka kesepian, “Saya punya pengalaman dari orang lain yang mengalami kejadian serupa.”
Dia menceritakan tentang temannya yang pernah mengalami sakit kepala luar biasa ketika menghadapi suatu pekerjaan. Tetapi begitu pekerjaan itu ditinggalkan, sedikit pun rasa sakit tidak lagi menyerang.
Kejadian ini terus saja dia perhatikan, sampai akhirnya dia menceritakan kepada orangtuanya. Singkat cerita, diapun dibawa ke orang pintar. Sebuah jeruk purut ditusuk jarum berhasil diambil oleh orang pintar itu dari sekitar tempat kerjanya !
Jeruk purut itu menyimbolkan kepala, makanya kepala terasa ditusuk jarum dengan sakit tak tertahankan. Tuah dari simbol itu hanya berlaku bagi orang yang dituju. Oleh karena itu, tidak akan mempan kepada orang lain.
“Jeruk purut itu sudah kering dan membatu, jarum menembus di kedua sisinya.” Kata-katanya sungguh mengerikan namun sungguh tidak masuk akal, tetapi saya ingat tentang jeruk yang dikubur teman sekerja beberapa malam sebelumnya. Dia pun mengiayakan kalau ada hubungan antara keduanya.
Saat itu, tidak ada pemecahan masalah yang diberikan. Temannya merantau ke Jawa dan orangtuanya pun telah tiada. Tidak ada petunjuk dimana rumah orang pintar yang dapat dikunjungi. Satu-satunya jalan adalah, menghindari komputer itu untuk sementara.
Saya setuju dengan pendapatnya. Bukan berarti saya berhenti belajar, kesempatan itu saya manfaatkan untuk merancang cara menguasai materi dengan lebih praktis dan mudah.
Cerita yang satu ini rupanya ada kaitan erat dengan kebandelan saya yang tidak mau juga berhenti menggunakan komputer di ruang Ketua BAPPEDA tempat kami bertugas. Selalu mencuri kesempatan untuk belajar MS Word sekalipun sudah beberapa kali ditegur, bahkan dipermalukan di depan kawan-kawan.
Aksi pencurian kesempatan ini tiba-tiba harus berhenti. Bukan akibat bau kemenyan dan cerita horor yang menakutkan tetapi karena kepala tidak kuat menahan sakit yang luar biasa begitu menghadapi komputer. Rasa sakitnya tidak bisa terbayangkan karena baru kali itu dialami.
Saya hanya bisa memegang kepala erat-erat. Tusukan-tusukan sangat menyiksa dari ujung depan kepala sampai tengkorak bagian belakang. Tidak ada persediaan obat, tidak ada juga yang membantu saya segera keluar dari ruang khusus komputer itu. Hanya keajaiban yang saya harapkan bisa membantu.
Berbagai bacaan saya baca sebisanya sambil terus menahan sakit yang luar biasa. Sampai akhirnya komputer pun segera dimatikan. Tidak berapa lama, sakit pun lenyap dengan sendirinya.
Setelah istirahat beberapa lama, keinginan belajar pun kembali menguat. Komputer dihidupkan dan kembali mulai memadukan beberapa tips belajar dengan kenyataan. Namun, tidak berapa lama, serangan rasa sakit kembali mendera. Lebih sakit dari yang pertama.
Sungguh tidak dinyana, kalau rasa sakit tersebut pun lenyap begitu saja setelah komputer dimatikan. Saya berpikir, apakah efek radiasi sudah sedemikian membahayakan ? Mungkin karena kondisi badan yang sangat lemah akibat kurangnya asupan bergizi ?
Saya sempat tertidur sebentar di meja, ketika bangun badan terasa sangat segar. Keinginan belajar pun bangkit kembali. Tetapi, lagi-lagi kepala terasa pecah begitu komputer dinyalakan. Sakit, saki, sakit sekali rasanya.
Saya tidak kuat mematikan komputer, langsung meninggalkan ruangan sekalipun tidak pernah terpikirkan siapa yang akan menolong. Seperti biasa, di kantor yang sering jadi bahan cerita angker itu saya sendirian.
Alhamdulillah, tidak berapa lama rasa sakit pun hilang. Saya bisa menuju warung terdekat untuk membeli obat sakit kepala. Rasanya plong, sekalipun saya tahu resikonya pasti harus mengantuk. Berarti tidak bisa belajar lagi.
Hanya semangat belajar yang tinggi sajalah kalau akhirnya saya tidak berpikir untuk mengantuk sedikit pun. Tetapi, lagi-lagi kepala kembali terbelah rasanya begitu cahaya monitor menyorot. Sakit sekali.
Beruntunglah masih ada obat yang tersisa, saya pun menenggaknya sebutir lagi. Mungkin over dosis, tetapi saya pikir, kalau satu obat tidak terasa manfaatnya maka dua tablet akan mampu melawan rasa sakit itu.
Ternyata dua tablet pun tidak bisa mengusir rasa sakit itu sama sekali. Bahkan terasa lebih sakit daripada sebelum menenggak obat yang semula menjadi andalan saya. Badan menggigil menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Tengah malam, penjaga kantor datang. Kaget melihat saya yang hanya bisa tergolek lemah di depan komputer yang terus menyala. Saya dipapah ke ruang lain.
Ajaib, rasa sakit itu lenyap begitu saja. Saya sangat bugar dan lupa dengan beberapa kali penderitaan yang baru saja dialami. Semangat belajar pun kembali bangkit. Kaki terasa mengambang untuk segera kembali belajar !
“Mas, matikan saja komputernya !” Kata penjaga, “Kita istirahat saja.”
Sungguh, sebuah kesia-siaan kalau malam yang terbatas itu saya habiskan untuk melepas penat semata. Tetapi apa boleh buat, mungkin ada yang akan disampaikan oleh sahabat yang satu ini. Sebab tidak biasanya dia mengajak istirahat, sekalipun menjelang subuh saya masih asyik di depan komputer. Paling tidak, dia mengerti kondisi tubuh saya yang sangat lemah setelah beberapa malam kurang tidur.
Aneh juga, dia tidak segera tidur tetapi malah mengajak ngobrol. Saya pun menceritakan rasa sakit tak tertahankan yang beberapa kali terjadi. Juga obat yang tidak mampu lagi mengusir. Tidak lupa rasa aneh, karena sakit kepala itu hanya menyerang ketika saya bekerja di depan komputer.
Penjaga kantor hanya manggut-manggut mendengarkan cerita yang saya sampaikan dalam keadaan segar bugar tanpa sedikitpun keluhan di kepala.
“Mas,” katanya membuka kesepian, “Saya punya pengalaman dari orang lain yang mengalami kejadian serupa.”
Dia menceritakan tentang temannya yang pernah mengalami sakit kepala luar biasa ketika menghadapi suatu pekerjaan. Tetapi begitu pekerjaan itu ditinggalkan, sedikit pun rasa sakit tidak lagi menyerang.
Kejadian ini terus saja dia perhatikan, sampai akhirnya dia menceritakan kepada orangtuanya. Singkat cerita, diapun dibawa ke orang pintar. Sebuah jeruk purut ditusuk jarum berhasil diambil oleh orang pintar itu dari sekitar tempat kerjanya !
Jeruk purut itu menyimbolkan kepala, makanya kepala terasa ditusuk jarum dengan sakit tak tertahankan. Tuah dari simbol itu hanya berlaku bagi orang yang dituju. Oleh karena itu, tidak akan mempan kepada orang lain.
“Jeruk purut itu sudah kering dan membatu, jarum menembus di kedua sisinya.” Kata-katanya sungguh mengerikan namun sungguh tidak masuk akal, tetapi saya ingat tentang jeruk yang dikubur teman sekerja beberapa malam sebelumnya. Dia pun mengiayakan kalau ada hubungan antara keduanya.
Saat itu, tidak ada pemecahan masalah yang diberikan. Temannya merantau ke Jawa dan orangtuanya pun telah tiada. Tidak ada petunjuk dimana rumah orang pintar yang dapat dikunjungi. Satu-satunya jalan adalah, menghindari komputer itu untuk sementara.
Saya setuju dengan pendapatnya. Bukan berarti saya berhenti belajar, kesempatan itu saya manfaatkan untuk merancang cara menguasai materi dengan lebih praktis dan mudah.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (4)
KOPI PAHIT YANG MENANTANG
Saya termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan gula. Cukup menguntungkan bagi kesehatan tubuh gemuk yang menurut orang rentan dengan penyakit diabetes. Setidaknya, tubuh gembul tidak semakin membengkak dan mengalami obesitas.
Memang sering ada kendala, terutama kalau sedang berada di Jawa Tengah dan Yogyakarta misalnya. Jangankan yang mananya teh manis, berbagai makanan pun terasa kelewat bergula. Kalau bertamu, sudah pasti air gula menjadi konsumsi yang selalu tersedia disamping kue-kue yang sudah pasti manis.
Banyaknya warung-warung makan milik orang Jawa Tengah di seluruh wilayah nusantara, terutama komunitas perdagangan nasi yang dikenal sebagai Warteg (Warung Tegal), satu sisi memudahkan masyarakat mendapatkan makanan murah tetapi di sisi lain pemasyarakatan makanan manis khas mereka. Warteg adalah tempat termudah dan termurah bagi saya untuk mendapatkan makanan sesuai dengan kemampuan kantong yang terbatas.
Salah satu yang selalu saya minta jika makan di warung itu adalah pembatasan gula di minuman. Teh tawar alias tanpa gula, dengan es ataupun panas saja. Sekali-sekali secangkir kopi, dengan sedikit mungkin gula, alias kopi pahit.
Kpoi pahit kegemaran ini memang bagi sebagian teman yang pernah merasakan sangat pahit. Satu cangkir 250 ml, diberi 3 sendok kopi dan langsung diseduh air mendidih. Cukup satu sendok gula ditambahkan sambil diaduk merata. Bagian atas gelas segera dipenuhi ampas yang mengambang dan busa kopi yang khas. Sangat sedap diseruput panas-panas. Segelas kopi pahit tidak akan bertahan lama, sudah habis sebelum hangat.
“Saya, kopi pahit, Mba!” Inilah kali pertama saya nongkrong di warung Pujakesuma (Putera Jawa kelahiran Sumatera) di depan kantor Bupati Tanah Datar, Sumatera Barat.
Sebagai bagian dari keluarga Jawa, Si Mba tentu langsung menghidangkan kopi yang dipesan, kopi dengan sedikit gula saja. Tetapi yang mengherankan adalah bahwa semua mata orang yang di warung terus memandang saya menyeruput kopi panas yang masih terlalu manis itu.
Ach, mungkin mereka merasa aneh saja. Bukan karena tidak ada yang minum kopi di pagi hari, ada beberapa, tetapi sebagian besar menikmati susu panas atau teh telur.
Perlu digambarkan disini bahwa yang disebut susu panas, memang benar-benar susu, satu gelas kecil setengahnya diisi dengan susu kental dan diseduh air panas. Tentu sangat manis dan tidak akan pernah terlalu panas, cuma hangat.
Sementara teh telur adalah, telur yang dikocok, diberi susu dan Nutrisari, baru diseduh dengan air teh kental. Minuman ini sangat khas rasanya, sedikit anyir yang tersisa. Lebih khas lagi karena minuman ini jarang dijual di luar Minangkabau, sekalipun rumah makan minang.
Setiap saya memesan kopi pahit, semua mata memandang. Termasuk teman semeja. Ada juga yang geleng-geleng kepala. Sementara saya hanya terssenyum menikmati hingga di gelas hanya tersisi ampas saja. Kadang-kadang saya protes, terlalu manis, dan mententeng gelas ke ruang dapur. Menambahkan satu-dua sendok kopi sampai rasanya sesuai selera.
Mungkin juga mereka merasa aneh melihat saya yang menyantap kue bawang dengan cabe rawit, langsung gigit. Tidak kurang dari sepuluh cabe rawit dihabiskan untuk menemani sebuah kue bawang. Mereka menyebut saya seperti merak. Ada juga yang terheran-heran, ada yang lebih doyan pedas dibandinga mereka.
Dari beberapa kali pertemuan di warung itulah muncul keanehan yang mungkin harus saya pahami, mengapa semua mata memandang ketika saya menghabiskan kue bawang plus cabe dan seduhan kopi pahit. Teman yang ditanya tidak mau menjawab, entah mengapa.
Tetapi pada suatu waktu, teman serumah kos, Endang Sumirat bercerita bahwa tidak boleh sembarangan kalau pesan minuman. Terutama kopi.
“Jangan sekali-sekali pesan kopi pahit !”
Tentu hal ini mengherankan, karena saya biasa memesan kopi kegemaran yang satu ini jika sarapan pagi.
“Bagi masyarakat beberapa daerah di sini, kopi pahit bisa dianggap menantang,”
“Kenapa ?”
Ternyata teman yang satu ini mendapatkan informasi dari rekan yang lain, kalau kita memesan kopi pahit nanti yang dihidangkan adalah kopi beracun. Pesanan kopi pahit hanya dilakukan oleh para jawara yang kebal terhadap racun. Biasanya dilakukan untuk menunjukan kekuatan dan kesaktian. Dengan kata lain, tantangan buat orang yang ada di sekitarnya.
Saya benar-benar berigidig mendengar ceritanya. Sungguh di luar dugaan, pantas saja semua mata memandang kalau saya menyeruput kopi pahit. Ternyata mereka bukan tertarik dengan tambulan cabe rawit, sama sekali tidak. Mereka terheran-heran dengan kopi yang dipesan.
Sama sekali tidak ada niatan untuk menunjukan kesaktian dan kekuatan, karena memang tidak punya. Apalagi menantang, sama sekali tidak terbesit sedikitpun dalam pikiran. Pesanan kopi pahit, murni hanya karena ketidaktahuan makna yang berbeda bagi masyarakat tempat tugas kami yang baru ini.
Sejak itulah saya tidak lagi menggunakan istilah kopi pahit, menggantikannya dengan kopi kental atau kopi dengan gula sedikit.
Atau, cukup mengatakan, “Kopi, biasa !”
Saya termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan gula. Cukup menguntungkan bagi kesehatan tubuh gemuk yang menurut orang rentan dengan penyakit diabetes. Setidaknya, tubuh gembul tidak semakin membengkak dan mengalami obesitas.
Memang sering ada kendala, terutama kalau sedang berada di Jawa Tengah dan Yogyakarta misalnya. Jangankan yang mananya teh manis, berbagai makanan pun terasa kelewat bergula. Kalau bertamu, sudah pasti air gula menjadi konsumsi yang selalu tersedia disamping kue-kue yang sudah pasti manis.
Banyaknya warung-warung makan milik orang Jawa Tengah di seluruh wilayah nusantara, terutama komunitas perdagangan nasi yang dikenal sebagai Warteg (Warung Tegal), satu sisi memudahkan masyarakat mendapatkan makanan murah tetapi di sisi lain pemasyarakatan makanan manis khas mereka. Warteg adalah tempat termudah dan termurah bagi saya untuk mendapatkan makanan sesuai dengan kemampuan kantong yang terbatas.
Salah satu yang selalu saya minta jika makan di warung itu adalah pembatasan gula di minuman. Teh tawar alias tanpa gula, dengan es ataupun panas saja. Sekali-sekali secangkir kopi, dengan sedikit mungkin gula, alias kopi pahit.
Kpoi pahit kegemaran ini memang bagi sebagian teman yang pernah merasakan sangat pahit. Satu cangkir 250 ml, diberi 3 sendok kopi dan langsung diseduh air mendidih. Cukup satu sendok gula ditambahkan sambil diaduk merata. Bagian atas gelas segera dipenuhi ampas yang mengambang dan busa kopi yang khas. Sangat sedap diseruput panas-panas. Segelas kopi pahit tidak akan bertahan lama, sudah habis sebelum hangat.
“Saya, kopi pahit, Mba!” Inilah kali pertama saya nongkrong di warung Pujakesuma (Putera Jawa kelahiran Sumatera) di depan kantor Bupati Tanah Datar, Sumatera Barat.
Sebagai bagian dari keluarga Jawa, Si Mba tentu langsung menghidangkan kopi yang dipesan, kopi dengan sedikit gula saja. Tetapi yang mengherankan adalah bahwa semua mata orang yang di warung terus memandang saya menyeruput kopi panas yang masih terlalu manis itu.
Ach, mungkin mereka merasa aneh saja. Bukan karena tidak ada yang minum kopi di pagi hari, ada beberapa, tetapi sebagian besar menikmati susu panas atau teh telur.
Perlu digambarkan disini bahwa yang disebut susu panas, memang benar-benar susu, satu gelas kecil setengahnya diisi dengan susu kental dan diseduh air panas. Tentu sangat manis dan tidak akan pernah terlalu panas, cuma hangat.
Sementara teh telur adalah, telur yang dikocok, diberi susu dan Nutrisari, baru diseduh dengan air teh kental. Minuman ini sangat khas rasanya, sedikit anyir yang tersisa. Lebih khas lagi karena minuman ini jarang dijual di luar Minangkabau, sekalipun rumah makan minang.
Setiap saya memesan kopi pahit, semua mata memandang. Termasuk teman semeja. Ada juga yang geleng-geleng kepala. Sementara saya hanya terssenyum menikmati hingga di gelas hanya tersisi ampas saja. Kadang-kadang saya protes, terlalu manis, dan mententeng gelas ke ruang dapur. Menambahkan satu-dua sendok kopi sampai rasanya sesuai selera.
Mungkin juga mereka merasa aneh melihat saya yang menyantap kue bawang dengan cabe rawit, langsung gigit. Tidak kurang dari sepuluh cabe rawit dihabiskan untuk menemani sebuah kue bawang. Mereka menyebut saya seperti merak. Ada juga yang terheran-heran, ada yang lebih doyan pedas dibandinga mereka.
Dari beberapa kali pertemuan di warung itulah muncul keanehan yang mungkin harus saya pahami, mengapa semua mata memandang ketika saya menghabiskan kue bawang plus cabe dan seduhan kopi pahit. Teman yang ditanya tidak mau menjawab, entah mengapa.
Tetapi pada suatu waktu, teman serumah kos, Endang Sumirat bercerita bahwa tidak boleh sembarangan kalau pesan minuman. Terutama kopi.
“Jangan sekali-sekali pesan kopi pahit !”
Tentu hal ini mengherankan, karena saya biasa memesan kopi kegemaran yang satu ini jika sarapan pagi.
“Bagi masyarakat beberapa daerah di sini, kopi pahit bisa dianggap menantang,”
“Kenapa ?”
Ternyata teman yang satu ini mendapatkan informasi dari rekan yang lain, kalau kita memesan kopi pahit nanti yang dihidangkan adalah kopi beracun. Pesanan kopi pahit hanya dilakukan oleh para jawara yang kebal terhadap racun. Biasanya dilakukan untuk menunjukan kekuatan dan kesaktian. Dengan kata lain, tantangan buat orang yang ada di sekitarnya.
Saya benar-benar berigidig mendengar ceritanya. Sungguh di luar dugaan, pantas saja semua mata memandang kalau saya menyeruput kopi pahit. Ternyata mereka bukan tertarik dengan tambulan cabe rawit, sama sekali tidak. Mereka terheran-heran dengan kopi yang dipesan.
Sama sekali tidak ada niatan untuk menunjukan kesaktian dan kekuatan, karena memang tidak punya. Apalagi menantang, sama sekali tidak terbesit sedikitpun dalam pikiran. Pesanan kopi pahit, murni hanya karena ketidaktahuan makna yang berbeda bagi masyarakat tempat tugas kami yang baru ini.
Sejak itulah saya tidak lagi menggunakan istilah kopi pahit, menggantikannya dengan kopi kental atau kopi dengan gula sedikit.
Atau, cukup mengatakan, “Kopi, biasa !”
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (3)
MALAM YANG MENEGANGKAN
Pertengahan tahun 1997 adalah awal saya bertugas di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar. Sekali lagi, kenangan terindah adalah karena saya sama sekali tidak tahu daerah tempat tugas itu. Bahkan di peta nasional pun, kabupaten berprestasi itu tidak disebutkan keberadaannya.
Suatu keberuntungan atau kebetulan kalau pada saat itu terjadi perubahan teknologi yang digunakan di kantor. Kalau dari mesin tik ke komputer sudah lama berlangsung. Keberhasilan yang utama tentu saja menganggap bahwa komputer itu sebagai mesin tik, alias tidak terlalu banyak membantu kecuali hanya sekedar tampak lebih rapih saja.
Perubahan teknologi yang terjadi saat itu adalah mulai digunakannya produk Microsoft Corporation. Untuk surat-surat dan produk lain yang ditandatangan Bupati, tidak lagi digunakan print-out dari WS. Ada operator khusus untuk mengoperasikannya, hanya satu orang. Komputer terbaru itu pun diletakkan di ruangan Ketua.
Sebuah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Berbekal buku-buku tentang Word saya mulai mencuri kesempatan untuk belajar sendiri. Menjelang isya saya pergi ke kantor, setahap demi setahap belajar secara mandiri.
Tidak jarang kantor jadi geger esok harinya, ada yang kehilangan file, ada yang merasa bahwa komputer akan cepat rusak karena dimatikan tidak sesuai dengan prosedur dan berbagai bentuk lainnya. Sampai pada suatu hari saya harus menerima semprot dari penanggungjawab.
“Kamu merusak komputer ya ?” Saya hanya bisa terdiam, “Tidak boleh menggunakan komputer di ruang Ketua selain operator khusus !” Lanjutnya dengan nada kesal.
Saya sangat menghargai beliau yang sangat patuh pada aturan, sesuai dengan Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berlaku. Tetapi saya sangat tidak setuju kalau ada larangan untuk belajar.
Itulah sebabnya, nasehat itu segera saya langgar malam harinya. Tentu bekal berbagai pengetahuan tambahan mengoperasikan Microsoft Word sudah disiapkan lebih terinci dan lengkap. Satu buku tebal teori sudah diringkas menjadi diagram alur yang sangat mudah dijalankan.
Namun ternyata tidak semudah ketika membaca dan meringkas isi buku, beberapa bagian menjadi sedikit berbeda dan membingungkan. Tetapi bukan itu yang menjadi masalah utama. Listrik tiba-tiba mati. Aktifitas pun harus segera berhenti. Waktu itu sekitar pukul 10 malam, tanpa penerangan sedikit pun. Ataupun teman, karena penjaga kantor sedang pulang dulu ke rumahnya. Seperti biasa, menjelang tengah malam beliau baru ke kantor lagi.
Bau kemenyam sangat menyengat. Kemenyan pertama yang saya cium di Ranah Minang. Kebetulan malam jum’at saja, pikir dalam hati untuk menenangkan diri. Tetapi rambut sekujur tubuh berdiri, merinding. Saya hanya bisa membaca surat-surat pendek dari Al-Qur’an yang terhafal. Merinding, merinding dan makin merinding. Kaki mulai bergetar.
Tidak terdengar suara apapun. Suasana sangat sepi dan mencekam. Memang kantor kami yang berada di samping Istana Pagaruyung itu, jangankan malam hari, siang pun hanya ramai pada saat jam kerja saja. Letaknya yang berada di tempat terendah di belakang Kantor Bupati yang megah membuat suasana semakin angker.
Berbagai cerita kejadian aneh di kantor yang diceritakan teman-teman membuat bulu kuduk makin merinding. Ada cerita tentang wanita cantik yang sering muncul menggoda penjaga kantor , berbagai penampakan lain yang sama sekali sebelumnya tidak pernah saya bayangkan dan sebagainya. Memang letak kantor sangat strategis untuk tinggalnya para dedemit, diapit oleh Istano Pagaruyung dan tanah kosong yang sangat luas. Tertindih kemewahan Kantor Bupati dan dibelakang berdiri tegar tebing curam tempat bersemayamnya para arwah leluhur.
Lebih dari satu jam listrik belum juga menyala. Di luar pun suasan begitu gelap gulita. Stres berat, menggigil, keringat dingin keluar tak tertahankan melawan kedinginan Kota Batusangkar yang menusuk tubuh.
Tiba-tiba listrik pun menyala, alhamdulillah. Semangat belajar segera melupakan kepul asap kemenyan serta berbagai rasa takut dan keringat dingin yang keluar. Belajar dan belajar, sampai akhirnya tengah malam pun datang menjemput.
Menjelang tengah malam, penjaga kantor datang. Tidak sedikit pun saya ceritakan tentang kejadian sangat menakutkan yang baru saja terjadi. Seakan semua tidak ada masalah.
Malam-malam senajutnya saya terus belajar untuk bisa menguasai Microsoft Word sampai akhirnya mereka yang semula mencaci akhirnya banyak minta tolong untuk dibantu pengetikan dengan komputer baru itu. Setiap permintaan bantuan yang mungkin bagi sebagian orang bisa dianggap merendahkan derajat itu, saya anggap sebagai bentuk praktek yang menantang untuk meningkatkan imu lagi.
Sikap pasrah inilah yang kemudian membuat penjaga kantor berterus terang, mengenang malam jum’at yang menakutkan itu tanpa ditanya sebelumnya.
“Malam itu, sekitar jam 11 saya ke sini melihat Mr. K sedang menggali di kegelapan,” katanya perlahan. “Saya hanya mengamati dari jauh sampai akhirnya dia pulang.”
Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cerita itu. Bahkan tidak terdengar suara apapun malam itu, kecuali suara burung malam yang membuat kegelapan menjadi lebih menakutkan.
“Begitu dia pulang,” lanjutnya, “Saya segera gali bekas galian Mr. K dan mendpatkan jeruk.”
Saya semakin tidak mengerti arti semua itu, “Langsung saya kencingi dan buang jauh-jauh !”
Lagi-lagi saya menjadi makin bodoh dan tidak mengerti, “Kalau saja tidak ketahuan, bisa-bisa Mas langsung KO!”
Sekali lagi saya semakin bodoh, tidak mengerti dan tidak bisa berpikir cerdas seperti penjaga kantor.
“Mas, siangnya ada masalah kan dengan dia ?” Sebuah pertanyaan yang sama sekali mestinya tidak tida ketahui.
“Ach, nggak.”
“Nggak mungkin !”
Sungguh, akhirnya saya mengakui kalau pada kamis paginya beliau menegur dengan kata-kata keras. Intinya saya tidak boleh menggunakan komputer di ruang Ketua. Nanti rusak, kalau sudah rusak maka yang bertanggungjawab kepada pimpinan adalah beliau. Ketua akan marah kepada beliau !
Tetapi saya adalah orang bandel, tidak boleh memakai komputer itu malah menjadikannya untuk terus belajar. Bahkan malam hari setelah ditegur pun langsung melanggar.
“Itulah Mas, kalau tidak berani dari depan, mereka menusuk dari belakang !” Kata-kata ini pun membuat saya semakin tidak berpengetahuan.
Pertengahan tahun 1997 adalah awal saya bertugas di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar. Sekali lagi, kenangan terindah adalah karena saya sama sekali tidak tahu daerah tempat tugas itu. Bahkan di peta nasional pun, kabupaten berprestasi itu tidak disebutkan keberadaannya.
Suatu keberuntungan atau kebetulan kalau pada saat itu terjadi perubahan teknologi yang digunakan di kantor. Kalau dari mesin tik ke komputer sudah lama berlangsung. Keberhasilan yang utama tentu saja menganggap bahwa komputer itu sebagai mesin tik, alias tidak terlalu banyak membantu kecuali hanya sekedar tampak lebih rapih saja.
Perubahan teknologi yang terjadi saat itu adalah mulai digunakannya produk Microsoft Corporation. Untuk surat-surat dan produk lain yang ditandatangan Bupati, tidak lagi digunakan print-out dari WS. Ada operator khusus untuk mengoperasikannya, hanya satu orang. Komputer terbaru itu pun diletakkan di ruangan Ketua.
Sebuah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Berbekal buku-buku tentang Word saya mulai mencuri kesempatan untuk belajar sendiri. Menjelang isya saya pergi ke kantor, setahap demi setahap belajar secara mandiri.
Tidak jarang kantor jadi geger esok harinya, ada yang kehilangan file, ada yang merasa bahwa komputer akan cepat rusak karena dimatikan tidak sesuai dengan prosedur dan berbagai bentuk lainnya. Sampai pada suatu hari saya harus menerima semprot dari penanggungjawab.
“Kamu merusak komputer ya ?” Saya hanya bisa terdiam, “Tidak boleh menggunakan komputer di ruang Ketua selain operator khusus !” Lanjutnya dengan nada kesal.
Saya sangat menghargai beliau yang sangat patuh pada aturan, sesuai dengan Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berlaku. Tetapi saya sangat tidak setuju kalau ada larangan untuk belajar.
Itulah sebabnya, nasehat itu segera saya langgar malam harinya. Tentu bekal berbagai pengetahuan tambahan mengoperasikan Microsoft Word sudah disiapkan lebih terinci dan lengkap. Satu buku tebal teori sudah diringkas menjadi diagram alur yang sangat mudah dijalankan.
Namun ternyata tidak semudah ketika membaca dan meringkas isi buku, beberapa bagian menjadi sedikit berbeda dan membingungkan. Tetapi bukan itu yang menjadi masalah utama. Listrik tiba-tiba mati. Aktifitas pun harus segera berhenti. Waktu itu sekitar pukul 10 malam, tanpa penerangan sedikit pun. Ataupun teman, karena penjaga kantor sedang pulang dulu ke rumahnya. Seperti biasa, menjelang tengah malam beliau baru ke kantor lagi.
Bau kemenyam sangat menyengat. Kemenyan pertama yang saya cium di Ranah Minang. Kebetulan malam jum’at saja, pikir dalam hati untuk menenangkan diri. Tetapi rambut sekujur tubuh berdiri, merinding. Saya hanya bisa membaca surat-surat pendek dari Al-Qur’an yang terhafal. Merinding, merinding dan makin merinding. Kaki mulai bergetar.
Tidak terdengar suara apapun. Suasana sangat sepi dan mencekam. Memang kantor kami yang berada di samping Istana Pagaruyung itu, jangankan malam hari, siang pun hanya ramai pada saat jam kerja saja. Letaknya yang berada di tempat terendah di belakang Kantor Bupati yang megah membuat suasana semakin angker.
Berbagai cerita kejadian aneh di kantor yang diceritakan teman-teman membuat bulu kuduk makin merinding. Ada cerita tentang wanita cantik yang sering muncul menggoda penjaga kantor , berbagai penampakan lain yang sama sekali sebelumnya tidak pernah saya bayangkan dan sebagainya. Memang letak kantor sangat strategis untuk tinggalnya para dedemit, diapit oleh Istano Pagaruyung dan tanah kosong yang sangat luas. Tertindih kemewahan Kantor Bupati dan dibelakang berdiri tegar tebing curam tempat bersemayamnya para arwah leluhur.
Lebih dari satu jam listrik belum juga menyala. Di luar pun suasan begitu gelap gulita. Stres berat, menggigil, keringat dingin keluar tak tertahankan melawan kedinginan Kota Batusangkar yang menusuk tubuh.
Tiba-tiba listrik pun menyala, alhamdulillah. Semangat belajar segera melupakan kepul asap kemenyan serta berbagai rasa takut dan keringat dingin yang keluar. Belajar dan belajar, sampai akhirnya tengah malam pun datang menjemput.
Menjelang tengah malam, penjaga kantor datang. Tidak sedikit pun saya ceritakan tentang kejadian sangat menakutkan yang baru saja terjadi. Seakan semua tidak ada masalah.
Malam-malam senajutnya saya terus belajar untuk bisa menguasai Microsoft Word sampai akhirnya mereka yang semula mencaci akhirnya banyak minta tolong untuk dibantu pengetikan dengan komputer baru itu. Setiap permintaan bantuan yang mungkin bagi sebagian orang bisa dianggap merendahkan derajat itu, saya anggap sebagai bentuk praktek yang menantang untuk meningkatkan imu lagi.
Sikap pasrah inilah yang kemudian membuat penjaga kantor berterus terang, mengenang malam jum’at yang menakutkan itu tanpa ditanya sebelumnya.
“Malam itu, sekitar jam 11 saya ke sini melihat Mr. K sedang menggali di kegelapan,” katanya perlahan. “Saya hanya mengamati dari jauh sampai akhirnya dia pulang.”
Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cerita itu. Bahkan tidak terdengar suara apapun malam itu, kecuali suara burung malam yang membuat kegelapan menjadi lebih menakutkan.
“Begitu dia pulang,” lanjutnya, “Saya segera gali bekas galian Mr. K dan mendpatkan jeruk.”
Saya semakin tidak mengerti arti semua itu, “Langsung saya kencingi dan buang jauh-jauh !”
Lagi-lagi saya menjadi makin bodoh dan tidak mengerti, “Kalau saja tidak ketahuan, bisa-bisa Mas langsung KO!”
Sekali lagi saya semakin bodoh, tidak mengerti dan tidak bisa berpikir cerdas seperti penjaga kantor.
“Mas, siangnya ada masalah kan dengan dia ?” Sebuah pertanyaan yang sama sekali mestinya tidak tida ketahui.
“Ach, nggak.”
“Nggak mungkin !”
Sungguh, akhirnya saya mengakui kalau pada kamis paginya beliau menegur dengan kata-kata keras. Intinya saya tidak boleh menggunakan komputer di ruang Ketua. Nanti rusak, kalau sudah rusak maka yang bertanggungjawab kepada pimpinan adalah beliau. Ketua akan marah kepada beliau !
Tetapi saya adalah orang bandel, tidak boleh memakai komputer itu malah menjadikannya untuk terus belajar. Bahkan malam hari setelah ditegur pun langsung melanggar.
“Itulah Mas, kalau tidak berani dari depan, mereka menusuk dari belakang !” Kata-kata ini pun membuat saya semakin tidak berpengetahuan.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (2)
CELANA DALAM, KIRIMAN PEMBAWA PETAKA
Sebagai bagian dari institusi pusat, resiko yang harus ditanggung pegawai baru di luar Jawa saat itu adalah hidup tanpa gaji. Tidak lama, hanya 3 bulan saja. Waktu hampir seratus hari itu digunakan untuk proses administrasi dari tingkat unit kerja sampai Departemen Dalam Negeri sampai akhirnya kami menikmati gaji pertama.
Kalau saja keruyukan perut bisa diganjal atau malah tidak diisi selama beberapa hari, tentu saja uang tidak yang dibawa dari kampung halaman akan cukup untuk hidup. Tetapi tidak, kalau hal ini dijalankan tentu akan membawa ke jurang berpenyakit yang akan lebih mahal lagi pengobatannya. Oleh karena itu, salah satu cara menghemat adalah tidak menggunakan uang untuk pakaian.
Maka pada bulan ketiga keberadaan di tempat tugas itu saya dapat dua kiriman, uang tambahan Rp. 75.000,- dan juga bungkusan. Tidak ada orang yang peduli ketika saya menerima uang yang besarnya setengah gaji sebulan. Berbeda sekali dengan bungkusan yang terbalut kertas coklat. Semua mata memandang sinis, keakraban yang tercipta selama dua bulan seperti sudah dilupakan.
Saya sama sekali tidak mengerti tentang cara pandang mereka, bahkan merasa sangat tertekan ketika seorang sahabat baru yang selama ini sangat akrab tiba-tiba menjadi sangar dan bersuara paling keras.
“Kiriman apa, mas ?”
“Mungkin hanya sepatu.”
“Ach, tidak mungkin !” Selanya. “Ayo dibuka !”
Sungguh hal ini sama sekali tidak dapat saya percaya, ketika saya menolak untuk membuka, mereka pun memaksa dan berhamburanlah segala isinya. Selimut, beberapa potong baju dan celana serta dalaman. Setelah itu, semua bubar begitu saja. Saya semakin tidak mengerti dengan sikap mereka.
“Kata saya juga apa !” Sahabat itu berkata dengan kerasnya.
Pergaulan akrab penuh persaudaraan yang selama itu tercipta seperti lenyap ditelan bumi. Saya sama sekali tidak mengerti mengapa semua ini harus terjadi. Tidak ada juga orang yang mau menjelaskan tentang apa yang menyebabkan mereka bersikap menjauh dari saya yang makin kebingungan.
Saya menyimpan kejadian yang membuat pergaulan menjadi tidak wajar itu sebagai kenangan sampai pada akhirnya seorang sahabat menjelaskan bahwa dimana pun orang merantau maka pantang dikirim pakaian.
Dan lebih mengejutkan, kalau ada pendapat bahwa kiriman yang saya terima, terutama celana dalam, bermakna ‘tantangan’ dan jangan kaget kalau di suatu saat banyak tantangan dan halangan yang menghadang.
Sungguh, sama sekali tidak ada niat untuk itu semua. Hanya demi menghemat rupiah yang sudah sangat menipis lah bingkisan itu hadir. Mungkin tidak ada yang percaya, tetapi kami merasakan sendiri kehidupan yang melebihi batas keprihatinan.
Tiga bulan pertama memulai tugas di Batusangkar, sekali lagi tanpa gaji sekalipun pada bulan ke-empat dapat rapelan, jangankan untuk membeli pakaian, makan pun super irit. Mulai dari merubah selera dari Indomie ke Supermie, sampai akhirnya ke mie keluaran baru yang harganya seperlima dari produk yang biasa dimakan.
Upaya mengirit yang sampai sekarang tidak pernah dilupakan adalah ketika hampir semua persediaan habis, nasi pun hanya beras yang direbus penggorengan sampai akhirnya menjadi nasi liwet yang kelewat berair. Sebagai lauknya, sangat mengundang selera, bawang merah dan cabe rawit. Kedua bahan mentah dicacah dan ditaburi garam. Rasanya sangat enak dan menyegarkan, sekaligus mengenyangkan.
Dengan kehidupan seperti itu selama lebih dari sebulan, tentu tidak lah mungkin saya mampu membeli keperluan lain. Itulah jalan hidup yang mesti dilalui karena memang sangat berarti.
Kembali kepada celana dalam, ketidakmengertian persepsi yang berlaku umum di sanalah yang menyebabkan kiriman itu terjadi. Tanpa niat lain, karena dari awal saya sudah diberi bekal bahwa tempat tugas yang baru adalah daerah percontohan otonomi daerah terbaik di Indonesia. Masyarakatnya taat agama, patuh pada adat dan merupakan daerah asal beberapa tokoh nasionalis dan agamis.
Di balik ketidakmengertian, saya sangat berterimakasih kepada isteri dan keluarga yang dengan susah payah mengirimkan paket sederhana itu, diiringi sejumlah uang pula. Tentu saja do’a yang tidak pernah ada hentinya.
Oleh karena itu saya segera dapat melupakan berbagai kejadian yang mengiringi pengiriman paket dan terus merajut persaudaraan. Dalam waktu singkat, secara kasat mata, suasana akrab kembali tercipta sebagaimana sebelumnya.
Sebagai bagian dari institusi pusat, resiko yang harus ditanggung pegawai baru di luar Jawa saat itu adalah hidup tanpa gaji. Tidak lama, hanya 3 bulan saja. Waktu hampir seratus hari itu digunakan untuk proses administrasi dari tingkat unit kerja sampai Departemen Dalam Negeri sampai akhirnya kami menikmati gaji pertama.
Kalau saja keruyukan perut bisa diganjal atau malah tidak diisi selama beberapa hari, tentu saja uang tidak yang dibawa dari kampung halaman akan cukup untuk hidup. Tetapi tidak, kalau hal ini dijalankan tentu akan membawa ke jurang berpenyakit yang akan lebih mahal lagi pengobatannya. Oleh karena itu, salah satu cara menghemat adalah tidak menggunakan uang untuk pakaian.
Maka pada bulan ketiga keberadaan di tempat tugas itu saya dapat dua kiriman, uang tambahan Rp. 75.000,- dan juga bungkusan. Tidak ada orang yang peduli ketika saya menerima uang yang besarnya setengah gaji sebulan. Berbeda sekali dengan bungkusan yang terbalut kertas coklat. Semua mata memandang sinis, keakraban yang tercipta selama dua bulan seperti sudah dilupakan.
Saya sama sekali tidak mengerti tentang cara pandang mereka, bahkan merasa sangat tertekan ketika seorang sahabat baru yang selama ini sangat akrab tiba-tiba menjadi sangar dan bersuara paling keras.
“Kiriman apa, mas ?”
“Mungkin hanya sepatu.”
“Ach, tidak mungkin !” Selanya. “Ayo dibuka !”
Sungguh hal ini sama sekali tidak dapat saya percaya, ketika saya menolak untuk membuka, mereka pun memaksa dan berhamburanlah segala isinya. Selimut, beberapa potong baju dan celana serta dalaman. Setelah itu, semua bubar begitu saja. Saya semakin tidak mengerti dengan sikap mereka.
“Kata saya juga apa !” Sahabat itu berkata dengan kerasnya.
Pergaulan akrab penuh persaudaraan yang selama itu tercipta seperti lenyap ditelan bumi. Saya sama sekali tidak mengerti mengapa semua ini harus terjadi. Tidak ada juga orang yang mau menjelaskan tentang apa yang menyebabkan mereka bersikap menjauh dari saya yang makin kebingungan.
Saya menyimpan kejadian yang membuat pergaulan menjadi tidak wajar itu sebagai kenangan sampai pada akhirnya seorang sahabat menjelaskan bahwa dimana pun orang merantau maka pantang dikirim pakaian.
Dan lebih mengejutkan, kalau ada pendapat bahwa kiriman yang saya terima, terutama celana dalam, bermakna ‘tantangan’ dan jangan kaget kalau di suatu saat banyak tantangan dan halangan yang menghadang.
Sungguh, sama sekali tidak ada niat untuk itu semua. Hanya demi menghemat rupiah yang sudah sangat menipis lah bingkisan itu hadir. Mungkin tidak ada yang percaya, tetapi kami merasakan sendiri kehidupan yang melebihi batas keprihatinan.
Tiga bulan pertama memulai tugas di Batusangkar, sekali lagi tanpa gaji sekalipun pada bulan ke-empat dapat rapelan, jangankan untuk membeli pakaian, makan pun super irit. Mulai dari merubah selera dari Indomie ke Supermie, sampai akhirnya ke mie keluaran baru yang harganya seperlima dari produk yang biasa dimakan.
Upaya mengirit yang sampai sekarang tidak pernah dilupakan adalah ketika hampir semua persediaan habis, nasi pun hanya beras yang direbus penggorengan sampai akhirnya menjadi nasi liwet yang kelewat berair. Sebagai lauknya, sangat mengundang selera, bawang merah dan cabe rawit. Kedua bahan mentah dicacah dan ditaburi garam. Rasanya sangat enak dan menyegarkan, sekaligus mengenyangkan.
Dengan kehidupan seperti itu selama lebih dari sebulan, tentu tidak lah mungkin saya mampu membeli keperluan lain. Itulah jalan hidup yang mesti dilalui karena memang sangat berarti.
Kembali kepada celana dalam, ketidakmengertian persepsi yang berlaku umum di sanalah yang menyebabkan kiriman itu terjadi. Tanpa niat lain, karena dari awal saya sudah diberi bekal bahwa tempat tugas yang baru adalah daerah percontohan otonomi daerah terbaik di Indonesia. Masyarakatnya taat agama, patuh pada adat dan merupakan daerah asal beberapa tokoh nasionalis dan agamis.
Di balik ketidakmengertian, saya sangat berterimakasih kepada isteri dan keluarga yang dengan susah payah mengirimkan paket sederhana itu, diiringi sejumlah uang pula. Tentu saja do’a yang tidak pernah ada hentinya.
Oleh karena itu saya segera dapat melupakan berbagai kejadian yang mengiringi pengiriman paket dan terus merajut persaudaraan. Dalam waktu singkat, secara kasat mata, suasana akrab kembali tercipta sebagaimana sebelumnya.
PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (1)
PERKENALAN DENGAN UKA-UKA
Sungguh hanya karena Allah memberikan yang terbaik bagi kami-lah kalau pada akhirnya saya harus bertugas jauh dari anak isteri. Berbekal Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri saya berddua dengan Endang Sumirat mengunjungi tempat yang sebelumnya tidak pernah kami ketahui, Kabupaten Tanah Datar. Bahkan di peta Indonesia nama ini tidak kami temukan. Oleh karena itu, ancer-ancer kami adalah Propinsi Sumatera Barat semata.
Singkat kata, kami pun akhirnya bertugas di Tanah Datar. Sebuah kabupaten dengan wilayah datar amat sedikit, hanya 5 prosen saja ! Di sanalah kami bertugas menjadi pengabdi rakyat untuk pertama kalinya. Banyak pelajaran diperoleh yang menjadi bekal bagi kami setelah pindah tugas di tanah kelahiran.
Namun demikian, pelajaran bukan semata hanya soal pekerjaan. Pelajaran yang sama sekali tidak akan dapat diperoleh dengan mudah adalah kehidupan yang ternyata penuh dengan misteri. Kehidupan yang sarat dengan uka-uka.
Mungkin sebagian orang akan mencemooh apa yang saya ceritakan, ada juga yang percaya dan tidak sedikit yang sangat mencaci sekalipun di balik layar menjalani.
Perjalanan menuju puluhan tulisan yang saya rencanakan berawal dari suatu kepercayaan. Sangat berarti bagi saya ketika mendapat seorang pejabat untuk menunggui rumahnya. Beliau dan keluarga ada acara keluarga di Jakarta selama beberapa hari. Kepercayaan inilah yang sangat berarti bagi kehidupan saya selanjutnya di luhak nan tuo.
Dibandingkan dengan rumah sekitarnya, di komplek perumahan dekat dengan terminal Batusangkar, rumah beliau relatif menonjol. Sudah direnovasi dengan meninggalkan bentuk rumah asli yang tinggal sedikit. Halaman rumah di depan cukup untuk parkir mobil dan disamping rumah pun terdapat tanah kosong yang dijadikan taman.
Tetapi ada yang aneh dengan taman di sisi rumah itu. Kalau siang seakan biasa tanpa masalah, tetapi kalau malam menjelang tampak relatif kelam. Padahal lampu yang menyinari cukup terang, 25 watt. Sangat terang untuk memberi sinar pada luasan yang tidak terlalu luas itu.
Tetapi hal itu tidak terlalu saya pikirkan karena memang kegiatan ‘penungguan’ terjadi di dalam rumah saja. Lagi pula tidak ada akses jendela ataupun pintu ke taman itu, kecuali harus berputar dulu ke depan. Hanya bertekad memegang teguh kepercayaan kalau akhirnya saya memberanikan diri untuk tinggal di rumah itu selama beberapa hari.
Satu-dua hari pertama tinggal di rumah cukup bagus itu membuat saya punya pengalaman baru. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati acara di televisi, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar membuka. Tak ada angin, hujan di luar pun tidak, tentu saja merinding bulu di kuduk. Tetapi saya mencoba menguatkan diri, tidur adalah kuncinya. Kejadian ini terjadi berturut-turut di dua hari pertama.
Hari ketiga, seperti biasa saya merasa tenang. Kejadian malam sebelumnya hanyalah ilusi yang segera dapat dilupakan. Semua pun menjadi sangat damai dan aman, sampai akhirnya menjelang teng jam 12 malam di depan mata terkelebat seorang lari masuk ke kamar. Aku yang selalu tidur di kursi tamu kontan mengejar bayangan itu, dan memang hanya sebuah bayangan yang akhirnya berhasil saya lupakan dengan mimpi indah sampai adzan subuh menjelang.
Paduan kedua kejadian silih berganti sampai akhirnya saya pun dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan. Sekali lagi, hanya tekad memegang amanah yang diberikan saya terus tinggal di rumah itu sampai penghuninya datang.
Saya menjadikan pengalaman hampir seminggu tinggal sendiri di rumah itu sebagai arsip kenangan yang tidak dipublikasikan. Cukup disimpan dalam hati. Kalaulah saya sampaikan, saya takut pemiliknya nanti malah terbirit-birit ketakutan atau bahkan sebaliknya menjadi bahan olok-olokan karena sama sekali jauh dari logika yang sehat.
Tetapi, dugaan sayalah yang sama sekali tidak benar. Beberapa hari setelah beliau datang dari Jakarta. Pada suatu malam saya diajak mengantar beliau ke suatu tempat yang sama sekali sangat asing. Menembus gelap pekarangan, jalan tanah yang sempit serta juga jurang dan tebing.
“Kamu percaya enggak dengan hal-hal yang aneh ?”
“Apa tuh, Pak ?”
“Kejadian-kejadian yang aneh di rumah saya.” Katanya, “Ada yang bilang dibuat orang tertentu.”
“Saya percaya, karena saya mengalaminya sendiri.”
Akhirnya saya pun bercerita banyak tentang yang saya alami di rumahnya, termasuk gelapnya taman sempit yang sudah diberi penerangan yang cukup itu. Beliau pun balik menceritakan tentang berbagai gangguan yang sudah menimbulkan berbagai penyakit dan ketenteraman penghuni rumahnya.
Hampir tengah malam, saya sampai di tujuan. Tidak terlalu banyak kata yang dapat saya mengerti dari percakapan yang dilakukan. Tetapi dalam hitungan menit, kami diajak Si Bapak ke suatu ruangan.
Di atas batok kelapa terdapat sebuah paku jureh (ukuran besar) dan selembar kulit lunak. Paku sepanjang dua belas sentimeter itu sudah berkarat. Sedangkan kulitnya mirip cecek (kulit) yang masih mentah, tanpa rambut/bulu, penuh dengan tanah. Lagi-lagi saya tidak mengerti ketika Si Bapak menjelaskan makna dari temuannya itu.
Tetapi di tengah jalan saya hanya mendapat informasi dari beliau bahwa dua barang itu diambil dari samping rumahnya. Keduanya dikirim oleh orang-orang yang tidak senang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki sekarang. Tidak disebutkan siapa mereka, ciri-cirinya sekalipun.
Saya tidak bertanya terlalu banyak sampai pada akhirnya, di atas jembatan beliau membuang benda yang ditemukan tersebut di air yang mengalir.
Perlu digambarkan di sini bahwa beliau bukanlah orang yang sembarangan, di balik kesederhanaannya terdapat keseriusan dalam berpikir dan bertindak karena beliau adalah tamatan PTN bergengsi kelas dunia dengan latar belakang keagamaan yang di atas rata-rata. Isterinya pun tidak kalah intelek, seorang dosen PTN Islam. Kedua keluarga asalnya, selain merupakan tokoh adat juga merupakan tokoh agama pembaharuan yang sangat disegani.
Saya menyimpulkan bahwa gangguan yang datang atas bantuan ghaib bisa diterima siapa saja, termasuk mereka yang tidak pernah lepas dari wudlu sekalipun. Kejadian aneh yang membahayakan orang lain pun ternyata bukan hanya milik orang daerah tertentu di Pulau Jawa. Di tanah kelahiran HAMKA pun ternyata kejadian itu jelas-jelas ada. Tinggal kitanya, mau tidak mengakui bahwa keghoiban itu memang merupakan bagian dari kehidupan yang Allah berikan.
Sungguh hanya karena Allah memberikan yang terbaik bagi kami-lah kalau pada akhirnya saya harus bertugas jauh dari anak isteri. Berbekal Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri saya berddua dengan Endang Sumirat mengunjungi tempat yang sebelumnya tidak pernah kami ketahui, Kabupaten Tanah Datar. Bahkan di peta Indonesia nama ini tidak kami temukan. Oleh karena itu, ancer-ancer kami adalah Propinsi Sumatera Barat semata.
Singkat kata, kami pun akhirnya bertugas di Tanah Datar. Sebuah kabupaten dengan wilayah datar amat sedikit, hanya 5 prosen saja ! Di sanalah kami bertugas menjadi pengabdi rakyat untuk pertama kalinya. Banyak pelajaran diperoleh yang menjadi bekal bagi kami setelah pindah tugas di tanah kelahiran.
Namun demikian, pelajaran bukan semata hanya soal pekerjaan. Pelajaran yang sama sekali tidak akan dapat diperoleh dengan mudah adalah kehidupan yang ternyata penuh dengan misteri. Kehidupan yang sarat dengan uka-uka.
Mungkin sebagian orang akan mencemooh apa yang saya ceritakan, ada juga yang percaya dan tidak sedikit yang sangat mencaci sekalipun di balik layar menjalani.
Perjalanan menuju puluhan tulisan yang saya rencanakan berawal dari suatu kepercayaan. Sangat berarti bagi saya ketika mendapat seorang pejabat untuk menunggui rumahnya. Beliau dan keluarga ada acara keluarga di Jakarta selama beberapa hari. Kepercayaan inilah yang sangat berarti bagi kehidupan saya selanjutnya di luhak nan tuo.
Dibandingkan dengan rumah sekitarnya, di komplek perumahan dekat dengan terminal Batusangkar, rumah beliau relatif menonjol. Sudah direnovasi dengan meninggalkan bentuk rumah asli yang tinggal sedikit. Halaman rumah di depan cukup untuk parkir mobil dan disamping rumah pun terdapat tanah kosong yang dijadikan taman.
Tetapi ada yang aneh dengan taman di sisi rumah itu. Kalau siang seakan biasa tanpa masalah, tetapi kalau malam menjelang tampak relatif kelam. Padahal lampu yang menyinari cukup terang, 25 watt. Sangat terang untuk memberi sinar pada luasan yang tidak terlalu luas itu.
Tetapi hal itu tidak terlalu saya pikirkan karena memang kegiatan ‘penungguan’ terjadi di dalam rumah saja. Lagi pula tidak ada akses jendela ataupun pintu ke taman itu, kecuali harus berputar dulu ke depan. Hanya bertekad memegang teguh kepercayaan kalau akhirnya saya memberanikan diri untuk tinggal di rumah itu selama beberapa hari.
Satu-dua hari pertama tinggal di rumah cukup bagus itu membuat saya punya pengalaman baru. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati acara di televisi, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar membuka. Tak ada angin, hujan di luar pun tidak, tentu saja merinding bulu di kuduk. Tetapi saya mencoba menguatkan diri, tidur adalah kuncinya. Kejadian ini terjadi berturut-turut di dua hari pertama.
Hari ketiga, seperti biasa saya merasa tenang. Kejadian malam sebelumnya hanyalah ilusi yang segera dapat dilupakan. Semua pun menjadi sangat damai dan aman, sampai akhirnya menjelang teng jam 12 malam di depan mata terkelebat seorang lari masuk ke kamar. Aku yang selalu tidur di kursi tamu kontan mengejar bayangan itu, dan memang hanya sebuah bayangan yang akhirnya berhasil saya lupakan dengan mimpi indah sampai adzan subuh menjelang.
Paduan kedua kejadian silih berganti sampai akhirnya saya pun dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan. Sekali lagi, hanya tekad memegang amanah yang diberikan saya terus tinggal di rumah itu sampai penghuninya datang.
Saya menjadikan pengalaman hampir seminggu tinggal sendiri di rumah itu sebagai arsip kenangan yang tidak dipublikasikan. Cukup disimpan dalam hati. Kalaulah saya sampaikan, saya takut pemiliknya nanti malah terbirit-birit ketakutan atau bahkan sebaliknya menjadi bahan olok-olokan karena sama sekali jauh dari logika yang sehat.
Tetapi, dugaan sayalah yang sama sekali tidak benar. Beberapa hari setelah beliau datang dari Jakarta. Pada suatu malam saya diajak mengantar beliau ke suatu tempat yang sama sekali sangat asing. Menembus gelap pekarangan, jalan tanah yang sempit serta juga jurang dan tebing.
“Kamu percaya enggak dengan hal-hal yang aneh ?”
“Apa tuh, Pak ?”
“Kejadian-kejadian yang aneh di rumah saya.” Katanya, “Ada yang bilang dibuat orang tertentu.”
“Saya percaya, karena saya mengalaminya sendiri.”
Akhirnya saya pun bercerita banyak tentang yang saya alami di rumahnya, termasuk gelapnya taman sempit yang sudah diberi penerangan yang cukup itu. Beliau pun balik menceritakan tentang berbagai gangguan yang sudah menimbulkan berbagai penyakit dan ketenteraman penghuni rumahnya.
Hampir tengah malam, saya sampai di tujuan. Tidak terlalu banyak kata yang dapat saya mengerti dari percakapan yang dilakukan. Tetapi dalam hitungan menit, kami diajak Si Bapak ke suatu ruangan.
Di atas batok kelapa terdapat sebuah paku jureh (ukuran besar) dan selembar kulit lunak. Paku sepanjang dua belas sentimeter itu sudah berkarat. Sedangkan kulitnya mirip cecek (kulit) yang masih mentah, tanpa rambut/bulu, penuh dengan tanah. Lagi-lagi saya tidak mengerti ketika Si Bapak menjelaskan makna dari temuannya itu.
Tetapi di tengah jalan saya hanya mendapat informasi dari beliau bahwa dua barang itu diambil dari samping rumahnya. Keduanya dikirim oleh orang-orang yang tidak senang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki sekarang. Tidak disebutkan siapa mereka, ciri-cirinya sekalipun.
Saya tidak bertanya terlalu banyak sampai pada akhirnya, di atas jembatan beliau membuang benda yang ditemukan tersebut di air yang mengalir.
Perlu digambarkan di sini bahwa beliau bukanlah orang yang sembarangan, di balik kesederhanaannya terdapat keseriusan dalam berpikir dan bertindak karena beliau adalah tamatan PTN bergengsi kelas dunia dengan latar belakang keagamaan yang di atas rata-rata. Isterinya pun tidak kalah intelek, seorang dosen PTN Islam. Kedua keluarga asalnya, selain merupakan tokoh adat juga merupakan tokoh agama pembaharuan yang sangat disegani.
Saya menyimpulkan bahwa gangguan yang datang atas bantuan ghaib bisa diterima siapa saja, termasuk mereka yang tidak pernah lepas dari wudlu sekalipun. Kejadian aneh yang membahayakan orang lain pun ternyata bukan hanya milik orang daerah tertentu di Pulau Jawa. Di tanah kelahiran HAMKA pun ternyata kejadian itu jelas-jelas ada. Tinggal kitanya, mau tidak mengakui bahwa keghoiban itu memang merupakan bagian dari kehidupan yang Allah berikan.
ACH, BULLSHIT ?
Sekali lagi, mungkin sudah ditakdirkan dari sononya kalau separuh kehidupan saya tidak jauh dari keanehan yang jauh dari logika. Sebutlah dalam bahasa yang mudah diingat sebagai santet. Sebuah fenomena yang oleh orang yang merasa dirinya modern dianggap sebagai mistik, sesuatu yang mustahil terjadi.
Sebagian dari pembaca mungkin akan mengatakan, “Tidak percaya !”, “Mustahil bin mustahal !”, “Klenik binti klenuk !” berbagai kata-kata lain yang menunjukkan ketidak-percayaan sampai umpatan, “Ach, Bullshit !”
Tetapi perlu diketahui bahwa perjalanan saya dalam mengalami kehidupan bernuansa uka-uka ini justeru berawal dari kehidupan di negeri yang terkenal fanatisme agama warganya sangat tinggi, demikian juga pola pikirnya dalam alam Islam modern. Sekalipun di sana saya dianggap hanya terpengaruh oleh budaya kejawen, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidaklah demikian.
Saya mengenal dunia hitam dari seorang sahabat, intelek lulusan PTN bergensi di Jawa Barat sebagai kelanjutan dari pendidikan awalnya di sebuah PTN di Kota Padang. Mereka hidup dalam keluarga yangluar biasa agamis, fanatik pada satu aliran islam modern. Sekali lagi, saya mulai mengenal dunia seperti itu dari beliau yang galau dengan berbagai gangguan di rumahnya.
Saya dan dua orang sahabat berdarah Jawa pun pada saatnya mengalami kejadian yang lebih menggetirkan, mulai sakit-sakit yang masih terobati oleh dokter sampai hal-hal di luar kewajaran serta ancaman yang mematikan. Seorang sahabat kami harus pergi ke alam barzah setelah sebelumnya meregang sakit dan derita tanpa tahu obatnya. Cobaan ini terus berlanjut sampai akhirnya saya diizinkan untuk mengurus pindah ke Pulau Jawa.
Kehidupan di tanah air kecil ini pun ternyata tidak lepas dari pengaruh yang secara akal sehat sulit dipikirkan itu. Padahal semula saya beranggapan bahwa di Indramayu orang-orang (terutama para pegawai) hanya menggunakan ilmu-ilmu seperti itu untuk pengasihan dan sebangsanya. Tetapi kenyataannya tidak, berbagai kejadian mengiringi, mulai dari yang efeknya tidak seberapa sampai yang bisa berakibat fatal dan mematikan.
Perkenalan saya dengan mistik dimulai ketika menolak menjadi bendaharan proyek milyaran rupiah. Kejadian aneh dimuali dari berjatuhannya kotoran kutu kayu dari langit-langit tanpa tanda-tanda lebih lanjut. Tetapi pada akhirnya, munculah kejadian luar biasa. Seorang raksasa masuk ke dalam tubuh, menguasai mulut dan berbagai organ lainnya.
Langkah-langkah kehidupan selanjutnya tidak juga berhenti beriring dengan berbagi keanehan. Penderitaan dan penyakit yang sering tanpa sebab serta tanpa obat yang jelas. Kapan dan bagaimana bisa disembuhkannya, lebih tidak jelas lagi.
Berbagai penyakit, mulai dari sekedar gata-gatal di kulit sampai menutup badan. Pernah juga kondisi badan sangat tidak menentu sampai harus menginap sepuluh hari di rumahsakit tanpa diketahui penyakitnya, berbagai penyakit silih berganti dituduhkan dan diobati. Sebuah eksperimen orang modern yang sangat menyakitkan karena setelah berbagai macam terapi dilaksanakan tanpa hasil, seorang tua memberi saran untuk memakan nanas. Alhamdulillah, badan segera terasa segar dan berbagai tanda yang menempel di kulit pun lenyap begitu saja.
Dokter-dokter dan dokter, acara mingguan yang pernah saya sekeluarga alami. Penyakit silih berganti, macam penyakit sekaligus penderitanya juga. Anak, isteri dan saya sendiri, lebih dari dua tahun mengalami kejadian yang sangat tidak diinginkan itu.
Tentu saja ada bosannya, apalagi menyadari bahwa berbagai obat yang diminum selama ini suatu saat akan terakumulasi menjadi sesuatu yang membahayakan diri. Obat tradisional sering menolong sekalipun pengaruhnya relatif lamban. Namun, biar lambat tetapi aman.
Seperti waktu hidup di Minangkabau, sekarang pun saya menemukan orang yang mempunyai kemampuan yang mirip. Ternyata berbagai bahan yang tidak disangka sebelumnya ada di sekitar rumah ada dimana-mana, di balik tempat tidur, di kamar mandi, di bawah pot bunga, di balik lemari sampai di atas langit-langit.
Perjalanan mengalami sendiri berbagai kejadian tersebut itulah yang saya coba ungkap dalam beberapa tulisan di : www.teluh.blogspot.com ini. Untuk memudahkan alur pikiran saya dalam menulis maka tulisan ini dibagi dalam 2, yaitu pengalaman misterius selama bertugas di Minangkabau Sumatera Barat dan setelah pulang ke Tanah Air Kecil tercinta, Indramayu.
Sebagian dari pembaca mungkin akan mengatakan, “Tidak percaya !”, “Mustahil bin mustahal !”, “Klenik binti klenuk !” berbagai kata-kata lain yang menunjukkan ketidak-percayaan sampai umpatan, “Ach, Bullshit !”
Tetapi perlu diketahui bahwa perjalanan saya dalam mengalami kehidupan bernuansa uka-uka ini justeru berawal dari kehidupan di negeri yang terkenal fanatisme agama warganya sangat tinggi, demikian juga pola pikirnya dalam alam Islam modern. Sekalipun di sana saya dianggap hanya terpengaruh oleh budaya kejawen, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidaklah demikian.
Saya mengenal dunia hitam dari seorang sahabat, intelek lulusan PTN bergensi di Jawa Barat sebagai kelanjutan dari pendidikan awalnya di sebuah PTN di Kota Padang. Mereka hidup dalam keluarga yangluar biasa agamis, fanatik pada satu aliran islam modern. Sekali lagi, saya mulai mengenal dunia seperti itu dari beliau yang galau dengan berbagai gangguan di rumahnya.
Saya dan dua orang sahabat berdarah Jawa pun pada saatnya mengalami kejadian yang lebih menggetirkan, mulai sakit-sakit yang masih terobati oleh dokter sampai hal-hal di luar kewajaran serta ancaman yang mematikan. Seorang sahabat kami harus pergi ke alam barzah setelah sebelumnya meregang sakit dan derita tanpa tahu obatnya. Cobaan ini terus berlanjut sampai akhirnya saya diizinkan untuk mengurus pindah ke Pulau Jawa.
Kehidupan di tanah air kecil ini pun ternyata tidak lepas dari pengaruh yang secara akal sehat sulit dipikirkan itu. Padahal semula saya beranggapan bahwa di Indramayu orang-orang (terutama para pegawai) hanya menggunakan ilmu-ilmu seperti itu untuk pengasihan dan sebangsanya. Tetapi kenyataannya tidak, berbagai kejadian mengiringi, mulai dari yang efeknya tidak seberapa sampai yang bisa berakibat fatal dan mematikan.
Perkenalan saya dengan mistik dimulai ketika menolak menjadi bendaharan proyek milyaran rupiah. Kejadian aneh dimuali dari berjatuhannya kotoran kutu kayu dari langit-langit tanpa tanda-tanda lebih lanjut. Tetapi pada akhirnya, munculah kejadian luar biasa. Seorang raksasa masuk ke dalam tubuh, menguasai mulut dan berbagai organ lainnya.
Langkah-langkah kehidupan selanjutnya tidak juga berhenti beriring dengan berbagi keanehan. Penderitaan dan penyakit yang sering tanpa sebab serta tanpa obat yang jelas. Kapan dan bagaimana bisa disembuhkannya, lebih tidak jelas lagi.
Berbagai penyakit, mulai dari sekedar gata-gatal di kulit sampai menutup badan. Pernah juga kondisi badan sangat tidak menentu sampai harus menginap sepuluh hari di rumahsakit tanpa diketahui penyakitnya, berbagai penyakit silih berganti dituduhkan dan diobati. Sebuah eksperimen orang modern yang sangat menyakitkan karena setelah berbagai macam terapi dilaksanakan tanpa hasil, seorang tua memberi saran untuk memakan nanas. Alhamdulillah, badan segera terasa segar dan berbagai tanda yang menempel di kulit pun lenyap begitu saja.
Dokter-dokter dan dokter, acara mingguan yang pernah saya sekeluarga alami. Penyakit silih berganti, macam penyakit sekaligus penderitanya juga. Anak, isteri dan saya sendiri, lebih dari dua tahun mengalami kejadian yang sangat tidak diinginkan itu.
Tentu saja ada bosannya, apalagi menyadari bahwa berbagai obat yang diminum selama ini suatu saat akan terakumulasi menjadi sesuatu yang membahayakan diri. Obat tradisional sering menolong sekalipun pengaruhnya relatif lamban. Namun, biar lambat tetapi aman.
Seperti waktu hidup di Minangkabau, sekarang pun saya menemukan orang yang mempunyai kemampuan yang mirip. Ternyata berbagai bahan yang tidak disangka sebelumnya ada di sekitar rumah ada dimana-mana, di balik tempat tidur, di kamar mandi, di bawah pot bunga, di balik lemari sampai di atas langit-langit.
Perjalanan mengalami sendiri berbagai kejadian tersebut itulah yang saya coba ungkap dalam beberapa tulisan di : www.teluh.blogspot.com ini. Untuk memudahkan alur pikiran saya dalam menulis maka tulisan ini dibagi dalam 2, yaitu pengalaman misterius selama bertugas di Minangkabau Sumatera Barat dan setelah pulang ke Tanah Air Kecil tercinta, Indramayu.
LANJUTKAN ....
Pembaca mungkin ada yang pernah berkunjung ke www.hiduppenuhmisteri.blogspot.com, di sanalah beberapa tulisan ini dulunya saya paparkan. Namun kemudian blog itu saya tutup mengingat sulit dilacak keberadaannya oleh pembaca. Oleh karena itu, supaya lebih gampang diingat, dikunjungi, dan didididididididi lainnya oleh pembaca maka digantilah menjadi blog yang satu ini.
Tentu saja selain memuat tulisan tua, blog ini juga akan sedapat mungkin memuat berbagai pengembaraan kehidupan pribadi saya selanjutnya. Penuh keganjilan dan ketidak-logisan.
Tetapi itulah hidup, mudah-mudahan saya terus bisa menulis di sini dan tetap LANJUTKAN ...!
Tentu saja selain memuat tulisan tua, blog ini juga akan sedapat mungkin memuat berbagai pengembaraan kehidupan pribadi saya selanjutnya. Penuh keganjilan dan ketidak-logisan.
Tetapi itulah hidup, mudah-mudahan saya terus bisa menulis di sini dan tetap LANJUTKAN ...!
Rabu, 13 Januari 2010
Hidup Adalah Misteri
Perjalanan kehidupan membawa saya mengarungi alam nyata dan tanpa krana. Bagi sebagian orang tentu hal ini hanyalah ilusi dan kebohongan, tetapi bagi saya yang mengalaminya sungguh sesuatu yang nyata.
Saya mengalaminya bukan hanya di tanah Jawa yang menurut mitos penuh dengan misteri tetapi juga ketiga beberapa tahun menetap di Ranah Minang. Bahkan dari sanalah saya memulai perjalanan kehidupan yang penuh misteri.
Pengalaman inilah yang akan saya bagi, bukan untuk pelajaran tetapi merupakan bahan diskusi yang mudah-mudahkan makin meramaikan misteri kehidupan.
Saya mengalaminya bukan hanya di tanah Jawa yang menurut mitos penuh dengan misteri tetapi juga ketiga beberapa tahun menetap di Ranah Minang. Bahkan dari sanalah saya memulai perjalanan kehidupan yang penuh misteri.
Pengalaman inilah yang akan saya bagi, bukan untuk pelajaran tetapi merupakan bahan diskusi yang mudah-mudahkan makin meramaikan misteri kehidupan.
Langganan:
Komentar (Atom)