KOPI PAHIT YANG MENANTANG
Saya termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan gula. Cukup menguntungkan bagi kesehatan tubuh gemuk yang menurut orang rentan dengan penyakit diabetes. Setidaknya, tubuh gembul tidak semakin membengkak dan mengalami obesitas.
Memang sering ada kendala, terutama kalau sedang berada di Jawa Tengah dan Yogyakarta misalnya. Jangankan yang mananya teh manis, berbagai makanan pun terasa kelewat bergula. Kalau bertamu, sudah pasti air gula menjadi konsumsi yang selalu tersedia disamping kue-kue yang sudah pasti manis.
Banyaknya warung-warung makan milik orang Jawa Tengah di seluruh wilayah nusantara, terutama komunitas perdagangan nasi yang dikenal sebagai Warteg (Warung Tegal), satu sisi memudahkan masyarakat mendapatkan makanan murah tetapi di sisi lain pemasyarakatan makanan manis khas mereka. Warteg adalah tempat termudah dan termurah bagi saya untuk mendapatkan makanan sesuai dengan kemampuan kantong yang terbatas.
Salah satu yang selalu saya minta jika makan di warung itu adalah pembatasan gula di minuman. Teh tawar alias tanpa gula, dengan es ataupun panas saja. Sekali-sekali secangkir kopi, dengan sedikit mungkin gula, alias kopi pahit.
Kpoi pahit kegemaran ini memang bagi sebagian teman yang pernah merasakan sangat pahit. Satu cangkir 250 ml, diberi 3 sendok kopi dan langsung diseduh air mendidih. Cukup satu sendok gula ditambahkan sambil diaduk merata. Bagian atas gelas segera dipenuhi ampas yang mengambang dan busa kopi yang khas. Sangat sedap diseruput panas-panas. Segelas kopi pahit tidak akan bertahan lama, sudah habis sebelum hangat.
“Saya, kopi pahit, Mba!” Inilah kali pertama saya nongkrong di warung Pujakesuma (Putera Jawa kelahiran Sumatera) di depan kantor Bupati Tanah Datar, Sumatera Barat.
Sebagai bagian dari keluarga Jawa, Si Mba tentu langsung menghidangkan kopi yang dipesan, kopi dengan sedikit gula saja. Tetapi yang mengherankan adalah bahwa semua mata orang yang di warung terus memandang saya menyeruput kopi panas yang masih terlalu manis itu.
Ach, mungkin mereka merasa aneh saja. Bukan karena tidak ada yang minum kopi di pagi hari, ada beberapa, tetapi sebagian besar menikmati susu panas atau teh telur.
Perlu digambarkan disini bahwa yang disebut susu panas, memang benar-benar susu, satu gelas kecil setengahnya diisi dengan susu kental dan diseduh air panas. Tentu sangat manis dan tidak akan pernah terlalu panas, cuma hangat.
Sementara teh telur adalah, telur yang dikocok, diberi susu dan Nutrisari, baru diseduh dengan air teh kental. Minuman ini sangat khas rasanya, sedikit anyir yang tersisa. Lebih khas lagi karena minuman ini jarang dijual di luar Minangkabau, sekalipun rumah makan minang.
Setiap saya memesan kopi pahit, semua mata memandang. Termasuk teman semeja. Ada juga yang geleng-geleng kepala. Sementara saya hanya terssenyum menikmati hingga di gelas hanya tersisi ampas saja. Kadang-kadang saya protes, terlalu manis, dan mententeng gelas ke ruang dapur. Menambahkan satu-dua sendok kopi sampai rasanya sesuai selera.
Mungkin juga mereka merasa aneh melihat saya yang menyantap kue bawang dengan cabe rawit, langsung gigit. Tidak kurang dari sepuluh cabe rawit dihabiskan untuk menemani sebuah kue bawang. Mereka menyebut saya seperti merak. Ada juga yang terheran-heran, ada yang lebih doyan pedas dibandinga mereka.
Dari beberapa kali pertemuan di warung itulah muncul keanehan yang mungkin harus saya pahami, mengapa semua mata memandang ketika saya menghabiskan kue bawang plus cabe dan seduhan kopi pahit. Teman yang ditanya tidak mau menjawab, entah mengapa.
Tetapi pada suatu waktu, teman serumah kos, Endang Sumirat bercerita bahwa tidak boleh sembarangan kalau pesan minuman. Terutama kopi.
“Jangan sekali-sekali pesan kopi pahit !”
Tentu hal ini mengherankan, karena saya biasa memesan kopi kegemaran yang satu ini jika sarapan pagi.
“Bagi masyarakat beberapa daerah di sini, kopi pahit bisa dianggap menantang,”
“Kenapa ?”
Ternyata teman yang satu ini mendapatkan informasi dari rekan yang lain, kalau kita memesan kopi pahit nanti yang dihidangkan adalah kopi beracun. Pesanan kopi pahit hanya dilakukan oleh para jawara yang kebal terhadap racun. Biasanya dilakukan untuk menunjukan kekuatan dan kesaktian. Dengan kata lain, tantangan buat orang yang ada di sekitarnya.
Saya benar-benar berigidig mendengar ceritanya. Sungguh di luar dugaan, pantas saja semua mata memandang kalau saya menyeruput kopi pahit. Ternyata mereka bukan tertarik dengan tambulan cabe rawit, sama sekali tidak. Mereka terheran-heran dengan kopi yang dipesan.
Sama sekali tidak ada niatan untuk menunjukan kesaktian dan kekuatan, karena memang tidak punya. Apalagi menantang, sama sekali tidak terbesit sedikitpun dalam pikiran. Pesanan kopi pahit, murni hanya karena ketidaktahuan makna yang berbeda bagi masyarakat tempat tugas kami yang baru ini.
Sejak itulah saya tidak lagi menggunakan istilah kopi pahit, menggantikannya dengan kopi kental atau kopi dengan gula sedikit.
Atau, cukup mengatakan, “Kopi, biasa !”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar