Minggu, 04 April 2010

PERJALANAN HIDUP DI MINANGKABAU (1)

PERKENALAN DENGAN UKA-UKA

Sungguh hanya karena Allah memberikan yang terbaik bagi kami-lah kalau pada akhirnya saya harus bertugas jauh dari anak isteri. Berbekal Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri saya berddua dengan Endang Sumirat mengunjungi tempat yang sebelumnya tidak pernah kami ketahui, Kabupaten Tanah Datar. Bahkan di peta Indonesia nama ini tidak kami temukan. Oleh karena itu, ancer-ancer kami adalah Propinsi Sumatera Barat semata.
Singkat kata, kami pun akhirnya bertugas di Tanah Datar. Sebuah kabupaten dengan wilayah datar amat sedikit, hanya 5 prosen saja ! Di sanalah kami bertugas menjadi pengabdi rakyat untuk pertama kalinya. Banyak pelajaran diperoleh yang menjadi bekal bagi kami setelah pindah tugas di tanah kelahiran.
Namun demikian, pelajaran bukan semata hanya soal pekerjaan. Pelajaran yang sama sekali tidak akan dapat diperoleh dengan mudah adalah kehidupan yang ternyata penuh dengan misteri. Kehidupan yang sarat dengan uka-uka.
Mungkin sebagian orang akan mencemooh apa yang saya ceritakan, ada juga yang percaya dan tidak sedikit yang sangat mencaci sekalipun di balik layar menjalani.
Perjalanan menuju puluhan tulisan yang saya rencanakan berawal dari suatu kepercayaan. Sangat berarti bagi saya ketika mendapat seorang pejabat untuk menunggui rumahnya. Beliau dan keluarga ada acara keluarga di Jakarta selama beberapa hari. Kepercayaan inilah yang sangat berarti bagi kehidupan saya selanjutnya di luhak nan tuo.
Dibandingkan dengan rumah sekitarnya, di komplek perumahan dekat dengan terminal Batusangkar, rumah beliau relatif menonjol. Sudah direnovasi dengan meninggalkan bentuk rumah asli yang tinggal sedikit. Halaman rumah di depan cukup untuk parkir mobil dan disamping rumah pun terdapat tanah kosong yang dijadikan taman.
Tetapi ada yang aneh dengan taman di sisi rumah itu. Kalau siang seakan biasa tanpa masalah, tetapi kalau malam menjelang tampak relatif kelam. Padahal lampu yang menyinari cukup terang, 25 watt. Sangat terang untuk memberi sinar pada luasan yang tidak terlalu luas itu.
Tetapi hal itu tidak terlalu saya pikirkan karena memang kegiatan ‘penungguan’ terjadi di dalam rumah saja. Lagi pula tidak ada akses jendela ataupun pintu ke taman itu, kecuali harus berputar dulu ke depan. Hanya bertekad memegang teguh kepercayaan kalau akhirnya saya memberanikan diri untuk tinggal di rumah itu selama beberapa hari.
Satu-dua hari pertama tinggal di rumah cukup bagus itu membuat saya punya pengalaman baru. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati acara di televisi, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar membuka. Tak ada angin, hujan di luar pun tidak, tentu saja merinding bulu di kuduk. Tetapi saya mencoba menguatkan diri, tidur adalah kuncinya. Kejadian ini terjadi berturut-turut di dua hari pertama.
Hari ketiga, seperti biasa saya merasa tenang. Kejadian malam sebelumnya hanyalah ilusi yang segera dapat dilupakan. Semua pun menjadi sangat damai dan aman, sampai akhirnya menjelang teng jam 12 malam di depan mata terkelebat seorang lari masuk ke kamar. Aku yang selalu tidur di kursi tamu kontan mengejar bayangan itu, dan memang hanya sebuah bayangan yang akhirnya berhasil saya lupakan dengan mimpi indah sampai adzan subuh menjelang.
Paduan kedua kejadian silih berganti sampai akhirnya saya pun dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan. Sekali lagi, hanya tekad memegang amanah yang diberikan saya terus tinggal di rumah itu sampai penghuninya datang.
Saya menjadikan pengalaman hampir seminggu tinggal sendiri di rumah itu sebagai arsip kenangan yang tidak dipublikasikan. Cukup disimpan dalam hati. Kalaulah saya sampaikan, saya takut pemiliknya nanti malah terbirit-birit ketakutan atau bahkan sebaliknya menjadi bahan olok-olokan karena sama sekali jauh dari logika yang sehat.
Tetapi, dugaan sayalah yang sama sekali tidak benar. Beberapa hari setelah beliau datang dari Jakarta. Pada suatu malam saya diajak mengantar beliau ke suatu tempat yang sama sekali sangat asing. Menembus gelap pekarangan, jalan tanah yang sempit serta juga jurang dan tebing.
“Kamu percaya enggak dengan hal-hal yang aneh ?”
“Apa tuh, Pak ?”
“Kejadian-kejadian yang aneh di rumah saya.” Katanya, “Ada yang bilang dibuat orang tertentu.”
“Saya percaya, karena saya mengalaminya sendiri.”
Akhirnya saya pun bercerita banyak tentang yang saya alami di rumahnya, termasuk gelapnya taman sempit yang sudah diberi penerangan yang cukup itu. Beliau pun balik menceritakan tentang berbagai gangguan yang sudah menimbulkan berbagai penyakit dan ketenteraman penghuni rumahnya.
Hampir tengah malam, saya sampai di tujuan. Tidak terlalu banyak kata yang dapat saya mengerti dari percakapan yang dilakukan. Tetapi dalam hitungan menit, kami diajak Si Bapak ke suatu ruangan.
Di atas batok kelapa terdapat sebuah paku jureh (ukuran besar) dan selembar kulit lunak. Paku sepanjang dua belas sentimeter itu sudah berkarat. Sedangkan kulitnya mirip cecek (kulit) yang masih mentah, tanpa rambut/bulu, penuh dengan tanah. Lagi-lagi saya tidak mengerti ketika Si Bapak menjelaskan makna dari temuannya itu.
Tetapi di tengah jalan saya hanya mendapat informasi dari beliau bahwa dua barang itu diambil dari samping rumahnya. Keduanya dikirim oleh orang-orang yang tidak senang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki sekarang. Tidak disebutkan siapa mereka, ciri-cirinya sekalipun.
Saya tidak bertanya terlalu banyak sampai pada akhirnya, di atas jembatan beliau membuang benda yang ditemukan tersebut di air yang mengalir.
Perlu digambarkan di sini bahwa beliau bukanlah orang yang sembarangan, di balik kesederhanaannya terdapat keseriusan dalam berpikir dan bertindak karena beliau adalah tamatan PTN bergengsi kelas dunia dengan latar belakang keagamaan yang di atas rata-rata. Isterinya pun tidak kalah intelek, seorang dosen PTN Islam. Kedua keluarga asalnya, selain merupakan tokoh adat juga merupakan tokoh agama pembaharuan yang sangat disegani.
Saya menyimpulkan bahwa gangguan yang datang atas bantuan ghaib bisa diterima siapa saja, termasuk mereka yang tidak pernah lepas dari wudlu sekalipun. Kejadian aneh yang membahayakan orang lain pun ternyata bukan hanya milik orang daerah tertentu di Pulau Jawa. Di tanah kelahiran HAMKA pun ternyata kejadian itu jelas-jelas ada. Tinggal kitanya, mau tidak mengakui bahwa keghoiban itu memang merupakan bagian dari kehidupan yang Allah berikan.

1 komentar: