MALAM YANG MENEGANGKAN
Pertengahan tahun 1997 adalah awal saya bertugas di BAPPEDA Kabupaten Tanah Datar. Sekali lagi, kenangan terindah adalah karena saya sama sekali tidak tahu daerah tempat tugas itu. Bahkan di peta nasional pun, kabupaten berprestasi itu tidak disebutkan keberadaannya.
Suatu keberuntungan atau kebetulan kalau pada saat itu terjadi perubahan teknologi yang digunakan di kantor. Kalau dari mesin tik ke komputer sudah lama berlangsung. Keberhasilan yang utama tentu saja menganggap bahwa komputer itu sebagai mesin tik, alias tidak terlalu banyak membantu kecuali hanya sekedar tampak lebih rapih saja.
Perubahan teknologi yang terjadi saat itu adalah mulai digunakannya produk Microsoft Corporation. Untuk surat-surat dan produk lain yang ditandatangan Bupati, tidak lagi digunakan print-out dari WS. Ada operator khusus untuk mengoperasikannya, hanya satu orang. Komputer terbaru itu pun diletakkan di ruangan Ketua.
Sebuah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Berbekal buku-buku tentang Word saya mulai mencuri kesempatan untuk belajar sendiri. Menjelang isya saya pergi ke kantor, setahap demi setahap belajar secara mandiri.
Tidak jarang kantor jadi geger esok harinya, ada yang kehilangan file, ada yang merasa bahwa komputer akan cepat rusak karena dimatikan tidak sesuai dengan prosedur dan berbagai bentuk lainnya. Sampai pada suatu hari saya harus menerima semprot dari penanggungjawab.
“Kamu merusak komputer ya ?” Saya hanya bisa terdiam, “Tidak boleh menggunakan komputer di ruang Ketua selain operator khusus !” Lanjutnya dengan nada kesal.
Saya sangat menghargai beliau yang sangat patuh pada aturan, sesuai dengan Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berlaku. Tetapi saya sangat tidak setuju kalau ada larangan untuk belajar.
Itulah sebabnya, nasehat itu segera saya langgar malam harinya. Tentu bekal berbagai pengetahuan tambahan mengoperasikan Microsoft Word sudah disiapkan lebih terinci dan lengkap. Satu buku tebal teori sudah diringkas menjadi diagram alur yang sangat mudah dijalankan.
Namun ternyata tidak semudah ketika membaca dan meringkas isi buku, beberapa bagian menjadi sedikit berbeda dan membingungkan. Tetapi bukan itu yang menjadi masalah utama. Listrik tiba-tiba mati. Aktifitas pun harus segera berhenti. Waktu itu sekitar pukul 10 malam, tanpa penerangan sedikit pun. Ataupun teman, karena penjaga kantor sedang pulang dulu ke rumahnya. Seperti biasa, menjelang tengah malam beliau baru ke kantor lagi.
Bau kemenyam sangat menyengat. Kemenyan pertama yang saya cium di Ranah Minang. Kebetulan malam jum’at saja, pikir dalam hati untuk menenangkan diri. Tetapi rambut sekujur tubuh berdiri, merinding. Saya hanya bisa membaca surat-surat pendek dari Al-Qur’an yang terhafal. Merinding, merinding dan makin merinding. Kaki mulai bergetar.
Tidak terdengar suara apapun. Suasana sangat sepi dan mencekam. Memang kantor kami yang berada di samping Istana Pagaruyung itu, jangankan malam hari, siang pun hanya ramai pada saat jam kerja saja. Letaknya yang berada di tempat terendah di belakang Kantor Bupati yang megah membuat suasana semakin angker.
Berbagai cerita kejadian aneh di kantor yang diceritakan teman-teman membuat bulu kuduk makin merinding. Ada cerita tentang wanita cantik yang sering muncul menggoda penjaga kantor , berbagai penampakan lain yang sama sekali sebelumnya tidak pernah saya bayangkan dan sebagainya. Memang letak kantor sangat strategis untuk tinggalnya para dedemit, diapit oleh Istano Pagaruyung dan tanah kosong yang sangat luas. Tertindih kemewahan Kantor Bupati dan dibelakang berdiri tegar tebing curam tempat bersemayamnya para arwah leluhur.
Lebih dari satu jam listrik belum juga menyala. Di luar pun suasan begitu gelap gulita. Stres berat, menggigil, keringat dingin keluar tak tertahankan melawan kedinginan Kota Batusangkar yang menusuk tubuh.
Tiba-tiba listrik pun menyala, alhamdulillah. Semangat belajar segera melupakan kepul asap kemenyan serta berbagai rasa takut dan keringat dingin yang keluar. Belajar dan belajar, sampai akhirnya tengah malam pun datang menjemput.
Menjelang tengah malam, penjaga kantor datang. Tidak sedikit pun saya ceritakan tentang kejadian sangat menakutkan yang baru saja terjadi. Seakan semua tidak ada masalah.
Malam-malam senajutnya saya terus belajar untuk bisa menguasai Microsoft Word sampai akhirnya mereka yang semula mencaci akhirnya banyak minta tolong untuk dibantu pengetikan dengan komputer baru itu. Setiap permintaan bantuan yang mungkin bagi sebagian orang bisa dianggap merendahkan derajat itu, saya anggap sebagai bentuk praktek yang menantang untuk meningkatkan imu lagi.
Sikap pasrah inilah yang kemudian membuat penjaga kantor berterus terang, mengenang malam jum’at yang menakutkan itu tanpa ditanya sebelumnya.
“Malam itu, sekitar jam 11 saya ke sini melihat Mr. K sedang menggali di kegelapan,” katanya perlahan. “Saya hanya mengamati dari jauh sampai akhirnya dia pulang.”
Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cerita itu. Bahkan tidak terdengar suara apapun malam itu, kecuali suara burung malam yang membuat kegelapan menjadi lebih menakutkan.
“Begitu dia pulang,” lanjutnya, “Saya segera gali bekas galian Mr. K dan mendpatkan jeruk.”
Saya semakin tidak mengerti arti semua itu, “Langsung saya kencingi dan buang jauh-jauh !”
Lagi-lagi saya menjadi makin bodoh dan tidak mengerti, “Kalau saja tidak ketahuan, bisa-bisa Mas langsung KO!”
Sekali lagi saya semakin bodoh, tidak mengerti dan tidak bisa berpikir cerdas seperti penjaga kantor.
“Mas, siangnya ada masalah kan dengan dia ?” Sebuah pertanyaan yang sama sekali mestinya tidak tida ketahui.
“Ach, nggak.”
“Nggak mungkin !”
Sungguh, akhirnya saya mengakui kalau pada kamis paginya beliau menegur dengan kata-kata keras. Intinya saya tidak boleh menggunakan komputer di ruang Ketua. Nanti rusak, kalau sudah rusak maka yang bertanggungjawab kepada pimpinan adalah beliau. Ketua akan marah kepada beliau !
Tetapi saya adalah orang bandel, tidak boleh memakai komputer itu malah menjadikannya untuk terus belajar. Bahkan malam hari setelah ditegur pun langsung melanggar.
“Itulah Mas, kalau tidak berani dari depan, mereka menusuk dari belakang !” Kata-kata ini pun membuat saya semakin tidak berpengetahuan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bagaimana kabar sang penjaga kantor sekarang yah ?
BalasHapus